Santri Mengglobal Ajak Santri Indonesia Daftar Beasiswa Fulbright ke Amerika

Amerika Serikat masih menjadi dambaan dan pilihan negara untuk belajar bagi masyarakat Indonesia. Selain karena banyak kampus di negeri paman sam tersebut yang menduduk ranking universitas teratas dunia, para lulusan Amerika pun dianggap sukses dan mampu berkiprah di sejumlah posisi strategis di tanah air, seperti Menteri, Kepala Daerah, pengusaha, direktur, jurnalis dan lainya. Juga tentu masih hangat di dalam ingatan, bagaimana kegalauan artis kondang, Maudi Ayunda, yang harus galau memilih kampus untuk dirinya melanjutkan studi di dua kampus ternama di Amerika, Harvard dan Stanford, yang sempat viral dibincang banyak netizen di tanah air.

Sebagai ikhtiar untuk membantu santri Indonesia agar berkesempatan belajar di Amerika, Pada Selasa (12/01) Santri Mengglobal menggelar webinar bertajuk ‘Meraih Impian Ke Amerika Dengan Beasiswa Fulbright’. Webinar yang diselenggarakan melalui platform Zoom Cloud Meeting ini menghadirkan dua pembicara yang merupakan penerima dan kandidat penerima beasiswa Fulbright untuk belajar di Amerika Serikat, Muhammad Taqiyuddin dan Aziz Awaludin.

Dito Alif Pratama, pendiri sekaligus Pembina Yayasan Santri Mengglobal Nusantara, dalam sambutanya mengungkapkan bahwa acara mentoring seperti ini akan dilaksanakan setiap bulan dengan negara tujuan berbeda. Hal ini dianggap penting karena dikotomi disiplin ilmu tempat belajar di luar negeri bagi santri masih mengakar kuat di mindset masyarakat. ‘Anggapan bahwasannya santri hanya bisa melanjutkan studi ke timur tengah tidaklah benar. Santri Indonesia juga bisa melanjutkan studi ke negara barat dan banyak negara lainya di pelbagai penjuru dunia dengan beragam program studi yang tersedia, ungkapnya.

Webinar diawali dengan pemaparan materu dari saudara Aziz Awaludin,  kandidat penerima Beasiswa Studi Doktor Fulbright Scholarship. Ia memberikan stimulus kepada peserta Mentoring Online dengan pertanyaan “Mengapa Santri Harus Belajar di Luar Negeri?”

Pertanyaan ini dijawabnya dengan berbagi sebuah pengalaman. Ia beranggapan bahwa seseorang yang pergi ke Luar Negeri sedang mengetuk pintu khusus untuk menggapai sukses. Diharapkan para santri yang belajar di luar negeri juga akan mampu menggapai kesuksesan di kemudian hari. Ia juga bercerita bahwa kesan pertama melihat Dunia adalah negara lain yang dikunjunginya ‘lebih terang’ daripada Negara sendiri, baik tata letak kotanya maupun kemajuan peradabannya dan kita bisa mempelajari hal itu untuk dijadikan oleh-oleh dan diterapkan di negara kita, Indonesia.

”Amerika Serikat merupakan salah satu negara dengan kurikulum Pendidikan terbaik di Dunia, maka tidak heran jika pelajar Dunia berebut ingin menimba ilmu disana. Salah satu Beasiswa yang disediakan oleh Amerika Serikat adalah beasiswa Fulbright. Pembicara melanjutkan diskusi dengan kembali menanyakan “What is Fulbright Scholarship and How to gain the Scholarship?”

Fulbright adalah program beasiswa yang kompetisi dan sistem seleksinya sangatlah ketat. Beasiswa ini menuntut para kandidatnya untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya dan menyiapkan segala persyaratan sedini mungkin. ‘Butuh perjalanan panjang dan persiapan matang, terutama dalam berbahasa Inggris, ungkap Aziz.

Materi selanjutnya disampaikan oleh Muhammad Taqiyuddin, Candidate Master of Arts (MA) in Mathematics Education, University of Georgia. Pembicara kedua ini banyak mengulas seputar fasilitas beasiswa Fulbright dan keunggulan beasiswa ini daripada beasiswa lainya. ‘Beasiswa Fulbright adalah beasiswa yang sangat prestisius, yang juga merupakan beasiswa tertua di Dunia dengan track record alumni yang sangat luar biasa. Tidak sedikit alumni Fulbright yang menjadi Menteri, Pejabat, hingga bahkan Presiden suatu negara, ungkapnya

Persiapkan Pendaftaran Beasiswa Sedini Mungkin!

Lebih jauh lagi Taqiyuddin juga berpesan akan pentingnya sikap ‘memantaskan diri’ dan ‘perencanaan matang’ sebelum mendaftar beasiswa ini. Tanyakan pada diri sendiri, sejauhmana kita pantas dan layak mendapatkan beasiswa ini? Selain tentunya menyiapkan dokumen pendaftaran selengkap dan sedini mungkin karena akan sangat menunjang kelancaran dalam dalam seleksi kelulusan.

Ia juga mengingatkan peserta webinar untuk menghindari kebiasaan “Menulis Tanpa Merevisi” karena menurutnya dalam setiap proses menulis berkas pendaftaran beasiwa, baik CV, motivation statement dan lainya perlu untuk juga melakukan beberapa kali revisi demi hasil yang baik. ‘Kalau punya prestasi cantumkan saja, ceritakan saja pengalaman semasa hidup. Intinya persiapkan dengan matang, jangan takut gagal. Asalkan kalian tau tujuan kalian mau ngapain di Luar Negeri, InsyaAllah pasti berhasil” pesannya, sebelum menutup diskusi tersebut.

Admin Santri Tulen

Admin Website santritulen.com

Artikel Menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *