Menyemai Nilai Positif di Balik Wabah Korona

Kehadiran virus Korona di penghujung tahun 2019 telah menggemparkan masyarakat dunia. Penyebarannya yang begitu massif membuat banyak orang jatuh sakit bahkan kehilangan nyawa. Hampir semua aspek kehidupan dibuat lumpuh oleh virus tak kasat mata ini, mulai dari segi kesehatan, ekonomi, pendidikan, politik, hingga keagamaan. Semua Negara, siap tidak siap, dipaksa untuk mengerahkan kemampuan terbaiknya demi menyelamatkan kehidupan rakyatnya.

Saat ini wabah korona telah menginfeksi lebih dari tiga juta orang yang tersebar di hampir seluruh wilayah di dunia. Ratusan ribu korban telah kehilangan nyawa, meskipun lebih dari tiga kali lipat dari  jumlah kematian itu telah berhasil disembuhkan. Semua orang dipaksa untuk tidak dulu meninggalkan rumah demi menghindari semakin merebaknya penyebaran virus. Akibatnya, perekonomian menjadi lumpuh, banyak yang kehilangan pekerjaan, hingga tempat-tempat ibadah pun menjadi sepi tak berpenghuni. Ramadhan tahun ini menjadi sangat memprihatinkan.

Perubahan drastis yang menimpa kehidupan manusia di abad modern ini tentunya perlu kita cermati dari sudut pandang yang lain. Apa yang penulis jelaskan di atas merupakan sudut pandang negatif yang selama ini sering menjadi pusat perhatian kita. Itulah mengapa pikiran kita selalu diselimuti dengan kekhawatiran, ketakutan, dan kecemasan. Mengapa kita tidak mencoba untuk mengambil sudut pandang yang lain, di mana kita bisa belajar banyak hal dan memetik hikmah dari ujian yang tegah melanda bumi yang semakin menua ini?

Hakikatnya semua yang terjadi di muka bumi ini adalah sesuatu yang memang telah diatur oleh Tuhan. Kemunculan wabah penyakit seperti Korona saat ini sejatinya sudah diketahui oleh Allah jauh sebelum bumi ini tercipta. Kita sebagai manusia yang telah lama mengotak-atik kelestarian bumi dengan begitu serakah, harusnya menyadari bahwa semua yang terjadi ini semata-mata adalah akibat dari ulah kita sendiri. Agaknya Tuhan ingin memberikan istirahat agak sesaat kepada bumi agar tidak lagi dijarah dan ditumpasi oleh tangan-tangan jahil manusia. Korona sejatinya adalah vaksin bagi bumi yang sudah sakit-sakitan selama beribu tahun agar merasakan nikmatnya beristirahat agak sesaat. Manusia seharusnya sadar akan hal ini, dan berjanji untuk tidak lagi menyakiti bumi.

Baca Juga: Bulan Suci Ramadhan di Tengah Pandemi Corona

Di samping itu, kedatangan Korona pada dasarnya telah memaksa manusia untuk lebih menahan rasa ego dan ketamakan yang ada di dalam dirinya. Selama ini barangkali banyak manusia yang begitu rakus dalam mencari keuntungan dalam berbisnis. Bahkan ada yang mencuri kesempatan di tengah merebaknya wabah ini untuk menimbun barang-barang yang dibutuhkan seperti masker dan handsanitizer guna menjualnya kembali dengan harga yang tidak masuk akal. Pada akhirnya, orang-orang ini malah justru mengalami kebangkrutan karena di luar sana semakin banyak orang yang dengan tulus menyedekahkan hartanya untuk membantu orang lain memperoleh masker dan handsanitizer secara gratis. Di sini lah kita bisa mengambil pelajaran bahwa dengan munculnya korona, orang-orang yang rakus akan langsung merasakan dampak buruknya, dan orang-orang yang ikhlas membantu orang lain akan semakin banyak bermunculan.

Korona juga semakin mengajarkan umat Islam untuk lebih memahami hakikat dari beragama. Selama ini banyak masyarakat yang barangkali hanya beribadah demi kepentingan dirinya sendiri. Mereka rajin shalat ke masjid, namun lalai untuk membantu saudaranya yang kesusahan. Mereka rajin bolak-balik umrah dan haji ke Makkah, namun lupa bahwa banyak tetangga di sebelah rumahnya yang kesusahan memberi makan anak-anaknya. Maka dengan hadirnya korona yang memaksa banyak masjid untuk ditutup sementara waktu, dilarangnya haji, dilarangnya shalat Jum’at, dan dilarangnya membuka usaha sejatinya memaksa kita untuk lebih sadar bahwa kita harus juga banyak memperhatikan ibadah sosial ketimbang ibadah untuk diri kita sendiri. Degan dilarangnya shalat di masjid misalnya, maka kita dapat melatih diri untuk ikhlas beramal di rumah hanya semata mengharapkan ridha dari Allah, bukan ingin dilihat oleh orang lain. Begitu juga, dengan melihat semakin banyak orang yang kehilangan pekerjaan, kita yang mungkin memiliki banyak simpanan uang dapat sedikit berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan uluran tangan kita. Melalui cara ini, tentunya kita akan semakin baik lagi dalam memaknai kehidupan kita, dan semakin bijak dalam menjalankan agama.

Oleh sebab itu, mari sama-sama kita selalu berdoa kepada Allah agar wabah korona ini segera berakhir, sembari berusaha untuk memperbaiki kualitas diri dan keimanan kita. Sehingga nanti kita akan menjadi orang yang lebih baik lagi layaknya kondisi kita di saat Idul Fitri setelah memperbaiki diri dan menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan.

Hamdi Putra Ahmad

Penulis adalah Redaktur website santritulen.com. Penulis juga merupakan Alumni PBSB UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta jurusan Ilmu Tafsir dan akan melanjutkan studi magister melalui LPDP di Oxford University, Inggris.

Artikel Menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *