Press "Enter" to skip to content

Merawat Budaya Ketimuran dalam Mencari Ilmu

Waktu Baca:3 Menit, 39 Detik

Tidak disangkal lagi bahwa mencari ilmu merupakan aktivitas yang sudah sama tuanya dengan sejarah umat manusia itu sendiri. Sejak manusia pertama Adam diciptakan, aktivitas keilmuan pun langsung dimulai dan menjadi bagian penting dalam lintasan sejarah. Ada banyak ayat al-Qur’an yang mensinyalir hal tersebut, misalnya “dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya” (QS. al-Baqarah: 31). Bahkan karena pengetahuan yang dimilikinya, Allah memerintahkan para malaikat untuk memuliakan Adam.

Sejak saat itu sampai sekarang dan tentunya juga di masa yang akan datang, aktivitas mencari ilmu senantiasa mengiringi langkah keturunan Adam. Anak-anak usia 5 tahun sudah didaftarkan di taman kanak-kanak, lalu dimasukkan ke jenjang yang lebih tinggi mulai dari SD, SMP, SMA, hingga Perguruan Tinggi. Kurang lebih sepertiga umur anak manusia dihabiskan dalam instansi pendidikan tersebut (dari TK sampai Perguruan Tinggi).

Pertanyaannya kemudian adalah mengapa masih ada sebagian orang yang derajatnya tidak terangkat meski sudah belajar sekian lamanya padahal Allah berjanji akan mengangkat derajat orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan sebagaimana disebut dalam QS. al-Mujadilah ayat 11. Lebih sederhananya, mengapa ilmunya tidak berkah – meminjam istilah di dunia pesantren.

Hilangnya Dimensi Kesucian

Salah satu dari banyaknya penyebab persoalan di atas, sependek pemahaman subjektif saya, adalah bergesernya makna menuntut ilmu di kalangan orang-orang modern. Sebagian orang yang hidup di zaman modern yang serba materialistis ini sangat suka mengukur segala sesuatu dengan kacamata ‘materi’ yang bersifat fisik, gawatnya pandangan semacam ini telah memasuki ranah pendidikan.

Proses pembelajaran akhirnya tidak lebih daripada sekedar “hubungan transaksional” layaknya transaksi jual beli barang. Gue bayar, loe ngasih (ilmu) atau gue ngasih (ilmu) loe harus bayar. Akibatnya, hal-hal yang bersifat non-materi menjadi terpinggirkan dan ilmu pengetahuan turun derajatnya setara dengan barang-barang profan duniawi lain.

Padahal dalam dunia ketimuran (dalam hal ini Islam), proses pembelajaran merupakan hubungan yang “transendental”, yang suci, karena ilmu pengetahuan bersumber dari Yang Maha Suci. Karena itu, segala hal yang berkaitan dengan ilmu yang suci ini pun harus dihormati. Mulai dari menghomati buku/kitab, menghargai guru, memuliakan aktivitas belajar, dan sebagainya.

Dengan pandangan seperti ini, tidak akan lagi ditemukan kasus siswa yang berani melawan guru seperti yang sering terekam dalam video-video yang viral beberapa waktu yang lalu. Dengan pandangan seperti ini pula, para tenaga pendidik tidak akan berorientasi pada gaji semata, tetapi benar-benar berniat ingin mentransfer ilmu yang suci kepada peserta didiknya.

Memesantrenkan Pendidikan Sekular

Revolusi mental yang dulunya pernah digembor-gemborkan pemerintah memang seharusnya melirik model pendidikan pesantren dan mengadopsi nilai-nilainya ke dalam sistem pendidikan tanah air. “Memesantrenkan pendidikan sekular” dalam subbab ini bukan artinya bahwa semua sekolah umum harus memakai sistem asrama (boarding) layaknya pesantren. Bukan unsur fisik pesantren semacam itu yang kita maksudkan, tetapi mengadopsi unsur-unsur non fisik pesantren, seperti nilai-nilai moral, spiritual, dan intelektualnya.

Dalam dunia persilatan pesantren, ilmu tidak hanya dicari di ruang kelas, tetapi dalam keseharian. Santri tidak terbatas hanya belajar dalam sebuah ruang, tetapi juga selalu menghormati guru-gurunya di manapun dan kapanpun. Dalam kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, Kiai Hasyim Asy’ari menuliskan 12 macam adab seorang pelajar kepada gurunya. Dengan mengutip Imam Abu Yusuf, beliau mengatakan bahwa siswa yang tidak menghormati gurunya tidak akan pernah sukses.

Persoalan yang perlu mendapat perhatian lebih dan harus dipecahkan bersama adalah perihal degradasi moral kalangan pelajar lantaran ada banyak kasus siswa melawan gurunya padahal guru, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, telah mengajarkan ilmu pengetahuan kepadanya. Ingatlah perkataan Sayyidina Ali, “saya adalah hamba bagi orang yang mengajariku satu huruf ilmu.

Tidak hanya siswa, guru pun juga harus menunjukkan moral yang mulia kepada para muridnya. Dalam kitab di atas, Kiai Hasyim Asy’ari juga menuliskan 14 poin tentang adab seorang guru kepada muridnya, yang salah dua poinnya adalah bahwa sang guru harus berusaha seprofesional mungkin dan mendoakan para siswanya di keheningan malam.

Yang belum disebutkan dalam kitab di atas adalah perihal adab orang tua. Dalam proses pembelajaran, tidak hanya siswa dan guru yang harus aktif, tetapi orang tua juga harus terlibat, tidak abai terhadap dinamika pembelajaran. Membayarkan SPP anak saja tentu tidak cukup, orang tua juga harus mengawasi sang anak dan menjaga hubungan baik dengan para pengajarnya.

Walhasil, ilmu yang bersumber dari yang Maha Suci akan bisa diraih tatkala hubungan dan sinergi  di antara tiga kalangan: siswa – guru – dan orang tua bisa berjalan dengan baik. Dan ilmu akan menjadi berkah tatkala tidak hanya intelektualitas saja yang dikejar, tetapi juga moralitas dan spiritualitas.

Facebook Comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *