Press "Enter" to skip to content

Menjalankan Budaya Agama di tengah Pandemi

Waktu Baca:2 Menit, 38 Detik

Isu-isu tentang wabah penyakit yang sedang terjadi akhir-akhir ini tentu tak asing lagi bagi semua kalangan di seluruh dunia. Kota Wuhan di China adalah kota yang pertama kali terjangkit virus tersebut di penghujung tahun 2019. Virus ini dikenal dengan istilah COVID-19 (Coronavirus Deases 2019).

Dalam perspektif sosiologi antorpologi, agama merupakan bagian dari kebudayaan. Adapun wujud kebudayaan dalam konteks agama adalah bahwa agama itu dinilai sebagai; Sistem gagasan, religius idea (perangkat lunak agama) dalam hal ini memunculkan banyak dimensi lain seperti belief, doktrin, nilai, dan dogma. Sistem tindakan (praktik keagamaan), hal ini menjelaskan sebuah sketsa singkat dari agama yang digambarkan berupa ritual, perilaku dan juga dapat berupa komunitas agama. Terakhir adalah hasil karya, di sini dapat dijumpai melalui artefak keagamaan atau peninggalan keagamaan lainnya seperti gereja, masjid, orang suci, kitab suci yang menggambarkan simbol keagamaan.

Adapun kebudayaan yang bersifat universal yang meliputi semua hal meliputi bahasa, seni, organisasi sosial, mata pencaharian, religi, peralatan hidup dan lain sebagainya yang bersangkutan pada setiap individu. (Faiz, Agama dan Pengertian Kebudayaan dalam Perspektif Sosio-Antopologi, 2020)

Seperti yang diketahui, seluruh umat muslim dunia di bulan Ramadan ini memiliki kebudayaan keagamaan seperti puasa, shalat tarawih, tadarus yang hampir semuanya sejatinya dikerjakan secara berjamaah atau bersama. Namun, di tengah pandemi COVID-19, seluruh kegiatan tersebut dan kegiatan majelis pengajian lainnya tidak diperkenankan lagi untuk diadakan.

Baca Juga: Info Beasiswa YTB 2021

Himbauan pemerintah untuk tetap di rumah saja, jaga jarak dengan orang lain, senantiasa menjaga kesehatan pada dasarnya ditujukan untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 yang sangat pesat. Namun, dalam situasi saat ini tidak hanya aktivitas keagamannya saja yang dilarang, hampir dari segala aktivitas yang sifatnya berkerumun semuanya tidak diperbolehkan. Mulai dari bekerja, bersekolah, shalat jamaah dan lainnya.

Agama memiliki peran yang tinggi di bidang sosial. Hal ini menunjukkan bagaimana pandemi ini berpengaruh dalam beragama. Namun sebenarnya pengaruhnya tidak hanya di bidang agama saja. Pandemi ini juga memberikan pengaruh besar di bidang ekonomi. Dalam bidang ini hampir seluruh negara di dunia mengalami krisis. Hal ini disebabkan dari sekian banyak rakyat, himbauan pemerintah untuk tidak berkerja diluar, kecuali bagi para pekerja seperti pedagang sembako, petani. Selain itu tak sedikit dari tatanan rencana yang menjadi simpang siur akibat pengarung dari pandemi ini.

Terlepas dari banyaknya pengaruh seperti dari yang telah disebut diatas. Hal ini melahirkan sebuah inovasi baru, yaitu segala sesuatu yang berbasis online. Mulai dari istighotsah online, kuliah online, sekolah online, seminar online, tadarus online bahkan ngabuburit pun online. Di satu sisi, banyak keluhan dirasakan oleh kalangan orang tua, siswa maupun mahasiswa karena sistem yang online ini di kalangan mereka yang “gaptek” menjadi hal yang cukup sulit. Namun sisi lain hampir semua aplikasi belajar online menjadi gratis dan jurnal-jurnal kini juga bisa diakses secara gratis.

Salah seorang dosen U.I.N. Sunan Kalijaga Dr. M. Alfatih Suryadilaga menyebutkan bahwa semenjak terjadinya pandemik ini, dalam jangka waktu satu bulan terdapat kurang lebih dari 3000 karya artikel, ini merupakan angka yang terbilang cukup fantastik dari hari biasanya. Pemaparan ini sangat terasa akan pengaruh dari pandemi Covid-19. Pada masa seperti ini, secara tidak langsung menuntut itu selalu produktif, dengan mencoba hal-hal baru, termasuk dalam menjalankan ritual-ritual keagamaan dengan berbasis online.

Facebook Comments
Latest posts by Amelia Nailul Fauziyah (see all)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *