Mengubur Belakang Dapur

Dari sudut dapur, sepuluh langkah ke utara, lalu tiga langkah ke barat. Sahirin yakin sekali ia semalam menggali di sana. Tanahnya masih gembur. Gundukannya masih setinggi saat ia tinggal. Hanya saja, Sahirin tidak bisa menemukan barang yang ia sembunyikan.

“Kau yakin tak salah tempat? Santri kelas satu saja aman, kok punyamu bisa hilang?” bisik Abid.

Sahirin dongkol sekali. Jelas-jelas dia yang mengajari adik kamarnya menyembunyikan HP di halaman belakang dapur. Matikan HP, lepas batrainya, bungkus dengan plastik, lalu kubur. Bertahun-tahun Sahirin berhasil menghindari razia asrama dengan cara itu. Naas sekali HP nya justru hilang saat dikubur karena kabar razia yang bahkan tidak beneran terjadi.

“Mungkin digali anjing Pak Jun” timpa Ridwan berbisik pula.

“Anjing tidak suka HP” balas Sahirin.

“Tapi kau kubur HP mu dengan plastik bekas gorengan. Anjing suka gorengan”

Sahirin terdiam. Diingat-ingatnya lagi saat kemarin malam dia mencari. Tidak ada bekas galian anjing. Kalau benar anjing Pak Jun yang menggali, seharusnya ada sisa-sisa kaisan tanah. Namun kemarin, Sahirin yakin sekali kondisi halaman belakang dapur sama persis saat terakhir ia tinggalkan.

Tiga sejoli itu bersama-sama melapisi tangan dengan kantong kresek dan menggali di sekitaran tempat Sahirin mengubur HP nya semalam. Hari pukul satu malam. Hawa dingin gunung menyelimuti pencarian mereka.

Gali lubang, tidak ada, ditimbun lagi. Begitu terus sampai toa masjid mulai berbunyi krasak krusuk pertanda dekatnya waktu subuh. Dengan hati-hati mereka mengendap kembali ke asrama dan kembali tidur agar Ustadz jaga tidak curiga saat membangunkan.

Kepala Sahirin penuh dengan dugaan-dugaan. Mengubur HP di halaman belakang dapur adalah ilmu yang ia dapatkan dari mursyid kamarnya semasa kelas satu dulu. Dari delapan orang seangkatannya di kamar itu, hanya Sahirin seorang yang diajari. Kata murisyid itu, kalau terlalu banyak orang yang tahu, lebih cepat ketahuan.

Sahirin selalu mengubur HP diam-diam saat ada isu akan diadakan razia. Seangkatannya hanya dia, Abid, dan Ridwan yang tahu. Sahirin tidak curiga pada dua temannya. Kecurigaannya jatuh pada Farhan –mantan adik kamar yang ia ajari cara mengubur HP tahun lalu, atau Yusuf –adik kamarnya.

“Bangun! Subuh!” teriakan di lorong asrama dan ketukan-ketukan di pintu terdengar.

***

Berkat sara Abid, Sahirin batal mendatangi Farhan dan Yusuf untuk ditanya. Kalau benar salah satu dari mereka yang mengambil, pasti mereka tidak mau mengaku. Kalau pun bukan keduanya yang mengambil, mereka tidak perlu tahu.

Gosip di asrama beredar cepat sekali. Satu orang bercerita ke orang berikutnya dengan pembukaan yang sama “jangan bilang siapa-siapa ya”. Tahu-tahu sudah beredar saja gosip itu ke semua kamar. Tak jarang satu dua gosip sampai ke telinga ustadz.

Untuk menghindari hal itu, Sahirin beralih mode dari penginterogasi menjadi mata-mata. Setiap gerak-gerik Farhan dan Yusuf dia amati sedemikian rupa. Lemari dua orang itu ia bongkar siang hari saat para santri sedang belajar di kelas. Malamnya Sahirin dan kedua temannya memantau siapa saja yang pergi ke halaman belakang dapur.

Tiga hari berturut-turut jaga malam di lorong arah dapur membuat ketiganya lelah dan kurang tidur. Abid dan Ridwan sudah bilang pada Sahirin untuk mengikhlaskan saja. Malam ini, kata mereka, akan jadi malam terakhir mereka mencari.

Dua temannya telah terkantuk-kantuk, meninggalkan Sahirin yang masih terjaga berkat kecemasannya. Dalam remang cahaya lampu, satu sosok dengan postur tubuh agak tinggi berjalan menuju dapur. Sahirin menepuk-nepuk punggung Abid dan Ridwan. Ketiganya awas mengamati.

Sosok itu bersarung dan berpeci. Tubuhnya tinggi, mungkin santri kelas akhir. Cahaya lampu tidak cukup terang untuk membuat ketiganya mengenali sosok itu. Di sela bibirnya ada nyala bara dan asap. Barangkali santri yang mengendap-mengendap merokok sebatang dua batang. Lalu, dengan langkah makin mencurigakan, sosok itu pergi ke halaman belakang dapur.

Secara impulsif ketiganya berlari menuju sosok itu. Sahirin meraih sarungnya dalam cengkraman yang membuat mereka berdua bergulingan di tanah. Abid memegangi kedua tangan pemuda mencurigakan, sedangkan Ridwan berlari tergopoh-gopoh sambil menyalakan senter.

“Astaghfirullah! Ustad!” teriak Ridwan, menyadari wajah pemuda bersarung.

***

Pak Jun tak bisa membendung tawanya saat Sahirin, Abid, dan Ridwan mengambil nasi di dapur. Penjaga dapur itu bahkan memanggil istrinya untuk memperlihatkan kepala botak mereka bertiga.

“Jangan tertawa lah Pak. Untung cuma dibotakin, ga sampai kena DO karena nyerang Ustad” keluh Ridwan.

“Memangnya kalian ngapain malam-malam di belakang dapur?” tanya Pak Jun.

Ketiganya saling tatap, memutuskan siapa yang harus menjawab. “Kami kira maling, Pak” jawab Sahirin akhirnya. Pak Jun hanya geleng kepala tak paham dengan tingkah santri yang beda tahun beda saja keanehannya.

“Ngomong-ngomong ya, Nak, zakat barang temuan itu cara bayarnya bagaimana?”

Sempat hening. Lalu, teriakan ketiganya menarik perhatian seluruh penghuni dapur.

TAMAT

Avatar

Matahari

Satu kata, nama yang mewakili doa khusus dan harapan: Matahari. Baru-baru ini menerbitkan buku kumpulan cerpen berjudul “Aroma Pertama Saat Seseorang Merindukan Rumah”. Penulis bisa dihubungi via email ke matahariri98@gmail.com atau Instagram @riri_matahari

Artikel Menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *