Perspektif Green Deen dan Aplikasinya dalam Analisis Sastra

Dalam teori sastra, mungkin kita sudah familiar dengan teori feminisme, atau marxisme yang menganalisa karya sastra dari sisi interaksi antar manusia dan lingkup sosialnya. Selain teori-teori sastra tersebut, mungkin tak banyak dari kita yang mengenal ecocriticism theory atau teori ekokritis. Teori ekokritis membahas sastra dari perspektif interaksi manusia dengan alam dan banyak membahas bagaimana manusia bertanggungjawab atas kerusakan alam yang dihasilkan dari berbagai kegiatannya.

 Topik pembahasan ekokritis meliputi polusi, bencana alam, eksploitasi, sifat antroposentris dan sebagainya. Hal yang unik dari teori ekokritis adalah aplikasinya yang dapat dikombinasikan dengan ilmu lain misalnya ilmu sains dan ekonomi. Hal ini dapat dicontohkan seperti: Sebuah perusahaan yang mengeksploitasi sumber daya alam untuk mencari keuntungan dan berakibat terjadinya bencana tanah longsor. Dalam hal ini, tanah longsor dapat dikaitkan dengan ilmu sains, bagaimana longsor terjadi akibat eksploitasi. Sedangkan dari sisi ekonomi dapat membahas motif kebutuhan menjadi dasar eksploitasi tersebut.

Dalam tulisannya, Bryan G.Norton menyebutkan bawasanya analisis ekorikritis dapat didasarkan atas pandangan umum  berdasar logika (logical worldview) atau prinsip keagamaan. Konsep ini dapat diaplikasikan untuk mengkritisi sikap yang dianggap menguntungkan manusia namundi sisi lain merusak alam dari sudut pandang agama.



Ibrahim Abdul-Matin, seorang Muslim Amerika, dalam bukunya Green Deen: What Islam Teaches about Protecting the Planet memaparkan 6 prinsip Islam yang mengajarkan kita untuk merawat lingkungan yang disadur dari konsep milik Faraz Khan. Seperti yang telah dibahas di awal, bawasanya teori ekokritis digunakan untuk menganalisa karya sastra dengan kombinasi disiplin ilmu lain, maka analisis sastra dapat dibahas dengan konsep agama Islam pula.

Dalam konsep Green Deen, ada 6 prinsip yang menjadi dasar apakah perilaku seseorang yang berkaitan dengan alam sesuai dengan ajaran Islam atau tidak. Dalam bukunya, Abdul-Matin membahas contoh-contoh aplikasi konsep Green Deen dalam kehidupan sehari-hari, misalnya bagaimana sumber daya alam terbaharukan dari langit, contohnya cahaya matahari, dikatakan sebagai ‘energi dari surga’ karena tidak membahayakan manusia. Sebaliknya, sumber daya alam dari dalam bumi yang tidak terbaharukan seperti gas alam dianggap ‘energi dari neraka’ karena merugikan alam dan manusia. Untuk selanjutnya, berikut pemaparan singkat mengenai prinsip-prinsip Green Deen.

Pertama, memahami ke-Esaan Allah dan ciptaanNya (tauhid). Prinsip Tauhid mengajarkan bahwasanya kita harus yakin bahwa segala sesuatu yang ada di alam adalah ciptaan Allah. Hal ini didukung dengan fakta sesungguhnya segala sesuatu itu berasal dari hal yang sama, yakni elemen yang sangat kecil.

Kedua, melihat tanda keTuhanan (ayat) dimanapun. Prinsip ayat mengajarkan bahwasanya alam adalah bukti adanya Allah, Tuhan seluruh alam. Segala yang ada di langit dan bumi merupakan tanda bahwa kekuasaan Allah benar adanya.



Ketiga, menjadi pemimpin (khalifah) untuk bumi. Kita memiliki kewajiban untuk melindungi dan merawat bumi. Dalam Islam, dijelaskan bahwa manusia diciptakan dari tanah liat, sehingga secara tidak langsung fitrah manusia adalah dari alam dan untuk alam. Manusia juga dibekali akal untuk berpikir yang makhluk lain tidak miliki. Sehingga manusia memiliki peran untuk mengambil keputusan dan melaksanakan perintahNya.

Keempat, menjaga kepercayaan Allah untuk menjadi pelindung bumi (amanah). Manusia dipercaya untuk menjadi khalifah di bumi dan menjaga amanah tersebut untuk terus menjaga alam. Bumi sebagai karuniaNya perlu kita rawat sebagai bentuk kepatuhan kita atas amanahNya. Apabila kita merusak alam, dapat dikatakan kita tidak mampu menjaga amanah Allah.

Kelima, bergerak untuk keadilan (adil). Bumi mengalami kerusakan karena ulah manusia. Bumi tidak diperlakukan sebagai tempat untuk beribadah, tetapi sebagai sumber keuntungan. Ketidakadilan terjadi ketika manusia mengambil keuntungan namun di sisi lain bumi mengalami kerusakan. Apabila manusia bersikap serakah di suatu tempat, maka manusia di tempat lain akan mengalami kerugian.

Keenam, menjaga keseimbangan alam (mizan). Bumi terdiri dari elemen alam yang telah diatur sedemikian rupa. Perilaku kita hendaknya tidak mengganggu keseimbangan tersebut. Keseimbangan rantai makanan misalnya, apabila manusia memburu predator, maka hewan kecil yang menjadi mangsanya menjadi tidak terkendali dan justru menjadi hama untuk manusia.

Demikan pembahasan singkat mengenai konsep Green Deen yang dapat diaplikasikan dalam analisis sastra. Jenis sastra yang dibahas dapat bertemakan apapun selama dalam konteks karya sastra tersebut membahas permasalahan lingkungan. Karena teori ekokritis ini tergolong baru, diharapkan teori ini dapat diaplikasikan ke lebih banyak analisis sastra terutama dalam konteks lingkungan, dan keislaman.



Avatar

Dian Purwitasari

Penulis adalah mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Artikel Menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *