Pandemi, Pelajar dan Pengembangan Diri

Hampir satu tahun pandemi wabah covid-19 menimpa umat manusia. Satu tahun bukanlah jangka waktu yang sebentar, satu tahun bukanlah jangka waktu yang singkat. Dapat dipastikan sebagian besar bahkan seluruh masyarakat dunia mengalami kegundahan, kegalauan, kepincangan dan stress karena tidak bisa melakukan aktivitas normal seperti biasanya. Selama pandemi ini masih terjadi masih akan banyak permasalahan dan tantangan yang menghampiri.

Selain disebutkan diatas dampak negative dari lamanya wabah ini adalah tidak terlaksanakannya  KBM (Kegiatan Belajar mengajar) secara normal dan sempurna sehingga banyak ditemukan menurunnya gairah pembelajaran pelajar. Pelajar yang melakukan pembelajaran online ternyata tidak sesemangat belajar offline. Faktor kuota, jaringan dan kepemilikan ponsel menjadi salah satu kendala. Adapun dampak positif dari wabah ini adalah terjalin kedekatan di lingkungan keluarga, lebih peduli dengan kesehatan hingga pendekatan diri pada sang Khaliq.

Setiap peristiwa tentu membawa serta dampaknya, apakah dampak negative atau dampak positif. Tergantung bagaimana kita merespon dan memberikan makna pada peristiwa tersebut. Sebagai pelajar, yang terpenting adalah bagaimana cara kita menghadapi dan mensikapi ketidaknormalan masa pandemi ini sebagai kesempatan untuk mengembangkan potensi diri. Kita buka mindset atau pola pikir untuk terus belajar, apapun dan bagaimanapun keadaannya. Pandemi tidak perlu dijadikan alasan untuk bermalas-malasan, untuk santai-santai tanpa harus menciptakan imajinasi positif. Sebaliknya, pandemic harus melahirkan sikap kritis, kreatif yang mendorong pelajar untuk selalu meng up-grade diri.

Ada beberapa tips bagi pelajar dalam mensikapi pandemi.

Pertama, Sabar. Pelajar harus membekali diri dengan sikap Sabar. Sabar adalah sebuah komitmen untuk menjalankan apa yang diperintahkan Allah, menjalaninya dengan penuh syukur dan legowo dalam kesulitan atau musibah apapun. Sabar sendiri ada bermacam-macam definisinya ada sabar dalam menjalankan ketaatan, sabar dalam menjauhi maksiat, sabar ketika ditimpa penyakit, sabar ketika disakiti oleh sesama dan sabar ketika ditimpa musibah. Saat inilah kesabaran kita sebagai pelajar sedang diuji, apalagi bagi pelajar yang hendak hadapi ujian kelulusan. Bersabar untuk tetap menimba ilmu, menyiapkan materi ujian dalam kondisi yang sangat terbatas.

Salah satu sikap sabar yang patut kita teladani dari Nabi Muhammad. dan para kaumnya adalah pada saat terjadinya sebuah perjanjian dzolim, yakni pemboikotan yang dilakukan kaum Quraisy terhadap bani Hasyim dan bani Muthalib. Pemboikotan dilakukan dengan cara mengucilkan bani Hasyim dan bani Muthalib. Pemboikotan ini dilakukan agar bani hasyim dan bani Muthalib menyerahkan Rasulullah. Kepada kaum Quraisy untuk dibunuh. Selama 3 tahun bani Hasyim dan bani Muthalib sangat kesusahan untuk mendapatkan makanan, sehingga tak sedikit dari mereka memakan dedaunan dan kulit-kulit. Ini adalah fase yang sangat menyedihkan bagi Rasulullah dan para kaumnya pada saat itu, kesabaran mereka benar-benar diuji oleh Allah.

Kedua, Ikhtiyar. Bagi pelajar, berikhtiyar di tengah pandemic adalah bagian dari usaha untuk tetap melakukan kegiatan-kegiatan yang positif dan manfaat. Pelajar harus tetap menggali potensi, mengembangkan sikap kreatif bahkan pandemic tidak menutup kemungkinan bagi pelajar untuk produktif. Kesempatan berinteraksi dengan gadget harus bisa dimanfaatkan untuk menambah pengetahuan dan wawasan.

Sabar dan ikhtiyar menjadi poin penting yang harus dimiliki dan diasah terus bagi pelajar di masa pandemic. Jika dua hal ini dilakukan secara bersama-sama maka akan muncul potensi pengembangan diri secara sempurna. Dalam kondisi apapun pelajar sudah semestinya tetap mengasah kemampuannya, tahan banting dan selalu berkhusnudzon pada sang pencipta.

*Catatan singkat disarikan dari pengajian Shiroh Nabawiyah oleh Ibu Nyai Badriyah Fayumi, Senin 16 November 2020



Buka Chat
1
Assalamualaikum. Ada yang bisa kami bantu? silahkan chat melalui whatsapp ini. Terima Kasih.