Menjadi Muslim yang Kritis

Lambat laun, sedikit banyak, kita pasti merasakan, bahwa kualitas pemahaman teologi, khususnya agama Islam, yang berkembang di komunitas muslim, semakin terdegradasi. Bahkan di tengah pandemi, forum bertajuk ‘penambahan’ istri masih kerap dipublikasi. Apakah tidak ada topik yang jauh lebih berarti selain hal-hal yang selalu memicu kontroversi?

Para muballigh pun tak jauh beda dalam proses tablighnya. Kerap kita jumpai, khususnya akhir-akhir ini, mereka yang mendiskreditkan agama lain demi mengagungkan agamanya sendiri. Ada apa ini? Toh, agama ini akan tetap mulia tanpa harus mencaci, apalagi mengaitkannya dengan berbagai konspirasi. Parahnya, dengan minimnya argumentasi, ada seorang da’i yang menyebut dalam sebuah kesempatan, bahwa lagu anak-anak telah mengalami distorsi, mengandung propaganda anti-islami.

Sistem pendidikan semakin memperparah keadaan. Selama bertahun-tahun kita seakan dipaksa untuk sekedar menerima tanpa boleh mempertanyakan. Sikap kritis seringkali disalah artikan sebagai sebuah ‘kejahatan’ dan haram untuk dilaksanakan. Di sisi lain, memperbanyak hafalan Hadits dan al-Quran tanpa dibarengi dengan pengaplikasian kerap menjadi problem modern bagi pendidikan keislaman. Akhirnya, tradisi keilmuan menjadi jumud dan stagnan.

Padahal, sikap kritis dan obyektifitas merupakan akar dari sebuah pencarian. Tentu tanpa mengesampingkan akhlak dan kesopanan. Tak ayal, hal ini yang membuat khazanah keislaman senyap perlahan. Doktrin bahwa kebenaran hanyalah bersifat sektarian menjadi paham yang justru cenderung ‘menyesatkan’. Mengutip apa yang pernah disampaikan oleh Maulana Jalaluddin Rumi, “Kebenaran adalah sebuah cermin di dalam Tuhan, cermin itu jatuh dan pecah berkeping-keping. Tiap-tiap orang memungut satu keping, lalu mereka bercermin dan mengira telah menemukan kebenaran.”

Keterbatasan dalam maksud kritis dan mempertanyakan sebuah pandangan sama sekali tidak berkaitan dengan aqidah dan kekafiran, maka seharusnya kita lebih cerdas dan tak takut untuk berpaling haluan dengan siapapun, senyampang sesuai dengan norma dan aturan. Ketika hal ini dibatasi dan menjadi sebuah hambatan, maka tak heran jika kini peradaban islam kian mengalami ketertinggalan. Kita tanpa disadari telah mengalami sebuah pemasungan akal dan pikiran, dicegah untuk dapat lebih menjadi pribadi yang independen dan dominan. Padahal, Islam membutuhkan  lebih dari sekedar hafalan, melainkan juga inovasi dan pemikiran yang singkron dengan perkembangan zaman.

Segala sesuatu musti sesuai porsi. Penyampaian fatwa pun seharusnya serupa ini. Da’i hendaknya sadar diri, kini kerap kita jumpai, seorang da’i dengan mudahnya menghukumi berbagai jenis teka-teki tanpa sebelumnya meneliti dan mendalami. Fatwa diobral menjadi sebuah komoditi tanpa didasari dengan keahlian yang mumpuni. Akhirnya, da’i yang begini bisa saja mempengaruhi masyarakat awam menjadi tak begitu peduli terhadap mereka yang benar-benar ahli.

Islam pernah berjaya selama 500 tahunan ketika para ilmuwan dan cendekiawan bermunculan. Mereka muncul dengan menguasai berbagai bidang keilmuan, yang akhirnya memberikan kontribusi terhadap perkembangan teknologi, kebudayaan, hingga berhasil merubah sebuah peradaban. Para sufi, ilmuwan dan cendekiawan muslim ini senantiasa mengembangkan tradisi ilmiah pada setiap rumpun pengetahuan. Sebut saja al-Khawarismi, Ibnu Sina, hingga Abu Musa Jabir bin Hayyan.

Yang musti menjadi muhasabah bersama, bahwa firman pertama adalah perintah untuk membaca. Perintah ini tak lain bertujuan supaya kita menjadi makhluk yang cerdas dan bijaksana, berubah dari manusia hampa menjadi insan cendekia. Dengan demikian, melalui sebuah proses pendidikan, yang bertujuan untuk menjadikan seseorang menjadi berpengetahuan, adalah salah satu perintah paling utama dalam konteks keislaman.

Bersikap kritis dan mempertanyakan sesuatu kepada guru dan ulama bukanlah sesuatu hal yang terlarang apalagi diharamkan. Bukankah malaikat pun yang begitu patuh pada Tuhan juga kerap mempertanyakan keputusan Tuhan? Jika Tuhan saja pernah ‘digugat’ dan dipertanyakan kebijakannya oleh para malaikat yang tugasnya adalah mematuhi dan melaksanakan perintah Tuhan, lantas mengapa para ustadz dan da’i menjadi begitu alergi ketika mendapatkan pertanyaan dan sikap kritis dari para partisan?

Sudah waktunya kita beranjak, dari sekedar menghafal menjadi bertindak. Dari sekedar membaca teks, menjadi memahami konteks. Karena sejatinya, hafalan hanyalah bagian dari suatu jalan dan bukan merupakan sebuah tujuan. Ketika konsep ini tidak mampu dipahami, maka tak salah jika ada salah persepsi hingga kehilangan esensi, dari ber-iqra’ yang bertujuan agar terjadi revolusi diri, menjadi sekedar tau itu dan ini, tanpa peduli dan memahami hakikat mengapa Tuhan sampai memberi.

Seorang muslim hendaknya tak hanya berserah diri, tapi juga harus teliti, berani, dan berhati-hati. Jangan malah menjadi orang yang abai, tidak jeli, apalagi hingga enggan mengutarakan argumentasi, tapi justru sangat fasih memaki dan mencaci orang yang berbeda opini. Tidak berlebihan jika kemudian dapat disimpulkan, kemuliaan kita sebagai makhluk Tuhan terletak pada pemanfaatan akal pikiran hingga diraihnya ilmu dan pengetahuan, demi kemaslahatan umat secara keseluruhan.

“Afala Tatafakkarun” (apakah kamu tidak memikirkan?), “Afala Ta’qilun” (apakah kamu tidak menggunakan akalmu?), “Afala Tubshirun” (apakah kamu tidak melihat?), “Afala Yatadabbarun” (apakah kalian tidak merenungkan?).

M. Thoyib Achmad Salim

Penulis adalah mahasiswa, akademisi dan santri

Artikel Menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *