Pandemi, Kemiskinan dan Solusi Ekonomi Islam

Sudah satu tahun lebih Indonesia tercemar suatu wabah yang mendunia dan menghadapi pandemik yang begitu dahsyat, Virus Corona (Covid 19). Wabah ini telah banyak menelan korban jiwa hingga 15 maret 2021 total 120,428,199 juta kasus di seluruh dunia terinfeksi. Kematian kini mencapai 2,665,548 dan 96,981,033 dapat sembuh dikutif dari Tribun (15/3). Tahun berganti tahun, bahkan dari ramadhan tahun lalu dibalut kekhawatiran ditengah-tengah wabah tidak terasa kini sudah mau memasuki ramadhan lagi ditahun kini.

Wabah ini seharusnya semakin menambah ketaatan kita kepada Allah swt. Dengan pendemi ini Allah sesungguhnya hendak memberikan pelajaran kepada kita sebaagi seorang insan yang serba terbatas tentang kemahabesaran Allah dan kelemahan kita sebagai hamba-Nya di muka bumi. Sudah seharusnya kita mencampakkan kesombongan kita. Kita kerap merasa hebat di hadapan manusia, bahkan merasa hebat di hadapan Allah. Kondisi ini seharusnya membuat kita lebih tunduk lagi kepada Allah. Wujud ketaatan itu tidak lain adalah dengan menjalankan Islam secara kaffah.

Kemiskinan (al-faqr) secara etimologi bermakna ihtiyaj (membutuhkan), dikatakan misalnya: faqara wa iftaqara, lawan katanya istaghna (tidak membutuhkan/berkecukupan); iftiqara ilayhi maknanya adalah ihtaja h (membutuhkan). Orangnya disebut dengan orang-orang yang membutuhkan, yang keadaannya lemah dan tidak bisa dimintai apa-apa, sebagaimana Mujahid mengatakan bahwa “Faqir adalah orang yang tidak bisa dimintai apa-apa” sedangkan Ikrimah juga mengatakan “Faqir adalah orang yang lemah”. Oleh karena itu, kemiskinan adalah orang-orang yang membutuhkan, yang keadaannya lemah dan tidak bisa dimintai apa-apa, sebagaimana Mujahid mengatakan bahwa “Faqir adalah orang yang tidak bisa dimintai apa-apa” sedangkan Ikrimah juga mengatakan “Faqir adalah orang yang lemah”. Sebagaimana Allah berfirman:

فسقى لهما ثم تولى إلى الظل فقال رب إني لماأنزلت إلي من خيرفقير

Maka Tuhanku, sesungguhnya aku sangat membutuhkan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.”  (QS al-Qashash (28): 24).

Pendefinisian kemiskinan tentu tidaklah mudah karena setiap tempat, wilayah atau negara tentu tidaklah sama. Mungkin mereka yang tidak mempunyai televisi, kulkas, dan sepeda motor di wilayah perkotaan atau di negara-negara maju dapat terkategorikan masyarakat miskin. Akan tetapi, jika kita melihat mereka yang ada di daerah pedesaan atau negara-negara yang kurang berkembang (berada pada keterbelakangan) tentu tidak bisa dikatakan miskin bagi mereka yang masih tetap bisa makan walau satu hari hanya sekali.

Mengutif dari Maipita, 2014 dari sudut pandang International dalam bukunya menyebutkan bahwa Bank Dunia mendefinisikan kemiskinan sebagai “Poperty is lack of shelter. Poverty is being sick and not being able to see a doctor. Poverty in not being able to go to school and not knowing how to read. Poverty is not having a job, is fear of the future, living one day at a time. Poperty is losing a child to illness brought about by unclean water. Poverty is powerlessness, lack of refresentation and freedom”. Kemiskinan yang banyak terjadi di beberapa negara berkembang merupakan salah satu permasalah yang kompleks dan bersifat multidimensional. Problematika kemiskinan merupakan salah satu permasalahan mendasar bagi bangsa Indonesia yang saat ini sedang dihadapi, sejumlah kebijakan telah dikeluarkan pemerintah dalam mengatasinya, namun demikian seringkali kebijakan-kebijakan tersebut tidak berjalan dengan baik.



Ekonomi Islam Solusi Problematika Umat

Sistem ekonomi islam merupakan sebuah sistem yang membahas permasalahan-permasalahan ekonomi (perolehan, pengelolaan, dan penyaluran) dengan solusi dari sebuah konsep khas yang bersumber utama pada al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw. Sistem ekonomi islam lebih menekankan kepada pengaturan distribusi kekayaan yang merata ditengah-tengah masyakat dengan sebuah aturan yang tidak hanya sekedar mengandalkan akal fikiran manusia manusia semata yang jelas-jelas ada keterbatasan, akan tetapi sebuah aturan dari sang pencipta daripada manusia itu sendiri yakni Allah swt. Segala permasalahan yang diderita dan dialami oleh manusia, khususnya umat Islam harus yakin bahwa ada Allah bersama mereka. Islam mengatur segala aspek kehidupan termasuk solusi perbaikan ekonomi dimasa pandemik dan permasalahan kemiskinan yang dialami umat manusia.

Oleh karena itu, solusi ekonomi Islam hadir dengan menegakkan konsep distribusi kekayaan yang merata diantara anggota masyarakat Muslim dengan mengambil tindakan yang amat efektif. Sebagaimana Allah menegaskan dengan firman-Nya didalam al-Quran, menyatakan dengan jelas: “…. supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu….” (QS al-Hasyr (59): 7). Itu berarti bahwa harta kekayaan jangan hanya beredar dalam lingkaran orang-orang kaya saja akan tetapi juga harus dapat memasuki ke lingkaran seluruh elemen masyarakat, baik kaya ataupun miskin. Begitupun Allah juga mengutuk dengan tegas, serta memberi ancaman hukuman bagi mereka yang menimbun harta, sebagaimana Allah menegaskan didalam Al-Quran, “…. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.” (QS at-Taubah (9): 34).

wa Allahu’alam bissawab



Avatar

Muhammad Noor

Penulis adalah Mahasiswa Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Magister Agama dan Lintas Budaya, Minat Studi Ekonomi Islam.

Artikel Menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *