Press "Enter" to skip to content

Mengkaji Kehidupan

Waktu Baca:2 Menit, 36 Detik

Seperti halnya firman Allah yang pertama, kita semua diminta untuk membaca. Membaca dalam konteks ini adalah membaca kehidupan, tak hanya ayat-ayat qauliyah, namun juga ayat-ayat kauniyah-Nya. Jika kita bicara soal mengkaji kehidupan, sebelumnya kita pun mesti memahami sepenuhnya bagaimana etika para pencari ilmu kepada siapa/apa saja yang layak dijadikannya guru.

Etika yang pertama dan paling utama adalah ketakdziman terhadap siapapun yang kita anggap dia guru, sami’na wa ato’na. Kalimat ini menegaskan kekosongan diri untuk kemudian siap diisi dengan segala pengetahuan dari sang guru. Seperti yang dikatakan Nabiyullah Khidir as. terhadap Nabiyullah Musa as., “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.”. Kita musti bersabar dan istiqomah, serta senantiasa husnudzon kepada setiap ‘alim.

Baca Juga: Dakwah di mana dan kepada siapa?

Pada step selanjutnya adalah menentukan kepada siapa kita hendaknya belajar. Seyogyanya kita memang berkhidmat pada seorang guru yang memiliki sanad yang mu’tabar hingga sampai ke Baginda Rasulullah. Namun pada hakikatnya, setiap orang adalah guru bagi orang yang lain. Jagat raya ini terhampar begitu luasnya juga merupakan jabaran dari ayat-ayat kauniyah Allah yang musti kita kaji secara mendalam dan komprehensif. Bukankah Allah SWT juga memerintahkan kita untuk mengadakan perjalanan-perjalanan di muka bumi supaya kita bisa membuktikan ke-Esa-an-Nya? Jika ditarik lebih pendek lagi, cukuplah keterangan Allah yang menjadikan kita khalifah di muka bumi ini sebagai hujjah bahwa kita semestinya pun memahami dimana kita memimpin.

Semakin banyak wajah yang kita temui, maka akan berbanding lurus dengan semakin banyaknya pula hal-hal yang bisa kita gali sekaligus kita kaji. Mengaji bukan melulu di majelis-majelis atau pun di pesantren-pesantren, walau tak bisa dipungkiri bahwa keduanya (atau ditambah dengan bentuk lembaga pendidikan lain) merupakan garda terdepan dalam peranan pembentukan insan yang berkarakter dan berakhlak mulia yang berdasar sekaligus bersandar pada syariat-syariat religiusitas. Menyadur dari kalimat indah Mbah Yai Mustofa Bisri Rembang, yang mana pada intinya menegaskan bahwa definisi seorang santri tidak hanya terkompresi pada mereka yang hanya mengenyam pendidikan di pondok pesantren, namun seseorang juga bisa disebut santri jika memang akhlaknya merepresentasikan akhlak seorang santri.

Baca Juga: Memaknai Maqashid Syariah dengan Benar

Dari sini penekanannya adalah output berupa akhlakul karimah, tentu tanpa menafikkan sebuah proses yang panjang dan penuh pengorbanan ketika berusaha meraihnya. Bicara soal pengorbanan, bentuknya pun bermacam-macam, dan setiap orang memiliki kisahnya tersendiri, semuanya bermuara pada yang namanya uswatun hasanah, menjadi suri tauladan yang baik bagi masyarakat atau komunitasnya masing-masing tempat ia hidup dan mengabdi. Mengaji bukan melulu soal bertindak, terkadang mengaji pun cukup dengan diam, namun yang membedakan antara diamnya seorang pencari ilmu dengan diam pada umunya adalah kita diam dalam rangka menyelami tindak tanduk sang guru dan merenungi hikmah dari setiap ucapan dan juga perbuatannya. Bayangkan, betapa indah Allah SWT melukiskan hubungan guru dan murid tersebut pada Al-Qur’an, surat Al-Kahfi, ayat 60-82.

Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Mengetahui, Maha Benar Allah SWT dengan segala firman dan ayat-ayatnya. Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.

Wallahu a’lam bish shawaab.

Facebook Comments
Latest posts by M. Thoyib Achmad Salim (see all)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *