Press "Enter" to skip to content

Misteri Dibalik Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib

Waktu Baca:5 Menit, 59 Detik

Apakah Mazhab-isme Salah Satunya?

Kekalahan-kekalahan yang diderita oleh kaum Muslimin dalam perang melawan kaum Salib merupakan salah satu dampak negatif dari apa yang berkembang dalam masyarakat Muslim sendiri, seperti pemikiran, kecenderungan, nilai, dan tradisi. Hal ini karena realita politik, sosial, dan ekonomi adalah episode terakhir dari perilaku yang berawal pada perasaan, lalu akal (pikiran) dan berakhir pada organ tubuh yang diluar batas jiwa atau pada seluruh aspek kehidupan.

Sesuai dengan keterangan Al-Qur’an bahwa segala bentuk krisis yang dialami oleh suatu masyarakat berawal dari diri mereka sendiri yang mencakup keyakinan (akidah), nilai, tradisi, dan kebiasaan realitas masyarakat tersebut. Allah swt. Berfirman:

“yang demikian itu karena Allah sekali-kali tidak akan merubah nikmat yang telah dianugrahkan-Nya kepada suatu kaum, sehingga mereka merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri”. (Q.S. Al-Anfal: 53)

Masyarakat Muslim yang mengalami ekspansi pertama pasukan Salib tidak kosong dari da’i-da’i yang gigih. Kegiatan Islam masih dilakukan dengan aktif dan terus menerus namun kegiatan Islami tersebut secara umun bersifat mazhab-isme (Mahdzabbiyah) dan tidak bersatu. 



Pada masa itu, dari kalangan mazhab Hambali lahir sejumlah ulama, mereka begitu bersemangat dan gigih untuk merekrut masyarakat luas (awam) untuk bergabung. Mereka dikenal dalam kepiawaiannya dalam berdialog dengan berbagai aliran dan kelompok yang tidak sejalan dan sanggup menanggung beban penderitaan yang cukup pahit sekalipun.

Selain pengikut mazhab Hambali, ada juga pengikut mazhab Asy’ari yang lebih dikenal dengan mazhab Syafi’i. Dikenal dengan pengetahuan yang luas dan mampu menghadapi aliran filsafat dan kebatinan. Dari kalangan mereka lahir sejumlah ulama besar seperti Imam al-Juwaini dan dua orang muridnya Abu Hamid al-Ghazzali dan al-Kiya al-Hirasi. 

Peran para pengikut mazhab Hambali dan Asyafi’i pada saat itu cukup besar, namun mereka terjebak kesalahan dalam menerapkan pola aktivitas Islam (Manhaj al’Amal al Islam). Mereka lebih cenderung kepada afilasi mazhab, bukan kepada fikrah mazhab atau umat yang menjadi pengikutnya.

Pada awal perkembangannya, kelompok-kelompok (mazhab) ini hanya merupakan madrasah (institusi) intelektual, seperti Madrasah Sufyan ats-Tsauri, Madrasah Abu Hanifah, Madrasah Syafi’i dan Madrasah Ahmad bin Hambal. Madrasah-madrasah tersebut lebih mencerminkan bidang-bidang spesialis dalam kerangka risalah Islam yang satu dan yang lain yang mengutamakan hubungan guru dan murid yang saling mencintai dan menghormati.



Fungsi utama madrasah-madrasah tersebut adalah membangun berbagai macam sistem yang akan diimplementasikan dalam institusi sosial, kultur, pemerintahan, ekonomi, dan lain-lain. Namun seiring berjalannya waktu madrasah-madrasah intelektual tersebut berubah menjadi mazhab yang serupa dengan partai dan kelompok (Jama’ah) yang ada di zaman kita sekarang.

Sejak abad kelima Hijriyah, para pengikut dan berbagai mazhab terlibat dalam berbagai perselisihan yang menyia-nyaiakan usaha seluruh pihak dalam hal-hal yang tidak bermanfaat. Mengakibatkan aspek kultur dan sosial menjadi pasif, memunculkan taqlid dan jumud. Kesatuan umat menjadi pecah dan terbagi dalam golongan-golongan yang saling bertikai dan bertentangan. Masalah-masalah besar umat menjadi tersingkirkan.

Dampak negatif terbesar dari mazhabisme adalah setiap mazhab menganggap dirinya sebagai satu-satunya representasi kebenaran dalam kehidupan dunia Islam dengan dalih kegemilangan catatan sejarah yang ditorehkan oleh para pendahulunya seperti mazhab Hambali disebabkan oleh besarnya andil tokoh-tokoh masa lalunya sejak periode Ahmad bin Hambal, menderita penyakit ujub, menganggap dirinya sebagai penghulu umat, hanya mereka yang layak eksis, dan melaksanakan misi Al Amr bin Ma’ruf dan an Nahy ‘an al Munkar. Dengan alih-alih dasar keyakinan ini, mereka beranggapan berhak menentang, melawan dan menghalangi setiap orang yang bergerak dalam bidang dakwah.

Ketika para pengikut mazhab Asyafi’i muncul di pentas dakwah dan aktivitas Islam, para pengikut mazhab Hambali memandang mereka sebagai pesaing yang akan merusak aktivitas mereka selama ini, maka mereka berusaha menghalangi para da’i dari kalangan Asyafi’i, menuduh dan merusak citra mereka dimana-mana. 

Begitupun dengan pengikut mazhab Asyafi’i disebabkan oleh jasa Imam Abu Hasan al Asy’ari dalam menentang ajaran kaum Mu’tazilah menderita sindrom keangkuhan intelektual. Dengan menganggap dirinya sebagai orang yang berpengetahuan luas dan berpikiran hebat, mereka menuduh para pengikut Hambali sebagai orang-orang yang memiliki pengetahuan dangkal dan wawasan sempit. Ibnu ‘Asakir salah seorang tokoh yang paling gencar mewakili kalangan Asyafi’i .

Mazhabisme dalam istilah modern bisa disebut Hizbiyyah (Komunalisme) yang dapat memberikan berbagai dampak yang berbahaya terhadap pemikiran, pendidikan, sosial dan politik. Mazhabisme ini melahirkan semacam teror intelektual terhadap orang-orang yang berusaha melakukan pencerahan sekalipun menganut mazhab yang sama. Mereka ditekan agar tidak melakukan dialog pemikiran dengan mazhab-mazhab lain. Siapapun yang berani keluar dari tradisi mazhab dan berusaha terbuka dengan pemikiran mazhab lain maka ia akan dituduh munafik dan dianggap keluar dari ajaran mazhab. 



Fenomena teror intelektual ini semakin merajalela dan menghancurkan kesatuan umat menjadi bermacam-macam kelompok dan mazhab yang bertentangan enggan bersatu. Namun dampak pemikiran paling berbahaya yang timbul dari mazhabisme yaitu para pengikut mazhab tidak lagi bersentuhan langsung dengan Al-Quran dan Sunnah, melainkan segenap daya pikir, pandangan dan pandangan mereka mengacu pada buku-buku yang dikarang oleh tokoh-tokoh mazhab dan menganggapnya sebagai hasil pemahaman atas Al-Qur’an dan Sunnah yang memiliki kebenaran mutlak.

Dampak fanatisme mazhab terhadap pengajaran sangat besar karena para tokoh sangat berperan aktif dalam aktivitas sekolah dan institusi pendidikan. Mereka memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap kurikulum, tujuan, visi, dan pola kehidupan yang berkembang di lingkungan sekolah-sekolah tersebut. Pengaruh negatif yang ditimbulkan diantaranya:

Pertama, rusaknya tujuan pendidikan karena hanya mempersiapkan pelajar untuk menduduki jabatan-jabatan tertentu. Setiap mazhab bersaing untuk menonjolkan pemikiran mereka dalam bidang-bidang tertentu sebagai batu loncatan untuk menguasai kursi jabatan dan institusinya.

Kedua, rusaknya tujuan pendidikan mengakibatkan ruang lingkup kurikulum pendidikan menjadi sempit, sehingga hanya terbatas pada kajian-kajian fiqih ibadah dan mu’amalat yang tidak lepas dari cara pandang mazhab. Di dalam satu madrasah tersebut terbentuk beberapa departemen dan bagian sesuai mazhab yang mewakilinya. Sehingga mengakibatkan beberapa materi tertentu terabaikan dan proses pembaruan dan inovasi menjadi beku dan berhenti.

Dampak buruk lainnya adalah terjadinya dikotomi antara materi-materi kajian Islam dengan ilmu-ilmu alam (fisika), kedokteran, dan astronomi. Ilmu-ilmu alam tersebut kemudian berkembang dalam institusi-institusi khusus yang terpisah karena mengadopsi filsafat dan didorong oleh desakan para fuqaha kepada para penguasa yang bersikap negatif terhadap masalah-masalah sains, yaitu sikap yang dibangun atas dasar kecurigaan dan tidak mendukung.

Berbagai peristiwa yang mencerminkan mazhabisme dan dampak-dampaknya yang telah dibahas diatas hanya merupakan contoh kasus pola hubungan yang terjalin antara sekian banyak kelompok dan aliran Islam di Iraq, Syam, dan Mesir serta belahan dunia Islam lainnya. Visi ke-mazhaban menjadi bentuk yang dominan dalam penulisan sejarah yang dilakukan oleh para sejarawan pada masa itu. Alhasil, setiap mazhab membukukan jasa-jasa mazhabnya dalam karya yang disebut Thabaqat.

Sementara dalam sekian banyak krisis dan permasalahan terutama serangan kaum Salib (Eropa) yang terus menghimpit umat Islam tidak mendapat perhatian serius, melainkan hanya catatan-catatan kecil tanpa disertai perasaan mendalam dan emosi persaudaraan. Dari sini kita dapat menarik kesimpulan bahwa pemikiran Islam dan istitusi-institusi yang mewakilinya tidak memiliki tujuan dan konsep  yang sejalan dengan berbagai tuntutan dan tantangan yang ada saat itu. Selain itu pula tidak ada strategi yang dapat menjadikan institusi-institusi tersebut mampu memikul tanggung jawab dan perannya terhadap masyarakat Islam pada masa itu.



Facebook Comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *