Press "Enter" to skip to content

Pengkajian Kodikologis Naskah Keagamaan Islam di Bali

Sudah tak diragukan lagi, Indonesia mempunyai aneka ragam seni dan budaya yang berlimpah ruah dengan segala keistimewaan di dalamnya. Salah satu wujud adanya budaya yang menjadi warisan nenek moyang adalah sebuah manuskrip atau naskah kuno. Keberadaannya yang memuat nilai-nilai Islam mampu menghipnotis para tokoh asing untuk menelitinya. Manfaat yang didapat ketika mengkaji manuskrip-manuskrip tersebut sangat banyak, salah satunya yaitu akan menjadi bagian dari upaya pelestarian warisan budaya, menjaga keotentikan suatu naskah, melanjutkan proses islamisasi dan syiar Islam.

Penelitian naskah secara kodikologis merupakan penelitian yang mempelajari seluruh aspek naskah, bahan, umur, tempat penulisan, cap dan alas naskah, kondisi fisik, hingga iluminasi dan ilustrasi dalam naskah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa sebuah manuskrip jenis codex (teras batang pohon;berhubungan dengan pemanfaatan kayu)agar diketahui dengan jelas bagaimana teknik pembuatan manuskrip tersebut dan kapan ia dibuat.

Di sini, fokus pembahasan yang disajikan yaitu pada manuskrip kuno yang berada di Bali. Manuskrip yang keberadaannya yang masih di tangan masyarakat belum jelas bagaimana kondisinya. Menurut penelitian, naskah-naskah di sana sudah sangat tua dan tidak terawat. Untuk itu, penelitian naskah-naskah tersebut sangat penting utuk menjaga kelestarian khazanah Islam di Indonesia, khususnya di provinsi Bali. Naskah dengan kondisi seperti disebutkan di atas sangat disayangkan jika tidak ada yang menginventariskan secara resmi. Jika dibiarkan, bisa jadi nanti naskah tersebut akan punah dan pindah tangan kepada orang yang tidak bertanggung jawab.

Menurut Henri Chambert-Loir dan Fathurahman, “Pulau Bali terkenal sebagai gudang sastra Jawa Kuna karena sastra Jawa yang ditulis di berbagai kerajaan beragama Hindu-Buddha di  Jawa Tengah dan Jawa Timur antara abad ke-10 dan ke-15, dan yang hampir punah setelah kedatangan agama Islam, masih berlanjut di Bali, bahkan hidup sampai kini.” Pernyataan ini dibuktikan dengan adanya sejumlah lembaga, museum, dan perguruan tinggi yang menyimpan ratusan bahkan ribuan naskah kuno. Contoh konkritnya yaitu Fakultas Sastra Universitas Udayana yang mempunyai 740 naskah, Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali, Denpasar mengoleksi sekitar 1.416 naskah, Museum Negeri Provinsi Bali, Denpasar menyimpan 266 naskah, dan masih banyak yang lainnya.



Terlepas dari banyaknya naskah yang telah terdokumentasi tersebut, di sana juga terdapat naskah keagamaan islam dan mushaf al-qur’an kuno yang ditemukan sebanyak 38 naskah. Berisi tentang ajaran islam diantaranya wirid, doa, obat-obatan, bahasa, geguritan, pembahasan fikih dan tasawuf.

Naskah keagamaan Islam di Bali ditulis dengan bahan dluang, kertas Eropa, kertas modern bergaris, dan lontar. Dari 38 naskah, terdapat tiga naskah yang ditulis di atas dluang, yaitu dua naskah milik Drs. Suharto di Pegayaman dan satu mushaf Al-Qur’an, lengkap 30 juz, milik M. Zen Usman di Kampung Jawa Singaraja. Sebagian besar naskah lainnya ditulis di atas kertas Eropa. Beberapa cap kertas (watermark) dan cap tandingan (countermark) yang berhasil diidentifikasi antara lain kelompok Crescent, Pro Patria, Britania, dan Horn (tertera angka tahun 1825 pada mushaf di Masjid al-Muhajirin, Kepaon). Naskah yang ditulis di atas kertas Eropa berjumlah 7 naskah.

Usia naskah yang telah diteliti umurnya berbeda-beda. Di antara banyaknya naskah, yang berumur paling tua adalah naskah Al-Qur’an milik M. Zen Usman dari kampung Jawa. Mushaf ini selesai ditulis pada malam Ahad, 21 Muharram 1035 H atau bertepatan pada 1625 M. Umumnya, naskah ditulis pada abaad ke-13 H atau sekitar abad 18-19 M. Kolofon yang agak tua terdapat pada naskah Al-Qur’an MAJS/NQ/03 koleksi Masjid Agung Jami’ Singaraja, yaitu bulan Zulqa’dah 1265 H/1848 M.

Aspek bahasa dan aksara yang digunakan dalam naskah keagamaan islam di Bali menggunakan empat bahasa yaitu Arab, Bugis, Bali, dan Jawa. Sedangkan aksaranya menggunakan aksara Arab, Melayu, Bugis, dan Bali.



Kolofon tidak banyak ditemukan dari 38 naskah di Bali. Setidaknya ada enam naskah yang berkolofon, dan dalam naskah MA 01 milik H. Musthafa Amin terdapat dua kolofon.  Pada naskah MA 01, yang terdiri dari beberapa teks, h. 33v bagian akhir teks pertama terdapat nama kitab, yakni “Kitab Nikah” dan waktu penyalinannya.

Ilustrasi adalah sebuah gambar yang behubungan dengan teks dalam naskah supaya suatu teks lebih mudah dipahami. Seperti dalam naskah MA 03, h. 11r, terdapat ilustrasi tentang sifat-sifat Allah berdasarkan kalimat “La” “ilaha” “illa””allah” yang dibagi ke dalam empat kategori yaitu “La” “Ilaha” “Illa” “Allah”. Pada naskah MA 04, h. 17v, kata Ilah diletakkan dalam kotak belah ketupat dan segi empat, dan di sekelilingnya terdapat penjelasan sehingga membentuk semacam concept map (peta konsep), terkait dengan ilmu ma’rifah, dan disebut juga nama-nama  malaikat, sahabat, dan lain-lain. Sedangkan iluminasi adalah sebuah hiasan yang tidak berhubungan dengan teks. Dalam naskah-naskah keagamaan Islam di Bali tidak ditemukan iluminasi, kecuali dalam naskah  Al-Qur’an. Contohnya yaitu mushaf di Masjid Agung Singaraja yang unik dan menarik, yakni iluminasi dalam bentuk arabesk (pola geometris yang disalin bersilangan) dari kalimat La ilaha Illallah Muhammad Rosululloh sebagai bingkai hiasan yang mengelilingi bidang teks ayat-ayat Al-Qur’an, yang terdapat pada bagian tengah mushaf.

Tipe Iluminasi mushaf halaman tengah dari Jawa. Mushaf disalin di Surakarta pada 1797-1798 M oleh Ki Atmaparwita, koleksi Widya Budaya, Kraton Yogyakarta, dalam Ann Kumar dan John H. McGlynn, Illuminations, 1996, h. 35

Iluminasi bagian awal pada mushaf kuno dari Kp. Jawa Singaraja
Iluminasi bagian awal pada mushaf kuno dari Kp. Jawa Singaraja



Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *