Mengenal Habib Ali Masyhur: Mufti Tarim yang Alim, kakak dari Habib Umar bin Hafidz

Habib Ali Masyhur atau bernama lengkap Habib Ali Masyhur bin Muhammad bin Salim bin Hafizh bin Abdullah bin Abu Bakar bin Aydarus bin Umar bin Aydarus bin Umar bin Aydarus bin al-Husein bin Al-syeikh al-Hakhr Abu Bakar bin Salim.

Beliau merupakan kakak dari Habib Umar bin Hafizh. Ayah beliau menamainya dengan “al-Masyhur” yang di ambil dari nama kakeknya dari pihak ibu sekaligus guru dari ayahnya sendiri yakni Habib Ali bin Abdur Rahman al-Masyhur, seorang ulama besar waktu itu. Habib Ali Masyhur juga dilahirkan di kota Tarim pada tanggal 13 Ramadhan 1358 H (5 November 1939).

Habib Ali Masyhur atau yang sejak kecil kerap dipanggil “Habib Masyhur” dibesarkan di lingkungan yang sarat akan ilmu agama. Semenjak kecil, beliau digembleng di bawah didikan dan asuhan ayahnya, Habib Muhammad dan juga kakeknya Habib Salim bin Hafizh. Pada usia 7 tahun beliau sudah menamatkan pendidikan di sekolah tahfizh Quran Abu Murayyam dan mulai belajar di Ribat, Tarim pada tahun 1365 H (1946 M).

Baca juga: Program Beasiswa Santri 2020 Resmi dibuka!

Di antara guru- guru beliau Adalah syekh Mafuzh bin Usman dan Syekh Salim bin Said Bukayyir. Pada tahun 1375 H ayahnya mengarahkanya untuk menemani dan merawat kakeknya Habib Salim di tahun-tahun terakhir hidupnya. Sembari menimba ilmu dan mendapatkan bimbingan rohani selama kurang lebih dua tahun, hingga kakeknya wafat pada tahun 1377 H.

Habib Masyhur terus melanjutkan pendidikannya dengan belajar kepada para ulama hebat. Diantaranya adalah Habib Abdullah bin Abdurohman bin Syeikh Abu Bakar bin Salim, Syekh Muhammad At tabbani, Sayyid Alawi bin Abbas Al maliki, Sayyid Muhammad Amin Kutbi, dan Syekh Hasan Al mashat.

Pada tahun 1387 H (1967 M), rezim sosialis berkuasa di Yaman Selatan. Rezim ini berusaha membasmi ajaran Islam di kalangan masyarakat di negeri itu. Para ulamapun menjadi korban keganasan rezim ini. Demi mewujudkan tujuannya, ulama dianggap sebagai ancaman dan hambatan hingga akhirnya banyak di antara para ulama yang diculik dan dibunuh.

Salah satu ulama yang menjadi korban kekejaman rezim sosialis ini ialah Habib Muhammad bin Salim, ayah dari Habib Ali Masyhur. Persitiwa ini terjadi pada tahun 1392 H (1973 M). Habib Muhammad di culik dan dibunuh secara kejam. Kejadian inipun meninggalkan luka yang mendalam di hati keluarganya, termasuk anaknya Habib Ali Masyhur yang pada saat itu berada di luar kota.

Pada tahun 1395 H (1975), Habib Masyhur kembali dan menetap di Tarim, ia menggantikan ayahnya mengisi kajian agama dan majelis ilmu. Dan secara bertahap juga membuka kembali kegiatan-kegiatan keagamaan yang sebelumnya banyak yang ditutup oleh rezim sebelumnya.

Semenjak kembali ke Tarim, beliau diangkat menjadi imam masjid besar di sana. Kemudian juga memainkan peran penting dalam restorasi dan melestarikan naskah-naskah penting yang telah di ambil oleh rezim sosialis dari sekolah-sekolah dan rumah para ulama. Naskah itu kini sudah di tempatkannya di perpustakaan masjid. Selain itu, beliau juga memimpin penyusunan pohon silsilah keluarga keturunan Nabi Muhammad di Hadhramaut.

Baca juga: Imam al-Ghazali dan Kebenaran sebagai Proses Refleksi Ngaji Al-Munqidz Min al-Dhalal

Setelah runtuhnya rezim sosialis pada tahun 1410 H (1990 M), Habib Ali Masyhur berperan dalam pembukaan kembali Ribat Tarim dan juga mengajar di sana. Kemudian bekerjasama dengan adiknya, Habib Umar bin Hafizh untuk mendirikan Dar al-Musthofa yang secara resmi dibuka pada tahun 1414 H (1994 M).

Di sana beliau menjadi direktur dan guru bagi mahasiswa tingkat lanjut. Selain mengajar di Dar al-Musthofa, Habib Ali Masyhur juga mengajar di Universitas Al-ahqof, Yaman selama kurang lebih empat tahun. Kemudian pada tahun 1421 H (2000 M) beliau diangkat menjadi ketua dewan fatwa Tarim dan resmi bergelar Mufti hingga akhirnya dipanggil kehadirat tuhan yang maha esa 2 syawal 1441 H (2020 M) di umur yang ke 81.

Di samping keilmuan dan keluwesannya dalam mengajar, Habib Ali Masyhur sangat rendah hati dan sangat dicintai oleh murid-murid dan warga Tarim. Beliau adalah salah satu pasak keilmuan masyarakat Tarim. Beliau sangat ramah dan tidak menutup diri dari masyarakat. Suka berinteraksi dengan siapa saja tanpa kecuali. Beliau memiliki banyak murid, teman, dan para pecinta yang mengagumi. Setelah kepergiannya ini, semua orang yang mencintainyapun sangat terpukul.

Diantara perkataannya yang sangat berkesan bagi kita semua adalah, “Selalulah merasa kurang dalam membantu Rasulullah dan umatnya, sehingga engkau sampai kederajat yang tinggi. Jika engkau merasa sudah cukup banyak membatu Rasulullah dan umatnya, maka engkau tidak akan menemui derajat yang tinggi itu”.

Kita sebagai generasi penerus para pendakwah islam hendaknya mengambil ibrah dari perjalanan hidup beliau dan senantiasa mendoakan beliau disertai dengan bacaan al-Fatihah untuk mengenang dedikasi dan perjuangan beliau untuk umat. Lana wa lahu, al-Fatihah.

"Wala tamutunna illa wa antum katibun" - Janganlah engkau mati sebelum menjadi seorang penulis.

Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub
Buka WhatsApp
1
Assalamualaikum. Ada yang bisa kami bantu? silahkan chat melalui whatsapp ini. Terima Kasih.