Press "Enter" to skip to content

Penggaris Untuk Arini

Waktu Baca:3 Menit, 57 Detik

Arini kecilku yang manis dan pintar minta beli penggaris baru. Katanya, penggaris itu harus panjang dan bergambar kelinci. Tentu saja mudah mencari penggaris 30 cm bergambar kelinci. Namun, di hari aku membawakan penggaris kelinci berwarna hijau tosca Arini malah cemberut. Gadis kecilku bilang penggaris itu tidak cukup panjang.

Keesokan hari aku pergi lagi ke pasar. Di setiap toko ada penggaris ukuran 50 cm dan 100 cm, tapi tidak ada yang bergambar kelinci. Penggaris panjang itu desainnya kaku, formal, dan tidak menarik. Penggaris dengan ukuran segitu memang biasanya dipakai guru untuk menggaris di papan tulis.

Ini penggarisnya bisa dibelah dua, jadi panjangnya bisa 2x lipat. Kalau digabung 30 cm, kalau dibuka jadi 60 cm” tawar Kemal, temanku yang menjual peralatan tulis di pasar induk.

Penggaris itu berwarna pink dengan gambar Hello Kitty. Ada lingkaran di salah satu ujungnya. Saat penggaris itu ditarik salah satu sisinya, lingkaran itu berputar dan dua sisi penggaris menyatu menjadi penggaris yang lebih panjang dengan lebar yang lebih pendek. Arini pasti suka penggaris ini.

Dengan senyum merekah sepanjang perjalanan pulang, aku membayangkan wajah Arini saat nanti melihat penggaris ini. Benar saja. Senyuman semanis coklat dan tawa yang riang melengkapi pelukannya untukku. Gadis kecilku, Ariniku, bolak-balik membuat penggaris itu memanjang dan kembali ke ukuran aslinya.

Arini memintaku menjulurkan tangan. Aku menurut saja. Arini kemudian memanjangkan penggaris itu dan mendekatkannya pada tanganku. Penggaris itu panjang, tapi tangan ku lebih panjang. Arini kembali cemberut. Katanya, dia ingin penggaris yang sepanjang tanganku.

Arini sayang, besok ayah belikan penggaris yang sepanjang tangan Ayah, ya,” bujukku. Arini mengangguk. Dia membuka buku pelajarannya dan mulai mengerjakan PR. Anakku yang rajin, Ariniku yang mandiri, dia bahkan tidak perlu disuruh-suruh belajar.

Ayah, Arini mau pinjam HP” pinta Arini.

Aku menyerahkan ponselku. Membiarkan Arini membuka youtube. Gadis kecilku duduk di pangkuanku. Aku mengintip ke layar. Melihat jari kecilnya mengetikkan “cara mengukur tangan” di kolom pencarian. Lalu banyak video muncul. Rata-rata video berkaitan dengan mengukur pola baju.

Arini mau jadi desainer baju?” tanyaku.

Ngak tau,” jawabnya cepat.

Anak seumur Arini memang masih perlu mencoba banyak hal. Mereka belum tau mereka sukanya apa, bisanya apa, dan maunya apa. Yang terpenting sekarang, aku akan berusaha menyiapkan semua yang Arini butuhkan.

Besoknya lagi, selepas pulang dari kantor, aku kembali datang ke toko milik Kemal. Dia tertawa saat aku bilang aku mau penggaris yang sepanjang tanganku. Kemal mengambil pengaris ukuran 100 cm tanpa kelinci. Aku hampir balik kanan dan hendak mencari ke toko lain karena Kemal tidak menjual penggaris kelinci ukuran 100 cm.

Sampai habis sol sepatumu ngak bakal ada penggaris 100 cm gambar kelinci, San. Kan kamu orang kantoran, bisa lah kamu print aja gambar kelinci di kantormu, terus tinggal tempel. Gitu aja kok repot?” tawa Kemal.

Aku manut-manut. Aku punya printer di rumah. Aku bisa meminta Arini memilih kelinci yang ia suka dan kami bisa menempelkannya di penggaris itu bersama. Pintar juga si Kemal.

Makasih, Bro,” ujar Kemal saat memberiku uang kembalian.

Arini sempat cemberut, tapi saat aku bilang kita akan menempel kelinci bersama, Arini kembali gembira. Dia memilih kelinci putih yang memegang wortel, kelinci gembul, dan kelinci dengan kostum princess kesukaannya. Arini juga senang kali ini penggaris itu sepanjang tanganku.

Aku melihati Arini kembali menonton youtube untuk mencari cara mengukur tangan. Aku mengarahkan Arini mencari akun-akun desainer terkenal. Semoga dia terinspirasi.

Ayah, kok penggaris tante ini bisa meliuk begitu?

Ini namanya meteran. Untuk penjahit mengukur ukuran badan

Kalau penggaris Arini bisa tidak, Yah?

Jadi Arini mau penggaris panjang untuk ukur tangan Ayah?

Ya iya. Ngapain Arini cobain penggarisnya ke tangan Ayah kalau nga buat ngukur tangan Ayah

Tapi meteran tidak ada kelincinya.

Nga bisa kita tempel kayak sekarang, Yah?

Bisa, tapi kelincinya bakal kecil banget” kataku sambil menunjukkan jarak antara ibu jari dan telunjukku yang kira-kira selebar meteran.

Gapapa. Nanti kita tempel anak kelinci biar lucu

Hari selanjutnya, saat Kemal melihatku di pasar induk, dia tertawa lagi. Dia pikir aku bakal belanja di tempat nya. Saat ku bilang aku akan ke toko jahit, kening Kemal berkerut.

Kau cari apa?

Meteran. Arini mau belajar mengukur badan. Mungkin hobi baru karena menonton

Aku datang ke toko jahit yang cukup jauh dari toko Kemal. Semua meteran lebarnya sama. Aku memilih meteran kuning yang punya pengait otomatis. Jadi, meteran itu bisa ditarik memanjang. Saat tidak dipakai, tinggal tarik tuas dan meteran itu otomatis menggulung masuk.

Arini ku yang gembira memainkan meteran itu dengan asyik. Bahkan ia lupa belum menempel gambar anak kelinci yang sudah ia siapkan kemarin. Tangannya menarik-ulur meteran, lalu mengarahkannya ke tanganku.

Ayah, kalau segini panjang atau tidak?

Aku mengerutkan kening.

Kata guru Arini, pencuri tangannya panjang. Arini mau ukur tangan Ayah buat buktiin Ayah pencuri atau bukan. Soalnya teman Arini banyak yang bisik-bisik, kata orang tua mereka Ayah pencuri uang rakyat.

TAMAT

Facebook Comments
Latest posts by Matahari (see all)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *