Press "Enter" to skip to content

Makna Dibelenggunya Setan di Bulan Ramadhan

Waktu Baca:2 Menit, 28 Detik

Sebagaimana kita ketahui, bulan Ramadan merupakan bulan yang istimewa, karena Allah memberikan limpahan kebaikan dan keberkahan sejak hari pertama hingga akhir Ramadan. Karena limpahan keberkahan di bulan ini sehingga bulan Ramadan disebut juga sebagai bulan keberkahan (syahru al-Barakah).

Pada bulan Ramadan juga, terdapat riwayat yang sahih dan sangat terkenal (masyhur), yaitu tentang dibelenggunya setan-setan, dibukanya pintu-pintu surga dan ditutupnya pintu-pintu neraka. Riwayat tersebut memiliki beberapa variasi matan diantaranya menggunakan kata سلسلت (sulsilat), تغلّ  (tugallu), dan صفّدت (shuffidat).

Adanya perbedaan atau variasi matan hadis tersebut, dianggap tidak saling bertentangan. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan melihat makna dari matan hadis tersebut yang mana kata سلسلت (sulsilat), تغلّ (tugallu), dan صفّدت (shuffidat) itu, merupakan kata yang mutaradif dalam artian kata yang mempunyai makna sama (sinonim), yakni berarti dibelenggu atau diikat.

Timbul pertanyaan klasik mengenai riwayat ini, yakni jika setan sudah dibelenggu, lantas kenapa masih ada maksiat? Para ulama menjelaskan soal bagaimana pemahaman makna hadis tersebut. Adapun penjelasannya terbagi menjadi dua. Pertama, ulama yang memamahi sesuai dengan teks hadis (literalis). Pintu surga dibuka, dan setan dibelenggu dipahami dalam pengertian yang sebenarnya (makna hakiki hadis) sehingga intensitas setan dalam menggoda manusia berkurang pada bulan Ramadan dibanding dengan bulan lainnya.

Baca Juga: Menyemai Nilai Positif di Balik Corona

Kedua, ulama yang memahami dengan makna majazi hadis. Dalam konteks ini, pemaknaan dari pintu-pintu dibuka hanya kiasan saja. Bahwa yang dimaksudkan adalah kiasan dari turunnya rahmat dan dihilangkannya sekat-sekat yang menghalangi naik amalan para hamba-Nya. Selain itu juga kiasan ungkapan dari berbagai ketaatan yang dibuka oleh Allah Swt. untuk hamba-Nya pada bulan Ramadan yang menjadikan sebab-sebab yang mengantarkan mereka masuk Surga.

Selanjutnya makna dari pintu-pintu Neraka ditutup yaitu dikiaskan kepada penjelasan bahwa manusia memutuskan diri dari berbagai kemaksiatan dan meninggalkan berbagai amalan yang mengantarkan manusia ke dalam Neraka. Dan juga karena Allah tidak banyak menjatuhkan hukuman terhadap hamba-hamba-Nya atas perbuatan dosa yang dilakukan. Selain itu juga ulama berpendapat bahwa ditutupnya pintu-pintu Nereka adalah banyakanya ampunan dan pemaafan terhadap dosa-dosa.

Adapun makna dari setan-setan dibelenggu adalah Allah menjaga kaum muslimin atau mayoritas dari mereka dari kemaksiatan dan kecenderungan untuk mengikuti bisikan setan. Setan tidak dapat menggoda manusia dan begitu juga jiwa manusia yang tidak dapat menerima godaan dari setan serta memutuskan ketamakan setan terhadap bujukan.

Hal itu dikarenakan, apabila datang bulan Ramadan, orang-orang disibukkan dengan ibadah puasa. Nafsu hewani sebagai sumber syahwat dan emosi yang menyeru kepada macam-macam kefasikan dan kemaksiatan telah lemah pada diri manusia.

Selain itu, akal manusia telah jernih, tabiatnya sibuk dengan ibadah. Jiwa manusia seperti cermin yang saling berhadapan lagi saling mengikat, dan terpancar dari kekuatan akal sebagai pendorong kepada ketaatan dan pencegah dari kemaksiatan

Berangkat dari penjelasan di atas, maka persoalan dibukanya pintu surga, ditutupnya pintu neraka, dan dibelenggunya setan, para ulama berbeda dalam memahaminya. Sebagian memahaminya dengan pendekatan makna hakiki sesuai bunyi teks hadisnya, sebagian pula memahaminya dengan pendekatan makna yang terdapat di balik teks (majazi).

Facebook Comments
Latest posts by Ahmad Mushawwir (see all)

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *