Press "Enter" to skip to content

“Pecalang”, Bansernya agama Hindu: Belajar Toleransi dari Polisi Adat Bali

Waktu Baca:2 Menit, 38 Detik

Kita semua tentunya tahu, bahwa Indonesia merupakan salah satu negara heterogen terbesar di Asia, bahkan di Dunia. Indonesia tercatat memiliki beraneka ragam etnis, budaya, dan agama yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Ini adalah salah satu bukti nyata dari kebenaran firman Allah yang dapat kita temukan dan kita rasakan. Dalam al-Quran, surat al-Hujurat ayat 13, Allah menjelaskan bahwasannya perbedaan yang ada merupakan sunnah-Nya yang harus kita sikapi sebagai perantara agar kita lebih dekat kepada-Nya.

Untuk menjaga dan melindungi hak serta kewajiban rakyatnya dari berbagai etnis, budaya, maupun agama di bawah pemerintahan Indonesia, para pahlawan dan pejuang kemerdekaan bangsa ini telah berhasil meyusun falsafah Pancasila sebagai dasar negara melalui musyawarah bersama yang panjang menuju kata mufakat. Dalam falsafah Pancasila ini, dapat kita jumpai contoh bentuk toleransi yang besar di dalamnya, tidak memandang etnis, budaya, maupun agama tertentu, sehingga kita dapat hidup aman dan nyaman dengan dasar negara kita ini.



Namun dewasa ini, telah banyak terjadi peristiwa-peristiwa intoleran di berbagai wilayah, mulai dari cuitan di twitter atau status di facebook yang menghina dan memojokkan salah satu golongan tertentu sampai peristiwa penghentian kegiatan keagamaan umat Kristiani yang dilakukan oleh beberapa oknum dari salah satu agama yang faktanya merupakan agama mayoritas di negara ini, yaitu saudara-saudara seagama dan seiman dengan kita.

Tahu ga sih? Sebenarnya peristiwa-peristiwa tersebut itu merusak citra agama kita, agama Islam yang rahmatan lil alamin dan cinta damai. Mungkin mereka yang non-muslim akan menganggap ajaran agama kita hanya berisi kekerasan dan alergi dengan perbedaan yang ada. Kita boleh menjadi agama mayoritas di negara ini, tapi apa gunanya jika pemikiran dan sudut pandang kita dalam menyikapi perbedaan yang ada tidak sebaik dan seindah orang-orang non muslim.

Coba kita lihat dan perhatikan saudara-saudara Hindu kita di pulau dewata, Bali. Meskipun agama Hindu merupakan agama mayoritas di pulau Bali, namun minoritas di Indonesia, mereka dapat mengayomi saudara-saudaranya yang berbeda agama dan dapat hidup rukun bersama-sama di sana. Tidak ada peristiwa pembubaran jamaat Kristiani yang sedang beribadah di gereja pada hari minggu atau penutupan kajian-kajian keagamaan di berbagai musholla dan masjid di daerah Bali.

Bahkan, polisi adat Bali yang dapat disebut juga sebagai “Pecalang” turut membantu mengamankan dan menjaga ketertiban dalam setiap proses kegiatan keagamaan yang ada di pulau Bali, seperti mengamankan dan menjaga ketertiban dalam proses solat jumat. Bukankah indah hidup bersama dan berdampingan dalam perbedaan yang ada seperti ini? Di mana tujuan dari sila pertama Pancasila (ketuhanan yang maha esa) berupa kebebasan masyarakat dalam menjalankan agamanya secara aman dan nyaman dapat tercapai dengan berbagai warnanya.

Dalam kaidah ushul fiqh, kita dapat menemukan kaidah yang berbunyi:

مالايتم الواجب الا به فهو واجب

“Perkara wajib yang tidak sempurna kecuali dengannya, maka perantara itu menjadi wajib”

Kita tahu bahwa menebar cinta dan kasih sayang sesuai dengan Islam kepada seluruh makhluk ciptaan-Nya merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap individu muslim. Oleh karena itu, saling menjaga dan memahami antar pemeluk agama lain serta saling menghargai dan menyayangi hukumnya wajib dilakuan sebagai perantara agar nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin dapat dirasakan oleh seluruh makhluk-Nya di muka bumi ini.



Facebook Comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *