Pandemi; Antara Ghiroh Keagamaan dan Roh Kemanusiaan

Physical distancing dan bahkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang menjadi pilihan pemerintah untuk membatasi/mencegah penyebaran virus corona memang secara langsung membuat kita berjauhan satu sama lain, namun, sejatinya, strategi ini secara tidak langsung juga mampu mendekatkan kita secara kemanusiaan. Paradoks ini dapat berjalan baik ketika kita mampu diam dan melakukan perenungan terlebih dahulu, sebuah termin yang mungkin amat sulit bagi makhluk yang diciptakan memiliki naluri hewaniah seperti manusia yang cenderung selalu ingin bergerak.

Melalui diam dan perenungan, sejatinya kita memulai sebuah perjalanan. Perjalanan menyelami samudera diri bernama kedamaian dan kemanusiaan. Di sisi lain, belakangan ini, para pembelajar agama malah cenderung kehilangan ‘ruh’ yang paling hakiki tersebut. Mungkin ini merupakan efek evolusif dari sebuah timbunan kebencian yang secara tidak sengaja terbangun.

Sebagian da’i mungkin khilaf, sehingga menafikan pendekatan/perspektif cinta dalam membangun ghirah beragama kepada para pengikutnya. Pola perbedaan dan hegemoni fanatisme yang merupakan sebuah keniscayaan, pada akhirnya menjadi pilihan yang tak mungkin ditolak. Praktis, kecintaan terhadap agama memang tercipta, namun dari pondasi satiris terhadap pihak lain yang dinilai berbeda karena sekedar faktor ijtihadiyah.

Baca Juga : Imunisasi dalam Masa Pandemi

Zaman now, dunia dakwah seolah telah bertransformasi menjadi industri. Mungkin ini juga merupakan konsekuensi dari globalisasi. Rating dan followers seakan menjadi orientasi. Tema dakwah menjadi sebuah komoditi, yang memang akomodatif, namun tidak begitu progresif. Dari sini, mungkin Da’i menjadi tak begitu berani, walau sebenarnya di dalam hati ada friksi. Hingga sampai pada hari ini, pola kebencian menjadi sebuah karakter komunal yang mendapat permisi.

Kita sebagai awam mungkin lupa, bahwa Da’i juga manusia. Mereka memiliki fantasi dan obsesi yang berhak dikritisi. Setidaknya, kita adalah hamba yang merdeka. Yang hidup bersama rasa dan logika. Yang bebas menggunakan naluri untuk ngangsu kawruh pada mereka yang senantiasa menjunjung akhlak mulia, bukan malah memecah belah umat lewat khilafiyah shalat jum’at yang diubah, mudik yang dicegah atau sholat ied yang terancam enyah.

Di tengah pandemi corona yang belum reda sepenuhnya, kita harus senantiasa hirau, bahwa melalui physical distancing dan PSBB ini, kita hanya diminta untuk menjaga jarak dengan penyakitnya, bukan terhadap Tuhan dan kemanusiaan. Kemanusiaan lebih butuh manusia yang suportif-solutif, bukan provokatif. Sedangkan agama dan Tuhan juga telah permisif terhadap hamba yang pro-aktif. Yang menjadikan agama benar-benar sebagai pedoman, bukan sekedar berhala puji-pujaan. Selain itu, kita juga musti sadar, bahwa sesungguhnya Tuhan telah menganugerahi kita tak hanya dengan keberanian, tapi juga sepaket dengan akal pikiran, supaya kita mampu bijaksana dalam menghadapi setiap pilihan, ujian dan bahkan cobaan.

"Wala tamutunna illa wa antum katibun" - Janganlah engkau mati sebelum menjadi seorang penulis.

Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub
Buka WhatsApp
1
Assalamualaikum. Ada yang bisa kami bantu? silahkan chat melalui whatsapp ini. Terima Kasih.