Pancasila dan Islam dalam Kacamata Sejarah

Meski ditetapkan sebagai hari libur Nasional, kehadiran 1 Juni sebagai hari lahirnya Pancasila masih belum sepenuhnya “diterima” oleh semua kalangan di Indonesia. Hal ini ditengarai oleh masih meluasnya pemahaman-pemahaman yang menempatkan Pancasila sebagai satu hal yang perlu dipertanyakan, atau bahkan dianggap sebagai musuh bersama.

Secara garis besar, ada dua bentuk paham yang muncul dari semenjak awal kemerdekaan hingga sekarang mengenai eksistensi Pancasila ini. Paham yang pertama menganggap bahwa Pancasila merupakan produk pemikiran yang tidak sejalan dengan agama (yang dalam hal ini adalah Islam). Kelompok yang menyuarakan paham ini berargumen bahwa sejak penetapannya, butir-butir Pancasila itu sendiri telah menyalahi apa yang mereka pahami tentang agama.

Digantinya redaksi butir pertama pancasila dari “Ketuhanan dengan Kewajiban Menjalankan Syari’at Islam bagi Pemeluknya” menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa” dianggap oleh golongan ini sebagai tindakan gegabah yang hingga saat ini tidak boleh diterima. Selain itu, Pancasila sendiri dianggap sudah tidak bisa diterima sejak awal, sebab dasar bernegara bagi mereka harus lah langsung merujuk kepada Kitab Allah (al-Qur’an).

Baca juga: Jatuh Cinta Berbalas Pahala

Sebaliknya, kelompok kedua adalah mereka yang menerima Pancasila sebagai dasar Negara karena dianggap sejalan dengan nilai-nilai yang diangkat oleh agama. Golongan ini beranggapan bahwa menjalankan butir-butir Pancasila dengan baik adalah bentuk pengamalan dari agama itu sendiri.

Menurut hemat penulis, ketepatan kita dalam memilih untuk berada di posisi yang mana dari kedua golongan di atas merupakan cerminan dari pemahaman kita tentang sejarah kemunculan Pancasila itu sendiri. Dilahirkan pada 1 Juni 1945, Pancasila tidak muncul begitu saja tanpa adanya proses yang panjang dan  rumit. Perumusan butir-butir Pancasila sejatinya melibatkan banyak tokoh dari berbagai elemen, mulai dari kalangan nasionalis hingga agamawan.

Memang betul bahwa hanya terdapat tiga orang tokoh yang memberikan usul terkait Pancasila, yaitu Ir. Soekarno, Moh. Yamin, dan Dr. Soepomo. Namun untuk sampai kepada tahap penetapannya sebagai dasar Negara, berbagai tokoh agama juga ikut terlibat, mulai dari KH Wahid Hasyim Asy’ari sebagai perwakilan dari Nahdhatul Ulama hingga KH Kahar Muzakkir sebagai perwakilan dari Muhammadiyyah. Mereka adalah di antara tokoh agamawan yang berkontribusi besar dalam penetapan Pancasila.

Keterlibatan tokoh-tokoh agama dalam penetapan Pancasila sebagai falsafah Negara menjadi alasan yang logis bahwa Pancasila sejatinya muncul dari dukungan agama itu sendiri. Bahkan, digantinya redaksi butir pertama Pancasila yang (yang dianggap sesat oleh kalangan pertama) justru merupakan bentuk dari keta’atan terhadap prinsip agama dalam rangka mewujudkan kemaslahatan (al-maslahah).

Moh. Hatta dan sejumlah tokoh agama lainnya adalah mereka yang berperan sebagai “penyelamat” umat saat itu dari keberatan yang dimunculkan oleh sejumlah kalangan di Indonesia Timur tentang redaksi sila pertama. Demi menjaga Negara dari perpecahan, mereka memutuskan untuk mengganti sila pertama menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa” tanpa sedikitpun mengubah makna yang ingin dicapai dari butir sila sebelumnya. Tindakan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh Ini sejatinya adalah pengamalan dari kaidah “sad al-dzari’ah” (mencegah kemudharatan) di dalam Ushul Fiqh.

Di samping itu, kita tidak akan pernah bisa memisahkan antara Pancasila dan Agama, sebagaimana kita tidak bisa memisahkan Negara dengan Agama. Sebab, butir-butir Pancasila itu sendiri mengandung nilai-nilai universal yang harus dicapai oleh setiap individu yang menganut suatu agama. Mengamalkan Pancasila tidak ubahnya mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam agama itu sendiri.

Baca juga: Hermeneutika Pesantren: Ragam Corak, Budaya dan Tradisinya

Barangkali golongan yang pertama beranggapan bahwa Undang-Undang Negara adalah satu hal yang tidak sama dengan Undang-Undang (Hukum) yang ditetapkan di dalam agama, sehingga mereka tidak dapat disamakan. Namun menurut hemat penulis, anggapan ini tidaklah relevan mengingat Undang-Undang itu sendiri hanyalah turunan dari Pancasila dalam rangka membantu masyarakat untuk mewujudkan nilai-nilai universal yang ditawarkan oleh Pancasila.

Begitu juga, hukum-hukum Fikih yang ditetapkan oleh para Ulama melalui proses ijtihad misalnya, tidak lain adalah dalam rangka mencapai nilai-nilai yang ditawarkan oleh agama.  Oleh karenanya, mengatakan bahwa Pancasila adalah suatu hal yang bertentangan dengan agama, tentu tidak dapat diterima karena keduanya sama-sama menawarkan nilai-nilai yang sejalan.

Maka sejatinya, tidak ada yang perlu diperdebatkan mengenai kesepadanan Pancasila dan Nilai-Nilai yang ditanamkan oleh Agama, sebagaimana tidak perlunya mempersoalkan Piagam Madinah sebagai Nilai-Nilai Dasar dalam menjalankan Negara yang ditetapkan oleh Rasululah saw dengan ajaran Islam yang beliau bawa sendiri. Pancasila itu muncul dari pemahaman keagaman dari para tokoh yang terlibat, yang disajikan dalam redaksi yang lebih nasionalis. Tujuannya adalah untuk mewujudkan kehidupan bernegara yang rukun dan damai, sebagaimana Islam dan agama-agama lainnya juga inginkan.

Oleh karenanya, mari kita maknai Hari Pancasila ini sebagai wadah untuk memperbaiki sikap dan pandangan kita dalam bernegara, sekaligus menimbang-nimbang kembali apakah cara kita menjalankan agama sudah sesuai dengan nilai-nilai yang ditawarkan oleh Pancasila? Jika belum, barangkali kita belum sepenuhnya mengerti tentang bagaimana menjadi penganut agama yang baik. Selamat Hari Lahir Pancasila!

Hamdi Putra Ahmad

Penulis adalah Redaktur website santritulen.com. Penulis juga merupakan Alumni PBSB UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta jurusan Ilmu Tafsir dan akan melanjutkan studi magister melalui LPDP di Oxford University, Inggris.

Artikel Menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *