Press "Enter" to skip to content

Mengapa Mengaji Menjadi Terlupakan?

Waktu Baca:3 Menit, 36 Detik

Tak terasa, Indonesia telah merdeka sejak 75 tahun yang lalu. Para penjajah pun sudah lama tidak berkeliaran di negeri tercinta ini. Bahkan, saat ini negara sudah merasa berada pada era yang sangat maju jika dibandingkan dengan puluhan tahun yang lalu. Ratusan burung besi yang beratnya hingga ratusan ton terbang mengelilingi bumi nusantara pun sudah tidak dianggap tabu lagi, tandanya Indonesia memang telah berada pada era yang jauh lebih maju dari era kolonialisme. Teknologi-teknologi canggih, seperti smartphone, televisi dengan layar yang super tipis, komputer yang bisa dibawa kemana-mana, hingga sekian banyak bangunan pencakar langit yang tak dikhawatirkan lagi akan roboh sewaktu-waktu menjadi hal yang dianggap biasa pada masa ini. Dengan menyaksikannya, tentu tidak ada satupun yang bisa menganggap Indonesia tidak ada kemajuan. Jika ada yang mengatakan hal demikian, tentunya dapat disimpulkan “dia tidak bisa menganalisa”.

Walaupun demikian, kemajuan yang sangat pesat dalam bidang teknologi ternyata tidak berperan besar dalam bidang keagamaan. Hal ini, dikarenakan kesadaran akan pentingnya Ilmu keagamaan terutama mengaji al-Quran sangat rendah. Tak jarang, Taman Pengajian al-Quran (TPA/TPQ) hanya dihuni oleh para ustadz/ustadzah dengan santri yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Itupun jika harus dilakukan survei, hanya sebagian kecil dari mereka yang hadir setiap hari tanpa absen dalam pembelajaran tersebut.



Jika memang pilihan mereka adalah belajar al-Quran melalui privat atau online (youtube, aplikasi pembelajaran, dan lain-lain) tentunya sangat baik dan patut diacungi jempol, karena bisa disimpulkan berarti teknologi berhasil dalam meningkatkan minat para generasi muda untuk mengaji al-Quran. Namun, permasalahannya sekarang, mereka yang memanfaatkan teknologi untuk menambah keahlian mereka dalam membaca al-Quran sangat minim jika dibandingkan dengan yang memanfaatkannya hanya untuk bermain game online/sosial media semata. Tentu miris sekali jika para pahlawan kita yang dahulu bersusah payah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia harus menyaksikan bangsanya lupa akan jiwa pahlawannya. Para pahlawan yang sebagian besar ialah santri yang rajin mengaji al-Quran.

Ibu Isti, sebagai salah seorang pengajar di salah satu TPA di Kecamatan Prambanan, Jawa Tengah mengatakan bahwa donatur untuk pengembangan potensi anak terutama dalam hal membaca al-Quran di desanya sangatlah banyak. Anak-anak tidak dipungut biaya untuk ikut belajar mengaji al-Quran. Bahkan, tidak jarang di saat mengaji dibawakan makanan gratis dan hadiah bagi yang aktif dalam pembelajaran sebagai penarik minat anak-anak untuk belajar. Namun, sepertinya hal itu masih belum mengena di hati anak-anak. Masih ada juga anak-anak yang enggan untuk hadir mengaji di TPA. Menurutnya hal ini sangat membingungkan. Bagaimana bisa kesadaran akan kebutuhan terhadap ajaran agama sangatlah kurang padahal teknologi sudah semakin canggih, semua hal dapat dengan mudah diakses hanya dengan sekali klik.

Kurangnya kesadaran akan kebutuhan mengaji ini ternyata dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satunya ialah penggunaan internet yang tidak dibatasi. Penggunaan internet yang tidak dikondisikan dapat berperan aktif dalam perubahan sikap seorang anak. Jika tidak dikelola dengan baik, anak dapat dengan mudahnya meniru setiap perbuatan yang ada di riwayat tontonannya. Hal ini tentunya tidak menutup kemungkinan bagi perbuatan yang tidak semestinya dicontoh. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan peran serta dan dukungan dari orang tua untuk membatasi anak-anak dalam aktivitasnya di dunia maya. Sehingga, jika ingin anak-anaknya semangat mengaji al-Quran para orang tua diharapkan untuk mengontrol penggunaan internet hanya untuk hal-hal yang baik terutama dalam hal keagamaan.



Tidak hanya itu, sebenarnya faktor terbesar ialah ada pada ajaran yang diajarkan oleh orang tua masing-masing anak. Memang sangat benar pepatah “al-Ummu Madrasatul al-Uula” yakni Ibu adalah Sekolah yang pertama. Maka, jangan paksakan anak untuk semangat membaca al-Quran jika orang tuanya sendiri enggan membiasakannya di rumah. Oleh karena itu, mulailah dari sekarang untuk membiasakan diri membaca al-Quran, dengan begitu anak menjadi lebih penasaran dan ingin mencoba hal yang setiap hari disaksikannya di rumah.

Kemudian, faktor lain yang mempengaruhi kurangnya minat anak-anak dalam mengaji al-Quran ialah metode pembelajaran. Anak-anak yang kita kenal sekarang ialah generasi milenial, yang mana merupakan anak-anak yang terbiasa dengan peningkatan penggunaan dan keakraban dengan komunikasi, media dan teknologi digital. Sepertinya, pemanfaatan teknologi digital dalam proses pembelajarn al-Quran dapat meningkatkan minat anak-anak untuk mempelajarinya. Contohnya, dengan menambahkan video-video tutorial membaca al-Quran yang menarik di sela-sela pengajian al-Quran. Dengan begitu, belajar al-Quran menjadi tidak monoton dengan hal yang itu-itu saja. Semoga bermanfaat. Terima kasih.

Facebook Comments
Latest posts by Nada Dhiyaul Haq (see all)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *