Rekonsiliasi Ala Imam Malik dan Ibn Ishaq

Terhitung dalam beberapa pertemuan dosen saya selalu membicarakan ‘rekonsiliasi’. Pembicaraan yang sontak disambut tawa teman-teman mahasiswa, meski entah mereka tahu duduk masalah sebenarnya sehingga bersepakat untuk tertawa, atau tidak.

Mata kuliah jarh wa ta’dil yang saya ambil saat itu memang mengandung beberapa konten yang agaknya sesuai dengan ihwal kejadian yang ramai akhir-akhir ini. Disiplin ilmu yang mengupas tuntas kritik dan pujian dalam dunia sanad dan perawi dalam hadis.

Baik. Ada sebuah kisah menarik tentang ‘rekonsiliasi’. Kisah yang terjadi pada salah satu imam besar mazhab fiqih, Malik bin Anas dan muhaddis masyhur semasanya, Muhammad ibn Ishaq.

Malik adalah seorang ahli hadis yang juga nyegoro dalam bidang fiqih. Kitabnya al-Muwatha’, adalah kitab fiqih dengan model tampilan hadis. Selain kealimannya, Malik juga terkenal akan kekayaannya. Kekayaan yang tak sedikit pun mengurangi kezuhudannya.

Selain Malik, di Hijaz juga dikenal Muhammad ibn Ishaq. Masyhur akan penguasaan hadis dan posisinya sebagai historian yang tiada tanding. Disebutkan bahwa tidak ada seorang pun di wilayah Hijaz yang mengetahui seluk-beluk genealogi nasab selain Ibn Ishaq.

Perselisihan antara keduanya dimulai dari statement Ibn Ishaq bahwa Malik dan keluarganya adalah mawla dari Bani Taym ibn Murrah. Mawla adalah sebuah predikat bagi hamba sahaya yang merdeka dan ‘berkoalisi’ dengan salah satu ‘partai’ keluarga bangsa di Arab. ‘Koalisi’ ini penting dalam struktur kehidupan bangsa Arab mengingat fanatisme kesukuan dikenal sangat lekat.

Sontak pernyataan ini tidak dapat diterima oleh Malik. Karena selain dianggap menjatuhkan, realitanya, dia dan keluarga besarnya adalah keluarga hurr (merdeka) dan benar-benar menjalin perjanjian kerjasama kepada Bani Taym ibn Murrah, dan bukan karena eks-hamba sahaya.

Hal ini terus berlarut dan mencapai puncaknya pada sebuah peristiwa dimana Malik telah berhasil menyusun masterpiece-nya, Muwatha’. Ibn Ishaq yang mengetahui kabar ini segera berujar, “Datangkan kitabnya padaku dan akan aku bedah!”. Sebuah ujaran yang segera di-nuqil kepada Malik dan di-comment dengan nada keras, “Dasar pembual, pembohong!”.

Peristiwa ini segera viral di masyarakat, meski hanya diucapkan satu kali oleh Malik. Hingga akhirnya, Ibn Ishaq yang kurang nyaman dengan keadaan ini berazam untuk hijrah ke kota Iraq dan meninggalkan Hijaz. Malik yang mengetahui kabar ini segera menemui Ibn Ishaq.

Dengan menyerahkan 50 dinar dan separuh hasil panen kebunnya pada tahun itu, Malik dan Ibn Ishaq ber-tashaluh. Merupakan jumlah yang tidak sedikit untuk menuju sebuah rekonsiliasi. Namun apalah artinya bagi Malik, seorang wara’ dan zahid, muhaddis sekaligus imam besar mazhab fiqih Hijaz.

Ada beberapa catatan yang dapat saya tangkap dari kisah di atas. Pertama, perselihian dan pertikaian semacam itu dapat terjadi kepada siapa saja. Penyebabnya mungkin karena keberadaan manusia sebagai makhluk sosial yang hidup di tengah ruang-ruang sosial tertentu sehingga memaksa peristiwa semacam ini untuk terjadi. Karenanya bersahabat lah dengan perselisihan. Kedua, momentum. Momentum ini lah yang memantik terjadinya perselisihan, sekaligus menjadi jalaran penyelesaiannya. Maka tangkap dan pahami setiap momentum yang ada. Dan ketiga, pengorbanan 50 dinar dan jumlah lain yang diserahkan Malik adalah bentuk pengorbanannya, setidaknya untuk menegakkan sistem syuro.

Catatan yang mungkin kurang dalam dan sedikit berfaedah namun semoga tetap dapat bermanfaat. Wallahu a’lam. Selamat berekonsiliasi.

Buka Chat
1
Assalamualaikum. Ada yang bisa kami bantu? silahkan chat melalui whatsapp ini. Terima Kasih.