Press "Enter" to skip to content

Menelusuri Jejak Gelumpai: Naskah Kuno dari Bumi Sriwijaya, Palembang

Waktu Baca:2 Menit, 58 Detik

Kota Palembang dengan julukannya “Bumi Sriwijaya” telah dikenal dengan beragam kekayaannya. Dimulai dari makanan khasnya, yaitu Pempek yang dikenal di hampir seluruh wilayah Indonesia, slogan khas “Wong Kito Galo”, hingga keberagaman naskah-naskah kuno yang ada sejak zaman kerajaan Sriwijaya. Keberagaman tersebut dapat dilihat dari banyaknya macam, bentuk aksara, cara penulisannya, hingga media atau tempat yang digunakan untuk menuliskan naskah-naskah tersebut.  Naskah-naskah itu kebanyakan menceritakan tentang peristiwa sejarah, mantera-mantera, kondisi masyarakat pada zaman dahulu, hingga berisi tentang ajaran-ajaran agama Islam.

Naskah-naskah kuno Palembang banyak tersimpan di museum-museum yang ada di kota Palembang dan ada juga yang di simpan pribadi oleh orang-orang tertentu. Salah satu museum yang menyimpan naskah kuno tersebut adalah museum Balaputradewa yang beralamatkan di Jl. Srijaya No.1, Rw.5, Srijaya, Kec. Alang-Alang Lebar, Kota Palembang, Sumatera Selatan. Naskah yang disimpan di museum tersebut oleh masyarakat Palembang disebut dengan Gelumpai, yang memiliki nomor penyimpanan koleksi 07.17 dan nomor inventaris 17.41.

Gelumpai adalah salah satu naskah kuno yang bermedia dari bambu betung atau Dendrocalamus Aspergillus. Jenis bambu ini cocok digunakan karena karakteristiknya yang tegak, kokoh, ruas-ruasnya jelas dan bisa mencapai tinggi 30 meter. Naskah ini berbentuk Aksara Ulu atau Ka-Ga-Nga yang merupakan akulturasi dari budaya Jawa dan budaya Lokal Huluan Palembang. Naskah ini terdiri dari 14 bilah bambu dan 17 baris, panjang bilah mencapai 30 cm dengan lebar 5 cm.

Kondisi masyarakat Huluan dan Ilir Palembang yang berbeda baik secara wilayah geografis ataupun kondisi sosial politik membuat masyarakat di daerah Huluan Palembang tertinggal dari masyarakat Ilir Palembang karena wilayah tersebut termasuk wilayah pedalaman dan jauh dari pusat Kesultanan Palembang Darussalam.

Melihat hal ini, para Ulama dari Kesultanan Palembang Darussalam pada abad 16-17 Masehi, membuat naskah Gelumpai ini sebagai salah satu media Islamisasi masyarakat Huluan Palembang. Naskah ini menceritakan tentang  karakter sosial nabi  Muhammad SAW. Hal ini terlihat dari salah satu teks pada bilah bambu ke-4 :

Ra kadi mutiyara. Lan tulis waliket kang tangen Lailahaiellah. Lan tulis waliket nira kang kiwa muhammat dan rasulullah. Lan wulu nira kadi kumkum. Lan wudel niara sari cahya. Lan pupu nira benir tekin wetis. Yin nabi Muhammat lumaku ing dadalan abanget. Lan sapekecapan nira misam pamawa bisa”

Terjemah Bahasa Indonesia bilah ke-4

“Bagai mutiara. Dan di sebelah kanan tertulis “Lailahaillah” dan di sebelah kiri “Muhammadarrasulullah”. Dan bulu beliau seperti (kumkum). Dan pusar beliau sari cahaya. Dan paha beliau berkilau sampai betis. Jika nabi Muhammad berjalan gagah dan senyumnya berbisa”

Dari teks diatasi dapat dipahami bahwa naskah Gelumpai ini memang sebagi media Islamisasi oleh para Ulama kesultanan Palembang Darussalam untuk masyarakat Huluan Palembang sebagai upaya penyebaran agama Islam di daerah tersebut.

Selain itu, naskah ini juga menceritakan tentang hemogoni di daerah Kesultanan Palembang Darussalam. Hal ini tertera pada teks dalam bilah ke-7.

“Wangi. Lan karinget nira lunglungan kasturi. Lan abecik sewara nira angucap nura-ti-ti-bing tanduk angandika manis. Lan pangnguluning Weng sagala islam. Lan amimati agamaislam. Lan anutuh aken weng kasasar ing dadalam kang abener. Lan asih ing tamuwan ajaken ing kardi Islam agama sariyat. Kan angaduhakeng saking kapir”

Terjemah teks ke Bahasa Indonesia pada bilah ke-7

“Harum. Dan keringat beliau (lunglungan) kasturi. Dan suara beliau mengucap kata-kata dengan manis. Dan pemimpin umat Islam. Dan menunjukkan orang-orang menuju jalan yang benar. Dan mengasihi mereka yang menjadikan Islam sebagai agama syariat, dan menjauhkan dari kafir”

Dalam bilah tersebut, secara tidak langsung menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang menyeru pada kebaikan dan juga menunjukkan eksistensi Kesultanan Palembang Darussalam sebagai kerajaan Islam di bumi Sriwijaya.

Facebook Comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *