Press "Enter" to skip to content

Menilik Kabar Saudara di Palestina

Waktu Baca:3 Menit, 1 Detik

Palestina adalah salah satu wilayah yang berada di ujung utara Jazirah Arab. Lokasinya cukup strategis dan sangat menguntungkan karena berada di antara 3 benua, yaitu Asia, Afrika, dan Eropa. Palestina hari ini menjadi salah satu wilayah yang masih terjajah. Penjajahan bermula dari tahun 1917, Britania Raya (Inggris) sebagai pemenang Perang Dunia I mengeluarkan Deklarasi Balfour yang isinya mengizinkan imigrasi Yahudi menuju tanah Palestina. Padahal di tahun 1917 Palestina masih berada di bawah Khalifah Turki Utsmani dan kekhalifahan itu masih berdiri.

Kabar buruk kembali datang di tahun 1948 setelah Israel (Yahudi dari golongan Zionis) mendeklarasikan negara di tanah Palestina, sekitar 700.000 warga Palestina terusir dari tanahnya. Pada tahun 1967 pasca Perang Enam Hari, kebrutalan Israel semakin menjadi-jadi. Hingga hari ini, penjajahan dan penjajahan masih terus berlangsung.

Aneksasi dan penjajahan masih terus dilakukan, hari ini wilayah Palestina hanya tersisa wilayah Gaza Strip (Jalur Gaza) dan West Bank (Tepi Barat). Namun wilayah-wilayah tersebut juga sedang diblokade oleh Zionis Israel. Wilayah Gaza dan Tepi Barat diblokade dengan tembok setinggi 16 meter, tembok ini sering disebut dengan “Apartheid Wall”. Khususnya di wilayah Gaza, blokade Israel mengakibatkan keterbatasan akses serta menyulitkan warga Gaza memenuhi kebutuhannya. Menurut laporan dari Gaza Destek Dernergi (2020) 97% air di Gaza dinyatakan tidak layak minum, sementara akses listrik per-hari rata-rata hanya mencapai 17 jam.

Di tahun 2020 keadaan makin memburuk. Selama bulan Juli dapat sekitar  18 rumah warga dan 104 bangunan dihancurkan oleh penjajah Israel. (Sahabat Al-aqsha, 2020). Kabar terbaru melansir dari The Electronic Intifada (2020) menyatakan bahwa di pertengahan Agustus 2020, Zionis Israel menghentikan adanya bahan bakar ke wilayah Gaza hingga mengakibatkan ketersediaan listrik di Gaza semakin berkurang. Penuturan Israel akan hal ini adalah sebagai tanggapan karena adanya balon-balon yang diterbangkan warga Gaza yang mengakibatkan beberapa kebakaran di Israel. Padahal Israel juga hampir setiap hari mengebom Gaza di berbagai sudut.

Melihat dari semua itu, menjadi manusia akan cukup membuat naluri kita tergerak. Dalam satu pengeboman yang dilancarkan oleh pihak Israel, ada berapa banyak nyawa yang akhirnya terbunuh? Ada berapa banyak anak-anak yang harus menjadi yatim? Ada berapa banyak warga yang kehilangan sekolah? Bagaimana rasanya hidup dalam bayang-bayang bom yang setiap hari mampu melayangkan nyawa? Atau bagaimana rasanya menghabiskan masa kanak-kanak di bawah bayangan penjajahan? Sementara di sudut dunia lain masa kanak-kanak penuh dengan masa bermanja.

Anak-anak muda di Gaza tumbuh dengan keyakinan berjuang, hampir keseluruhan muslimnya menjadi hafidz Quran, mereka sadar bahwa untuk menjemput kemerdekaan haruslah diiringi dengan semangat Quran dan didorong ilmu pengetahuan. Banyak sekolah yang dihancurkan oleh Zionis Israel, namun anak Gaza tetap tak surut dalam menuntut ilmu. “Israel bisa mengebom sekolah kami, tapi tak bisa menghancurkan semangat kami”, begitu salah satu ungkapan pemuda Gaza.

Melihat angka statistik, akan ditemukan bahwa banyak pemuda Gaza merupakan lulusan dari berbagai bidang spesialisasi, seperti teknik, kesehatan, ilmu tekonologi dan informasi, pendidikan, dsb. Namun hal yang disayangkan adalah bahwa setelah lulus, peluang kerja mereka hanya sedikit. Meskipun begitu, mereka terus berjuang untuk menciptakan peluang kerja atau membuat perbaikan di berbagai bidang.

Melihat Palestina hari ini, tentu akan menemui banyak sekali kisah-kisah heroik dan hal luar biasa. Bagaimana bisa Israel yang begitu maju dengan teknologinya masih bisa ditandingi dengan pejuang Palestina yang memiliki berjuta keterbatasan dalam akses dan teknologinya? Memandang Palestina tentu bisa dari berbagai sudut pandang, namun jika memang tidak mau memandang itu sebagai isu agama, cukup menjadi manusia untuk membela Palestina. Hari ini, saat kita terkecamuk dan merasa begitu terpenjara dengan keadaan pandemi Covid yang tak kunjung usai, di belahan bumi lainnya sana, saudara-saudara kita di Palestina sudah terbelenggu belasan tahun dengan berjuta ancaman sejak lama.



Facebook Comments
Latest posts by Hanifah ‘Urwatulwutsqo Rofi’ah (see all)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *