Press "Enter" to skip to content

Pesantren For Peace

Waktu Baca:5 Menit, 56 Detik

Akhir-akhir ini, pesantren dituntut untuk menerapkan model pendidikan dan pembelajaran yang kontekstual, materi-materi khas pesantren dengan isu-isu yang up to date. Materi keislaman yang biasanya hanya berkutat pada kajian kitab turats (kitab-kitab klasik), sekarang ini haruslah nampak diterjemahkan lebih membumi dengan diintegrasikan terhadap isu-isu kemanusiaan seperti toleransi, gender, ekologi, kemajuan teknologi, human traficking, serta dinamika persoalan humanitas lainnya. Hal tersebut berorientasi pada terciptanya perdamaian yang terinternalisasi dari pendidikan perdamaian.

Pendidikan tentang perdamaian antara sesama manusia dan umat beragama adalah sebuah upaya yang harus dilakukan demi terwujudnya nilai-nilai, perilaku, dan tata cara hidup yang mendukung terciptanya kedamaian. Asma mengemukakan bahwa pendidikan perdamaian bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran dan pemahaman mengenai akar konflik, kekerasan dan ketidakdamaian dalam lingkup yang bersifat personal, interpersonal, komunitas, nasional, regional, dan internasional.

Kaitannya dengan model pendidikan yang berbasis pengembangan materi tersebut ialah bahwa Pesantren sejak awal berdirinya melakukan kaderisasi keulamaan dalam tradisi keilmuan yang berorientasi pada tafaquh fiddin. Hal tersebut sesuai dengan karakternya yang senantiasa akomodatif dengan perkembangan masyarakat dalam rangka mempertahankan eksistensinya sekaligus menjawab tantangan dan perubahan zaman yang akan datang. Dalam konteks mempersiapkan kader ulama yang akomodatif terhadap segala jenis kemajemukkan dalam masyarakat, pesantren menyiapkan kurikulum pendidikan perdamaian yang lebih kontekstual, selaras dengan tantangan-tantangan yang akan dihadapi di masa yang akan datang.

Dalam penerapan pendidikan perdamaian yang bermuatan nilai toleransi, HAM, dan lain-lain, melalui normative reeducative strategy, pondok Pesantren melakukan transmisi dan
internalisasi nilai-nilai ke-Islaman yang inklusif, damai, dan toleran sehingga terbangun kapasitas perdamaian di kalangan para santri dan masyarakat. Hal tersebut pada gilirannya diharapkan mampu menciptakan perdamaian yang abadi. Proses perubahan  pada masyarakat itu terwujud karena ada yang namanya “the great man” yaitu ada orang besar yang mengkomando.

Dalam pola pendidikan perdamaian di pesantren yang andragogi dan sufistik, di situ ada yang namanya normative reeducative strategy, dimana dalam merubah manusia itu dengan memasukkan dalam dirinya norma-norma, nilai-nilai sufistik, prinsip inklusif, empatik, dan toleran. Lalu nilai-nilai itu dimaknai dan  direfleksikan secara kritis oleh anak didik atau santri melalui edukatif dan reedukatif. Mengapa strategi edukatif dan reedukatif perlu dilakukan? karena prosesnya tidak sekali jadi. Prosesnya secara terus-menerus, ada namanya habit yang berulang-ulang, inklusif, empatik, toleran yang tidak bisa hanya sekedar jargon, tapi terpola dan terbentuk dalam sebuah proses edukatif-reedukatif, berulang-ulang, diaplikasikan dalam kegiatan sehari-hari, dan di ingatkan terus-menerus.

Dalam mengembangkan model pendidikan toleransi beragama yang berwawasan multikulturalisme-pluralisme, biasanya setiap Pondok Pesantren mengembangkannya dalam sebuah rancangan visi dan misinya. Dalam perumusan visi dan misi Pondok Pesantren terdapat tujuan yaitu untuk menjawab stigma negatif yang dialamatkan kepada Pondok Pesantren. Pondok Pesantren memiliki tanggung jawab besar terhadap maraknya gelombang intoleransi, arogansi radikal yang menjalar dalam kehidupan masyarakat. Maka Pondok Pesantren hadir sebagai respon dalam menangkal problem itu semua.

Dewasa ini, Pondok Pesantren didirikan sebagai respon atas keprihatinan beberapa pihak berkaitan dengan kondisi kampus (Perguruan Tinggi) yang selama ini dikenal sebagai
tempat persemaian manusia yang memiliki pandangan kritis, open minded, objektif, namun ternyata tidak kebal terhadap pegaruh ideologi radikal. Sehingga, pangkal-pangkal ideologi radikal ini menyeruak menjadi sikap-sikap yang ekslusifistik, intoleran, dan sel-sel radikal dapat ditemukan dalam skala berbeda di banyak perguruan tinggi di Indonesia.

Menurut pandangan Azyumardi Azra, kecenderungan orang dalam memahami segala sesuatu itu hitam putih, khususnya yang berasal dari sekolah menengah non-keagamaan yang sebelumnya tidak banyak mendapatkan materi-materi keagamaan dan keragaman perspektif Islam, semangat keagamaannya semakin tumbuh di kampus-kampus. Terlebih ketika mereka dipertemukan dengan “mentor” dari organisasi-organisasi kemahasiswaan intra maupun ekstra kampus tertentu, semangat dan militansi keagamaannya semakin kuat,  bahkan cenderung ekstrem. Pemahaman yang berpangkal pada ideologi radikalis dilatarbelakangi oleh karakteristik pemahaman dan pengalaman keagamaan di kalangan remaja, khususnya mahasiswa perguruan tinggi. Dengan demikian, harus ada sikap-sikap yang dikembangkan sebagai respons daripada keprihatinan tersebut, yaitu dengan pendidikan kontra ideologi radikalis.

Apalagi korban dari propaganda ideologi tersebut adalah para remaja. Berbagai macam serangan ideologi radikal ini harus dihadapi dengan “kontra-ideologi”, yaitu pendidikan perdamaian dan perspektif ke-Indonesiaan dan ke-Islaman yang inklusif, empatik, dan toleran. Pendidikan toleransi dan resolusi konflik pada hakikatnya bersifat holistik berkaitan dengan dimensi ranah kognitif, afektif, dan keterampiran (skill, psikomotorik). Oleh karena itu, pendidikan dan pengajaran di Pondok Pesantren didesain dengan menggabungkan teori kritis, metodologi partisipatif, dan pengalaman.

Jika dikaitan dengan teori pendidikan multikulturalisme yang dikembangkan oleh James A. Banks, yang menyebutkan bahwa pendekatan dalam mengintegrasikan pluralisme, toleransi beragama, dan pendidikan perdamaian, pondok pesantren menggunakan pendekatan kontributif (contribution approach), pendekatan mata pembelajaran tambahan, pendekatan transformatif (transformatif approach) dan pendekatan aksi sosial. Hal ini dilakukan dengan memusatkan perhatian pada pengenalan unsur-unsur keragaman melalui berbagai muatan-muatan pendidikan ke-Islaman yang mengenalkan corak pemikiran keagamaan atau madzhab yang berbeda.

Selain itu, Model pendidikan yang digunakan adalah pendidikan orang dewasa (andragogi), melalui kegiatan pendidikan dan pengajaran dengan menggunakan model pendekatan ‘peran’, model praxis (aksi refleksi) yang penerapannya dilakukan in-class yaitu berupa ngaji bandungan, sorogan, tausiah, diskusi, dan bahtsul masa’il.Model pendidikan di Pondok pesantren tidak saja mengkaji kitab-kitab turats dan klasik, namun di sisi lain mengadopsi beberapa hal baru terkait dengan toleransi, pesantren for peace, maka materi-materi tidak tercermin semata-mata pada kitab yang dibaca tetapi juga pada kemasan kegiatan di pesantren, melalui diskusi, maupun menghadirkan narasumber dari luar pesantren.

Menurut penulis, dalam mengembangkan model pendidikan yang berwawasan toleransi, pondok pesantren harus menjaga keseimbangan antara hukum Islam dengan legal-formal, pendidikan responsif dengan kondisi dan keadaan psikologis masyarakat, pembinaan akhlak atau tasawuf yang dialektis dengan norma-norma masyarakat serta penanaman nilai-nilai HAM. Jika model pendidikan ini bersinergi dengan baik, maka pondok pesantren akan melahirkan generasi penerus muslim yang moderat. Kaitannya dengan pandangan tersebut, Pondok pesantren menerapkan model pendidikan yang juga berbasis wawasan toleransi, meskipun seluruh komponen dalam model pendidikan tersebut belum bersinergi secara menyeluruh.

Dalam merefleksikan nilai-nilai pendidikan multikulturalisme pluralisme, maka perlu dimasukkan materi kitab, misalnya kitab rohmatul ummah fikhtilafil aimmah dan juga memasukkan muatan-muatan tasawuf seperti kitab Ihya ‘Ulumiddin, Syarah Hikam. Hal itu dilakukan karena didalamnya terdapat pembelajaran tentang menata hati dan akhlak al-karimah. Hal ini merupakan suatu proses yang membangun sikap toleran dan kelembutan hati. Semakin sebuah pesantren mengkaji kitab kuning, maka pesantren tersebut semakin toleran, karena di kitab klasik itu selalu terdapat qoul-qoul (pendapat) yang berbeda. Sehingga membuat santri berwawasan luas dan berpikiran terbuka (open minded), tidak saling menyalahkan antara pendapat kelompok tertentu dengan yang lainnya.

Maka pesantren seyogyanya selalu mempertahankan untuk mengkaji kitab klasik, seperti safinah dan taqrib, meskipun itu berasal dari ulama syafi’iyyah, akan tetapi di syarah dan hasyiyah kitab tersebut mencantumkan pendapat-pendapat mandzhab lain. Dengan demikian, maka pesantren klasik banyak melahirkan kader ulama yang moderat, karena disitu disampaikan berbagai versi pendapat dari ulama yang memiliki corak pemikiran yang berbeda dan santri sudah terbiasa dengan pendapat yang berbeda. Pendidikan berbasis agama (pesantren) seyogyanya berkiprah dalam mengenalkan problematika keragaman, yang tentu saja mengandung nilai-nilai yang mampu menumbuh-kembangkan sikap-sikap toleransi pada generasi muda.


[1] Eneng Muslihah,  “Pesantren dan Pengembangan Pendidikan Perdamaian”. Dalam jurnal Studi Keislaman, Vol. 1, Nomor 2, Th. 2014. Hlm. 316 [2] Saefudin Asma, “Damai Itu Apa ? (Sekilas Mengajarkan Perdamaian.. dalam Kompasiana. Diakses pada : 06 Juli 2019) http://umum.kompasiana.com/2009/06/17/.
 

Facebook Comments
Latest posts by Eri Nur Shofi’i (see all)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *