Press "Enter" to skip to content

Peran Agama Bagi Individu dan Masyarakat di Tengah Pandemi Virus Corona

Agama dapat dikatakan sebagai sistem simbol karena tidak ada definisi yang pasti tentangnya. Dalam sebuah masyarakat, agama bisa saja tidak sesuai dengan etnis tertentu. Begitu juga, Islam belum tentu sama dengan agama lain. Dalam pemaknaannya, agama bagi setiap individu adalah subjek yang bertindak, sedangkan masyarakat adalah kumpulan dari individu-individu yang saling berbeda dalam memandang nilai dan norma. Sehingga hendaknya individu menentukan sendiri apa yang dianggapnya baik dan benar agar terhindar dari arus perbedaan dalam masyarakat tempat dia berada.

Agama memiliki fungsi individual meaning system, yaitu fungsi identitas yang menjadi pembeda. Ia juga merupakan way of life dan world view bagi si penganut kepercayaan tersebut. Sedangkan dalam masyarakat, agama berfungsi sebagai sistem dari aktivitas berorganisasi, sistem ritual dan susila. Dalam sosio-antropologi, Tuhan selalu ada dalam praktek penganutnya. Ada empat ciri fundamental terkait pendekatan antropologi terhadap agama yaitu: a) Bercorak deskriptif dan bukan normative; b) Local practices, yaitu praktek konkrit dan nyata di lapangan; c) Bahwa antropologi selalu mencari keterhubungan dan keterkaitan antara berbagai domain kehidupan secara lebih utuh (connections across social domains); dan d) Komparatif.

Jika dihubungkan dengan aktifitas penganutnya, maka di dalam setiap  agama terdapat apa yang disebut dengan ibadah. Di mana hal ini merupakan perkara yang paling pokok bagi setiap pemeluk agama.  Jika dikaitkan dengan wabah yang sedang melanda saat ini, pelaksanaan ibadah tentu saja dapat terhalang dan terhambat setelah berlakunya sosial distancing yang diterapkan di hampir seluruh dunia, termasuk Indonesia. Karena virus yang mematikan ini mencegah orang-orang untuk berkumpul dan menganjurkan mereka untuk tetap di rumah. Sedangkan tidak sedikit di setiap agama memiliki ritual agama yang harus dilakukan secara bersama-sama yang melibatkan banyak orang.

Baca juga: Mengkaji Kehidupan

Dalam Islam, hal ini dapat disebut sebagai musibah yang sulit untuk dihindari oleh makhluk hidup apapun, terutama manusia. Krisis yang selalu menghantui dan penderitaan yang dirasakan dari musibah ini menguji manusia apakah ia dapat bersabar atas ujian tersebut atau sebaliknya. Di sini kita bisa melihat bahwa kekayaan, jabatan dan semuanya tidak berarti jika hadapkan dengan kuasa Allah. Semua tidak berdaya dan tidak ada yang dapat menghentikannya kecuali dengan usaha dan pencegahan terhadap musibah tersebut. Akan tetapi, jika hal itu sudah terjadi maka sikap kita sebagai makhluk yang dikaruniai akal hendaknya mematuhi peraturan yang ditetapkan supaya tidak memperluas menyebaran virus tersebut.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari terdapat himbauan untuk menahan diri di rumah masing-masing di tengah penyebaran wabah. Hadis tersebut memiliki arti sebagai berikut:

Dari Aisyah ra. Ia berkata: aku bertanya kepada Rasulullah Saw perihal Tha’un, lalu Rasulullah Saw memberitahuku, : “Zaman dulu Tha’un adalah azab yang diturunkan Allah kepada siapa saja yang dikehendaki oleh-Nya, tetapi Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang beriman, Tiada seorangpun yang ditimpa Tha’un, kemudian menahan diri di rumahnya dengan bersabar serta mengharapkan ridha ilahi seyara menyadari bahwa Tha’un tidak akan mengenai selain karena telah menjadi ketentuan Allah untuknya, niscaya ia akan memperoleh ganjaran seperti pahala orang yang mati syahid.”(H.R. Ahmad).

Dalam hadis ini, kita dapat mengambil pelajaran bahwa tidak semua musibah itu adalah karma. Akan tetapi ia juga bisa sebagai rahmat yang diberikan Allah untuk meningkatkan derajat kita sekaligus menjadikan kita sebagai hamba yang pandai bersyukur dalam setiap keadaan. Selain itu hadis ini juga mengajarkan kita untuk tidak menjadikan wabah sebagai sesuatu yang dikhawatirkan secara berlebihan. Karena dari yang tahu bahwa sesuatu yang berlebihan adalah perilaku yang kurang bijak dan tidak pantas.

Baca juga: Hikmah Mempelajari Bahasa Arab dari Fenomena Lagu “Ya Tab Tab”

Itulah mengapa agama sangat berperan penting dalam menghadapi musibah terutama di tengah pandemi corona ini. Agama mengajarkan keteguhan hati dan sikap kita dalam menghadapinya.  Di samping itu, ia juga mengajarkan manusia untuk menjalani hidup yang sehat dan bersih. Karena, hidup yang sehat merupakan salah satu upaya kita untuk mendapatkan hidup bahagia dan penuh berkah.

Dikatakan hidup yang bahagia karena dengan tubuh yang tidak sehat maka semua aktifitas yang dilakukan akan terganggu bahkan menjadi tertunda. Dan bukankah hal ini sangat menghambat pekerjaaan sehari-hari? Dengan tubuh yang sehat, kita dapat menjalani kehidupan dengan penuh semangat dan ceria dan beribadah pun tidak terganggu. Karena sehat dan sakit adalah bagian kehidupan manusia yang saling bertolak belakang serta tidak bisa kita hindari, yang merupakan bagian dari sunnatullah.

Dengan memakan makanan dan meminum minuman yang sehat pula, insyaAllah kita akan terhindar dari segala macam penyakit dengan catatan tidak berlebih-lebihan. Sebagimana dalam firman Allah Swt. Dalam firman-Nya surah al-A’raf [7]:31, yang artinya: “Makan dan minumlah kalian, dan janganlah berlebih-lebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang- orang yang berlebih- lebihan”.

Ayat tersebut mengandung makna sekaligus anjuran unuk kita agar menjalani pola hidup sehat dalam bentuk melakukan kegiatan-kegiatan yang akan mendatangkan kebaikan dan menghindari kegiatan yang mendatangkan mudharat (merugikan). Agama sangat menganjurkan semua ini demi kelangsungan hidup yang lebih baik dengan tujuan menegakkan kebenaran dan mewujudkan kehidupan yang bahagia, bermanfaat dan sejahtera.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *