Menyelisik Makna Syukur dalam Al-Qur’an

Kata syukur telah disebutkan dalam al-Quran sebanyak 75 kali beserta derivasinya. Tersebar sebanyak 69 ayat dan 37 surat serta terbagi menjadi 18 derivasi, baik berupa fi’il madli, fi’il mudhori’, fi’il amar, masdar, dan  bentuk derivasi lainnya. 

Dalam kamus Munawwir karya KH. Ahmad Warson Munawwir halaman 734 menyebutkan bahwa kata syukur merupakan bentuk masdar dari kata kerja شَكَرَ – يَشْكُرُ – شُكْرًا و شُكُوْرًا و شُكْرَنًا yang artinya berterima kasih. 

Sedangkan dalam kamus Lisan al-Arab karya Ibnu Manzur, bahwa syukur berasal dari kata asy-Syukru artinya dengan mengetahui kebaikan dan menyebarkannya. Menurut Raghib al-Ishfahani dengan karyanya, Mufradat fi Gharib al-Quran mengartikan syukur dengan penggambaran nikmat kemudian menampakkan nikmat itu. 

Dalam QS. al-Ankabut [29] ayat 17 menjelaskan syukur atas rezeki Allah S.w.t.

….اِنَّ الَّذِيْنَ تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ لَا يَمْلِكُوْنَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوْا عِنْدَ اللّٰهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوْهُ وَاشْكُرُوْا لَهٗ ۗ ….

“…Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki dari Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya…”

Berdasarkan Tafsir Mafatihul Ghoib jilid 10 karya Fahrudin ar-Razi, QS. al-Ankabut [29] ayat 17 menjelaskan bahwa apabila manusia menyembah selain Allah, misal berhala dan patung-patung, yang notabene termasuk ciptaan manusia. Maka, tidak mungkin berhala dan patung-patung mampu memberikan kemanfaatan dan rezeki untuk mencukupi keberlangsungan hidup manusia. Justru malah memberikan kemadharatan bagi siapa saja yang menyembah berhala dan patung-patung. 

Maka, jika manusia menginginkan rezeki, mintalah hanya kepada Allah S.w.t. semata, Maha Pemberi Rezeki. Allah memberikan kepada hambanya berupa kecukupan hidup dan rezeki yang berlimpah, seperti binatang, tumbuhan, hasil tambang, dan lain sebagainya. Tetapi, terkadang manusia kurang mampu memanfaatkannya dan justru menyia-nyiakannya. Dengan demikian, kita harus bisa mensyukuri nikmat-nikmat yang Allah berikan tersebut.

Selain itu, berbuat baik kepada kedua orang tua termasuk manifestasi syukur, sebagaimana dalam QS. Luqman [31] ayat 14.

وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.”

Berdasarkan Tafsir al-Azhar jilid 7 karya Buya Hamka, QS. Luqman [31] ayat 14 menjelaskan bahwa Allah S.w.t. memerintahkan manusia supaya mereka mampu menghormati dan berbakti kepada kedua orang tua, terlebih kepada ibu. Karena tanpa perantara orang tua, manusia tidak bisa terlahir di bumi. Mengapa terlebih kepada ibu? Sebab ibulah yang mengandung dengan susah payah, yakni dalam keadaan lemah yang terus bertambah sampai 9 bulan berada dalam kandungan. Setelah itu melahirkan dengan bertaruh nyawa kemudian menyusui.

Dengan demikian, manusia sudah sepatutnya untuk bersyukur. Syukur pertama kepada Allah. Karena berkat rahmat Allah S.w.t., kedua orang tua mulai dari mengandung hingga mendidik dan mengasuh anak selalu dipenuhi kasih sayang dan sabar serta tidak bosan terhadap keadaan yang ada. Kemudian syukur kedua, baru kepada kedua orang tua yang telah merawat anak dengan cinta kasihnya. Oleh sebab itu, syukur tidak hanya dimaknai terhadap harta saja, tetapi dengan kebaikan pun termasuk syukur. Jadi tidak ada alasan untuk tidak bersyukur kepada Allah S.w.t. Wallahu’alam.

Fina Izzatul Muna

Penulis adalah mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Artikel Menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *