Peran Aktif Santri Di Tengah Pandemi

Pandemi COVID-19 telah merubah seluruh tatanan dunia. Mulai dari sektor kesehatan, pendidikan, sosial, ekonomi, hingga keagamaan harus merasakan dampaknya secara langsung maupun tidak. Keadaan tersebut memaksa pemerintah mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru dalam situasi darurat seperti saat ini. Kebijakan tersebut dalam rangka membendung dan mengurangi dampak dari pandemi, serta menjaga keselamatan seluruh masyarakat Indonesia. 

Pada Maret 2020, Presiden Joko Widodo menyampaikan himbauan dalam konferensi pers bahwa kini saatnya kerja dari rumah, belajar dari rumah, dan ibadah di rumah. Setelah himbauan ini disampaikan, seluruh masyarakat Indonesia harus melakukan beberapa penyesuaian. Bagi yang biasa bekerja di kantor, pasar, pabrik, dan seterusnya harus mulai merubah pola kerja mereka. Bagi yang biasa belajar di sekolah, madrasah, ataupun pondok pesantren harus mulai belajar dari rumah. Selain itu, seluruh tempat ibadah seperti masjid dan gereja juga ditutup untuk sementara waktu.

Dampak Pandemi bagi Lembaga Pondok Pesantren

Sebagai pihak yang ikut terdampak COVID-19, pondok pesantren juga harus mengambil sikap demi kemasalahatan bersama. Apalagi saat ini keberadaan pondok pesantren sudah menjadi sebuah lembaga yang mengakar dalam masyarakat. Di samping menjadi lembaga pendidikan, pesantren juga menjalankan fungsinya sebagai sebagai lembaga keagamaan, dan sosial kemasyarakatan. Kini pesantren telah tumbuh dan berkembang menjadi kekuatan besar dalam kehidupan masyarakat yang tidak bisa diabaikan.

Sejak adanya himbauan untuk bekerja, belajar, dan beribadah di rumah, beberapa pesantren langsung mengeluarkan kebijakan untuk memulangkan para santrinya. Berbagai ormas Islam yang menaungi pondok pesantren seperti Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) juga mengeluarkan surat edaran tentang penyesuaian-penyesuaian yang harus dilakukan. Akhirnya, kegiatan ngaji di pondok pesantren sementara waktu harus ditiadakan demi keselamatan dan kebaikan bersama. Santri pun harus kembali ke kampung mereka masing-masing dan berkumpul dengan keluarga tercinta sambil menunggu kondisi normal kembali.

Selama di pesantren, santri telah dibekali dengan berbagai keilmuan dan pengalaman. Kekuatan iman dan taqwa, keluasan khazanah islam yang ramah, pemahaman mendalam tentang agama, penanaman karakter yang kuat, dan bekal-bekal lain telah diberikan kepada mereka. Kini saatnya bekal-bekal tersebut diolah dan dibagikan kepada masyarakat. COVID-19 seakan memaksa santri untuk mengamalkan ilmu dan pengalaman yang telah mereka miliki.

Pesantren adalah miniatur masyarakat. Artinya mau tidak mau, suka tidak suka, santri akan kembali pulang dan menjadi bagian dari masyarakat. Pesantren bukanlah tempat abadi bagi santri untuk mengabdi. Sanak saudara, teman, dan tetangga sudah menunggu peran-peran aktif mereka. Berbekal ilmu dan pengalaman dari pesantren, santri dituntut untuk bisa membawa perubahan baik di lingkungan masyarakat, sebab sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama.

Kontribusi Santri di Tengah Pandemi

Banyak hal yang sebenarnya dapat dilakukan santi di tengah pandemi saat ini. Selama diberlakukannya kebijakan untuk stay at home, santri bisa memainkan peran dengan bekal yang telah mereka miliki. Pertama, santri menjadi lebih banyak waktu untuk bisa membantu orang tua di rumah. Mereka bisa membantu aktivitas dan pekerjaan orang tua di rumah. Meringankan beban orang tua adalah bagian dari berbuat baik kepada mereka. “Dan Rabb-mu menyuruh manusia untuk beribadah kepada-Nya dan selalu berbuat baik keada orang tua.”

Kedua, santri juga bisa berpartisipasi dalam berbagai kegiatan di lingkungan sekitar. Misalnya dengan mengikuti gerakan peduli COVID-19 yang dilaksanakan oleh warga setempat. Santri juga bisa ikut membantu menjaga pos-pos keamanan, memberi dan membagikan bantuan, juga ikut serta mengedukasi keluarga dan masyarakat terkait protokol kesehatan yang harus dilakukan di tengah pandemi saat ini. “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan.”

Ketiga, santri bisa ikut mengisi ruang-ruang dakwah virtual di berbagai media. Mereka bisa menyampaikan ilmu-ilmu yang telah diperoleh kepada masyarakat. Dakwah yang biasanya memerlukan biaya lebih, kini sangat mudah dan murah untuk dilakukan. Berbekal dengan gadget dan kreatifitas, santri bisa menyampaikan pesan-pesan kebaikan. “Ilmu tanpa amal ibarat pohon tak berbuah.”

Peran-peran ini sekaligus menjadi refeksi atau muhasabah bagi santri jika kelak mereka harus dan saatnya kembali pulang ke rumah masing-masing: sudah cukupkah ilmu dan pengalaman yang mereka miliki untuk membawa kebaikan bagi semua?

Avatar

Syifa’ Nurda Mu’affa

Penulis adalah mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan merupakan Duta Santri Nasional 2018

Artikel Menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *