Sejarah Kelam Kelompok Ikhwanul Muslimin

Setelah runtuhnya sistem khilafah terakhir di Turki pada tahun 1924 dan diasingkannya khalifah terakhir Abdul Majid ke Jerman, maka hilanglah kekuasaan khalifah Islam pertama dan terakhir di muka bumi. Dan orang paling bertanggung jawab akan peristiwa ini adalah Mustafa Kemal Ataturk. Orang Turki yang berideologi nasionalis, modernis dan berpaham sekuler.

Pasca runtunya khilafah, negara Turki dirombak besar-besaran, dari negara yang berasaskan Islam menjadi negara nasionalis-sekuler yang menganulir ideologi Islam yang ada saat itu. Beribadah dilarang menggunakan bahasa Arab, kementrian agama dihapuskan, pakaian tradisional dilarang dan berbagai peraturan lainnya.

Ketiadaan khilafah meninggalkan dunia Arab terjajah di bawah negara-negara Eropa. Mereka tidak punya bapak yang melindungi. Waktu itu Inggris menjajah Iraq, Mesir dan Sudan. Prancis menjajah Suriah, Lebanon, Al-Jazair dan Tunisia. Italia menjajah Libia dan dalam waktu bersamaan Belanda juga menjajah Indonesia.

Kemudian, seiring berjalannya waktu, masyarakat Arab mulai sadar bahwa mereka tidak bisa selamanya dijajah dan pada puncaknya didirikanlah partai politik Arab. Partai itu bernama al-Ba’ts,  partai yang berideologi nasionalis, sekuler dan sosialis. Didirikan oleh Michael Aflaq, seorang Kristen Ortodoks dari Damaskus, menantu Golda Meir, perdana mentri pertama Israel.

Mulai saat itu dibuatlah penggemblengan kepada masyarakat akan pentingnya melawan penjajahan yang sedang mereka alami. Dan saat itu juga mulai bermunculan tokoh-tokoh penting, seperti Hasan Bakar, Saddam Husain dan Tahir Aziz dari Irak. Jakfar, Humairi di Sudan. Hafiz Asad, Said Muallim dan Adhal Muqaddam dari Suriah. Muhammad Najib, Jamal Nasir dan Anwar Sadad dari Mesir. Bin Jadid dan Hawaribu Madyan dari Al-Jazair. Dan sebagainya.

Meskipun penggerak partai ini mayoritas adalah muslim, namun gerakan ini tidak betujuan untuk membela Islam, bukan untuk Islam itu sendiri, tapi untuk melawan penjajahan. Singkatnya, negara-negara Islam di Arab berhasil terpengaruhi dan mayoritas menjadi negara-negara Arab yang berideologi nasionalis, sosialis dan sekuler.

Karena kebanyakan negara Arab berideologi sosialis yang notebene dibalik itu semua adalah Uni Soviet, maka kubu sekutu tidak mau kalah. Kemudian dibentuklah negara-negara boneka untuk menandingi negara berideologi sosialis seperti Iraq, Suriah, Mesir dan Sudan itu.

Waktu itu, dibuatlah negara Bahrain yang mula embrionya berasal dari satu kabilah keluarga al-khalifah yang berjumlah 200 orang. Kemudian negara Qatar dari sejumlah keluarga besar dari kabilah al-Tsani. Kemudian juga negara Quwait yang didirikan dari dua keluarga kabilah Jabir dan Shobah. Dan yang terakhir ada negara Uni Emirat Arab yang mulanya hanya terdiri dari 7 kampung kecil bernama Dubai, Abu Dhabi, Syargah, Ajman, Roksul Ain dan Fujairah.

Setelah peristiwa demi peristiwa berlangsung, pada akhirnya mucullah tokoh besar bernama Syaikh Hasan al-Banna. Seorang moderatis, cinta dengan tanah airnya dan memahami kajian agama Islam ahlu sunnah wal jamaah dan ingin berjuang demi agama Islam. Kemudian ia mendirikan partai politik Islam yang berjuang untuk kejayaan Islam pada tahun 1935. Partai politik Islam itu bernama Ikhwanul Muslimin. Partai berideologi nasionalis, menjunjung tinggi ideologi Islam dan tidak mengusung konsep sekulerisme.

Namun sialnya, pada tahun 1942, seorang aktivis yang punya ideologi keras dari kelompok Ikhwanul Muslimin membunuh perdana mentri Mesir, Annajrasy pada masa pemerintahan raja Faruk. Mesir waktu itu masih di bawah kekuasaan Inggris. Setelah kejadian yang menggunjang seantero Mesir itu, Hasan al-Banna berkata sambil menangis “Kamu sebenarnya tidak membunuh perdana mentri, tapi kamu membunuh saya dan membunuh kelompok kita”. Satu setengah tahun kemudian Hasan al-Banna-pun terbunuh.

Terbunuhnya Hasan al-Banna kemudian digantikan oleh Sayyid Qutub. Seorang jurnalis, seorang yang cerdas, namun bukan seorang alim dalam agama Islam. Ia menempuh pendidikannya di Universitas Kairo. Sayyid Qutub jugalah yang kemudian menjadi ketua umum Ikhwanul Muslimin bersama adiknya M. Qutub di masa selanjutnya.

Sayyid Qutub kemudian menulis buku berjudul “Maalim fi al-Thariq” atau bisa diartikan sebagai “tanda-tanda jalan yang benar”. Dalam bukunya yang fenomenal ini, ia mengatakan bahwa defenisi “Jahiliyah” bukanlah fenomena sosial dalam artian primitif; kemiskinan, buta huruf atau keterbelakangan peradaban. Tapi, arti dari jahiliyah adalah sistem pemerintahan, ia mengatakan bahwa sistem jahiliah adaah sistem yang dianut negara-negara sekarang, komunis, sosialis, kapitalis dan nasionalis.

Sayyid Qutub menganggap sistem nasionalis yang dianut negara Mesir adalah sistem jahiliyah. Dalam sejarahnya, dari titik inilah kelompok Ikhwanul Muslimin menjadi kelompok yang radikal. Kemudian pada tahun 1965, presiden Mesir Jamal Nasir dikudeta oleh Ikhwanul Muslimin. Namun gagal. Kegagalan itu membuahkan digantungnya 6 ulamanya, termasuk Sayyid Qutub, Asmawi, Zaki Muhandis dan Hasan Hudaibi.

Semua orang di atas kemudian digantung di Tahrir Square atau Medan Tahrir dan diperontonkan kepada masyarakat luas. Dan mulai detik itu Ikhwanul Muslimin menjadi partai yang terlarang di Mesir. Meskipun organisasi ini sudah dilarang, namun ideologi radikalnya masih mebayang-bayangi. Dari sinilah muncul organisasi baru bernama Jama’atu al-Takfir wa al-Hijrah.

Organisasi Jamatu al-Takfir wa al-hijrah didirikan oleh Syukri Ahmad Mushtafa pada tahun 1969. Organisasi Ikhwanul Muslimin yang mulanya memiliki tujuan yang baik, sekarang dilahirkan kembali dengan wajah yang sangat berbeda. Organisasi ini lebih radikal, keras dan mematikan. Ini dibuktikan dengan pendapat mereka yang mengatakan bahwa orang lain selain kelompok mereka adalah kafir, selama tidak sejalan dengan ideologi mereka.

Semua orang dianggap kafir, bahkan sekelas Syaikul Azhar, para Huffaz al-Quran dan para Syaikh agama Islampun dianggap kafir, murtad, keluar dari islam. Puncaknya, pertama, mereka membunuh kepala kementrian Agama, Syaikh Husain Zahabi, pengarang kitab Tafsir wa al-Mufassirun. Kedua, mereka membunuh wartawan senior al-Ahrom, Yusuf Syibai. Dan ketiga, puncak kesadisan kelompok ini, mereka membunuh presiden Mesir, Anwar Sadad pada 3 Oktober 2981. Dari sinilah embrio cikal bakal kelompok teroris di dunia dan rusaknya generasi penerus Ikhwanul Muslimin. (AS)

"Wala tamutunna illa wa antum katibun" - Janganlah engkau mati sebelum menjadi seorang penulis.

Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub
Buka WhatsApp
1
Assalamualaikum. Ada yang bisa kami bantu? silahkan chat melalui whatsapp ini. Terima Kasih.