Press "Enter" to skip to content

Santri Bucin Merespon Diskursus Gender dan Budaya Anti-Patriarki

Waktu Baca:3 Menit, 32 Detik

Patriarki bukan kosa kata umum yang lazim dikonsumsi masyarakat. Layaknya seperti berkat pengajian, barang ini hanya untuk orang-orang yang ikut pengajian, pantas menerima dan memakannya. Bukan berarti patriarki adalah barang yang sukar dijamah, tetapi saya hanya pesan untuk berhati-hati.

Saya bukan pengamat jelik patriarki, anti-patriarki, dan matriarki. Sampai saat ini, saya juga belum bisa konsisten untuk menjalani salah satu dari tiga hal tersebut. Memang tidak mudah, karena ini terus membuat saya merenung dan memikirkan jalan yang cocok. Saya juga heran kenapa kok memikirkan hal yang receh begini, tentu buat ghibahin doi yang lagi gencar-gencarnya belajar diskursus gender dan patriarki.

Anti-patriarki memiliki makna yakni melawan pemikiran laki-laki selalu ditempatkan di tempat yang utama atau selalu mendominasi. Itu definisi saya sendiri dan masih bisa didiskusikan. Kesan orang awam ketika melihat cewek berprinsip anti-patriarki, pasti dia berpikir bahwa cewek itu ingin sebuah kebebasan dalam hidupnya.

Akan tetapi, jika cewek berpendapat, dia pasti akan berargumen “Nggak kok, saya cuman pengen keadilan, tidak ada yang superior, atau nggak ada yang mengekang apa yang saya lakukan”. Itu cuman imajinasi saya, jika cewek yang baca ini, pasti akan jambak rambut saya. Ehh, tapi belum tentu juga.

Prinsip anti-patriarki ini biasanya dikonsumsi oleh kaum hawa, namun tidak memungkiri juga jika ada kaum adam yang juga membela prinsip ini, sekali lagi hal ini tidak salah. Biasanya kaum hawa yang tertarik dengan prinsip ini memiliki background kehidupan yang bervariasi. Mulai dari ditinggal pacar, ada penindasan di keluarganya, atau menemukan lingkungan dan teman-teman diskusi  baru.

Tidak semua hal di dunia ini bisa dijalani dengan prinsip anti-patriarki. Hal ini saya nyatakan, karena terdapat beberapa golongan yang sudah mengaplikasikan hidupnya dengan prinsip itu dengan konsisten dan sungguh-sungguh. Memang tidak salah dan tidak perlu diperdebatkan, karena ujung-ujungnya kalau didebat nanti akan sampai di statement “Ini hidup gue, ngapain lo ikut campur!“.

Lantas bagaimana seorang santri sedang menjalin hubungan, tapi doi berprinsip anti-patriarki? Tentu,satu hal yang tidak dapat dimasuki dengan prinsip anti-patriarki adalah ‘perasaan cemburu’. Pertama mungkin orang akan langsung menggoblokkan saya karena ‘perasaan’ bukan ranah dari prinsip anti-patriarki. Ya, saya setuju, tapi tunggu, ‘perasaan cemburu’ biasanya dialami oleh orang yang lagi menjalin hubungan, baik nikah, pacaran, atau lainnya.

Orang yang berta’aruf di fase awal pasti memiliki sifat bucin yang tidak terkontrol. Mereka tidak mengenal teori apapun di dalam kuliah, pada prinsipnya mereka dibutakan oleh cinta dan yang penting sayang sama pasangannya.

Hal ini akan berubah jika salah satu dari mereka mengenal Teori Gender dan konstruk budaya patriarki. Jika salah satu dari pasangan mempelajari ini, maka tidak ada salahnya untuk bermusyawarah dengan doinya. Berta’aruf dengan seseorang itu tidak mudah, prinsip musyawarah adalah salah satu kunci keberhasilan dalam menjalani setiap harinya.

Santri Mengenal Diskursus Gender dan Bagaimana Responnya?

Saya tidak tahu pasti apakah santri tulen atau santri salaf mengenal diskursus gender atau tidak. Sebab diskursus ini memang diadopsi dari Barat. Akan tetapi, terlepas dari produk dari Barat atau Timur, Indonesia telah melahirkan tokoh-tokoh yang memperjuangkan keadilan gender. Beberapa dari tokoh tersebut juga memiliki background sebagai santri.

Salah satu tokoh tersebut adalah Buya Husein Muhammad, seorang santri tulen yang memiliki idealisme berpikir untuk memperjuangkan hak-hak perempuan. Perjuangan beliau sampai saat ini belum berakhir, baik dalam bentuk tulisan atau orasi keagamaan.

Tokoh akademik yang juga muncul, sekaligus sebagai murid Buya Husein adalah Pak Faqihuddin Abdul Qadir, dengan karya monumentalnya yang berjudul Qira’ah Mubadalah. Kedua tokoh tersebut adalah sosok santri yang memiliki prinsip keadilan dalam kehidupannya.

Diskursus gender tidak menjadi momok bagi keduanya, ini merefleksikan bahwa diskursus gender tidak perlu ditakuti dan dibenci hanya karena sumber produksi keilmuan tersebut. Santri sebagai sosok yang juga patut dijuluki akademisi, setidaknya harus mengetahui diskursus ini.

Jalan mempelajari diskursus ini tentunya sesuai dengan apa yang diajarkan pesantrennya dahulu. Termaktub di dalam Kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, pertama, belajar kepada seseorang yang mumpuni di bidang tersebut. Kedua, mempelajarai ilmu dengan niat mencari ridho Allah dan tidak untuk kesombongan. Ketiga, mengaplikasikan ilmu tanpa merugikan orang lain.

Tiga jalan tersebut kiranya cukup bagi santri untuk mempelajari diskursus gender. Sehingga apabila santri sedang berta’aruf dengan wanita yang bukan santri dan wanita tersebut telah berprinsip anti-patriarki, maka santri tidak terkejut apalagi menghardik si perempuan.



Facebook Comments
Latest posts by Muhammad Mundzir (see all)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *