Press "Enter" to skip to content

Nasihat untuk Orang yang Ngotot Shalat Tarawih di Masjid

Hingga saat artikel ini ditulis, setidaknya di Indonesia sudah ada 10 ribu lebih orang terjangkit virus corona. Dan setiap harinya terus bertambah dengan masif dan agresif. Ini kemudian menjadi ketakutan yang luar biasa untuk masyarakat luas dan momok yang mengerikan untuk perekonomian negara.

Pemerintah dan Ulamapun mengambil langkah untuk memutuskan penyebaran virus ini. Salah satunya dengan membuat keputusan presiden dan menerbitkan fatwa ulama. Semuanya berisi tentang himbauan masayarakat untuk bekerjasama menghentikan persebaran virus ini. Tujuannya untuk mengurangi resiko kematian dan dampak buruk pada perekonomian Indonesia.

Fatwa resmi yang dikeluarkan oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia) salah satunya adalah larangan untuk shalat di masjid selama masa pandemi masih berlangsung. Baik itu shalat fardu, shalat tarawih atau bahkan shalat jum’at. Tapi masih saja ada segelintir orang yang tidak mau mengindahkan fatwa ini karena menganggapnya sebagai “pelarangan hak beribadah kepada Allah”.

Baca Juga: Panen Pahala di Bulan Ramadhan

Kemudian ada juga yang mengkaitkan fatwa dan aturan pemerintah ini sebagai cara setan atau bahkan dirumorkan sebagai misi dajjal untuk memecah belah umat Islam dan menjauhan umat dari Allah. Ada pula yang yang menolak himbauan ini dengan mengatakan “Yang seharusnya ditakuti itu Allah, bukan Corona”. Entah bagaimana logika berfikirnya hingga sejauh ini. Pokoknya ada saja alasannya.

Dan merekapun tetap memaksakan diri untuk shalat di masjid. Seperti dilansir kumparan.com, di Aceh yang tetap melakukan shalat tarawih berjamaah. Dilansir di tribunnews.com, di Parepare, Sulawesi Selatan ada yang sampai melompat pagar masjid yang sudah dikunci untuk shalat. Dan tetap saja, dalihnya “Orang mau beribadah kepada Allah kok dilarang”. Bahkan pak camat yang mau mencegahnyapun dipolisikan.

Kajian shalat berjamaah di masjid di masa pandemi corona ini masuk dalam ranah kajian fiqih dan ushul fiqih. Oleh karena itu, kita akan selesaikan ini dengan kajian fiqih dan ushul fiqih berdasarkan dalil al-Quran dan al-Sunnah.

Mazhab fiqih yang 4 sepakat, bahwa shalat tarawih itu hukumnya adalah sunnah. Dan segala hal yang sunah itu tidak boleh didahulukan dari hal yang wajib. Artinya sunah boleh dikerjakan setelah hal yang wajib sudah terpenuhi atau tidak melanggar suatu kewajiban yang ada. Ini didasarkan pada hadis Nabi yang berbunyi;

Bila iqamat shalat sudah dikumandangkan maka tidak ada shalat (sunah) kecuali yang maktubah (wajib).” (HR.Muslim, No.710)

Menaati pemerintah dan mengindahkan fatwa ulama, status hukumnya adalah wajib. Tidak boleh mendahulukan yang sunah atas yang wajib. Tidak boleh memaksa shalat di masjid jika dilarang pemerintah dan difatwakan ulama. Dalilnya jelas terdapat dalam al-Quran yang berbunyi;

“Dan patuhilah perintah Allah dan patuhilah perintah Rasul, serta patuhilah ulil amri di antara kamu”. (QS. al-Nisa, ayat 59)

Baca juga: Perempuan Uama di Panggung Sejarah.

Di lalam tafsir al-Sa’di karya Imam Abdullah al-Sa’dy dikatakan; makna kata “ulil amri” dalam ayat ini adalah “pemerintah” dan “ulama”, termasuk juga mematuhi keputusan pemerintah dan fatwa ulama. Jelas akarnya usul fiqihnya, “asal dari perintah itu hukumnya wajib dilakukan”. Dalam hadis juga disebutkan:

ومن أطاع أميري فقد أطاعني ومن عصى أميري فقد عصاني

“Barang siapa yang menaati ulil amriku makan telah menaatiku, dan barang siapa yang mengingkarinya, maka ia telah mengingkariku” (HR. Ahmad, No. 9851)

Pastinya kita tidak mau kan mengingkari dalil al-Quran, al-Sunnah dan kaidah usul fiqih yang sudah jelas penjelasannya? Kemudian, di dalam kitab Mabadi al-Awaliyah karya Abdul Hamid Hakim juga terdapat kaidah ushul fiqih. Kaidah nomor 19 yang mengatakan:

دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ

“Meninggalkan hal yang memberi mudharat lebih diutamakan daripada meraih manfaat.”

Meninggalkan hal yang dapat memberi mudharat lebih diutamakan daripada mendapatkan satu hal yang bermanfaat. Jika dikontekskan pada kasus ini, “meninggalkan shalat di masjid yang dapat mengakibatkan penyebaran virus corona lebih diutamakan daripada untuk mendapatkan pahala shalat berjamaah di masjid”.

Kalau kita telisik lagi, shalat berjamaah bisa dilakukan tidak hanya di masjid. Di rumah juga bisa. Bisa shalat berjamaah bersama Istri dan anak. Pahalanya tetap sama. Bahkan, dengan shalat berjamaah di rumah, kita bisa mencegah penyebaran virus corona, membawa keberkahan pada rumah, membuat hubungan keluarga semakin harmonis dan juga mendapatkan pahala menaati perintah pemerintah dan ulama.

Kemudian apakah masih ada alasan untuk tetap shalat di masjid? Kurang bahaya apalagi sih virus corona ini? Padahal bahaya corona itu jelas? kalau nasihat saya, kalau mau tetap ngotot shalat tarawih di masjid, paling tidak nanti kalau udah kena virus ini, jangan nyalahin negara lagi. Atau mungkin, alasan kamu tetap shalat di masjid itu takut jadi imam di rumah? hehehe.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *