Press "Enter" to skip to content

Sejarah Pembukuan Hadis (Tadwinul Hadis)

Waktu Baca:3 Menit, 39 Detik

Dalam sejarah kodifikasi hadis mengalami perkembangan yang agak lamban dibandingkan perkembangan kodifikasi al-Quran. Karena al-Quran pada masa nabi sudah tercatat seluruhnya walaupun masih sangat sederhana dan mulai di bukukan pada masa ke khalifahan Abu Bakar al-Shiddiq dan  disempurnakan oleh Khalifah Utsman bin Affan pada masanya.

Sedangkan penulisan hadis pada masa Nabi secara umum justru malah dilarang, sebagaimana Abu Sa’id al-Hudzri meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda yang artinya “jangan kalian menulis (hadits) dariku, dan barang siapa menulis dariku selain Al-Quran, maka hendaklah ia menghapusnya”.

Dari hadis ini dapat disimpulkan bahwa penyebab keterlambatan dalam membukukan hadis karena perintah dari Rasul sendiri, dikarenakan nabi khawatir akan tercampurnya hadis dan Quran karena sama-sama berbahasa Arab. Namun, ada juga hadis yang membolehkan dalam penulisannya. Masa pembukuannyapun terlambat sampai pada masa abad ke 2 Hijriah dan mengalami kejayaan pada abad ke 3 Hijriyah.

Para ulama berusaha mengkompromikan hadis-hadis yang melarang penulisan hadis dan yang memperbolehkannya. Yaitu sebagian ulama berpendapat bahwa hadis Abu sa’id al-Khdairi itu mauquf atas dirinya sendiri sehingga tidak dapat dijadikan hujjah.

Larangan penulisan hadis hanya terjadi pada masa-masa awal Islam, karena dikhawatirkan hadis akan tercampur dengan al-Quran. Larangan ini ditujukan kepada orang yang hafalannya sangat kuat dan diperbolehkan dalam penulisannya kepada yang hafalannya tidak kuat. Larangan ini bersifat umum dan pembolehannya bersifat khusus seperti orang yang pandai membaca dan menulis dan tidak melakukan kesalahan dalam menulis sehingga tidak dikhawatirkan akan berbuat keliru.

Setelah wafatnya Nabi, diangkatlah Khulafaur Rasyidin, yaitu Abu Bakar al-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Pada masa ini hadis belum dibukukan, namun sudah ada catatan-catatan hadis yang ditulis oleh beberapa sahabat.

Karena pada masa Khulafaur Rasyidin disebabkan banyaknya masalah seperti timbulnya kelompok orang murtad dan timbulnya peperangan, sehingga banyak penghafal al-Quran. Oleh karena itu, Abu Bakar menfokuskan untuk membukukan Al-quran. Selain itu, banyaknya orang non arab masuk Islam yang tidak paham bahasa arab sehingga dikhawatirkan tidak bisa membedakan antara al-Quran dan hadis menjadi pertimbangan juga.

Sekalipun terdapat hadis Nabi yang membolehkan penulisannya dan sekalipun pada masa beliau sejumlah sahabat telah menulis hadis seizin beliau, para sahabat tetap menahan diri dari menuliskan hadis, sebab mereka sangat menginginkan keselamatan al-Qur’an dan al-Sunnah.

Masa pembukuan hadis dimulai sejak akhir abad 1 H tepatnya awal abad ke-2 H tepatnya pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Upaya pengumpulan dan pembukuan hadits dilakukan secara besar-besaran.

Pembukuan ini dilatar belakangi karena semakin luasnya wilayah Islam waktu itu, dan semakin banyak penghafal hadis yang meninggal dunia serta sudah terpencar di berbagai wilayah. Karena kekhawatiran hilangnya ajaran Nabi berupa hadis karena gugurnya banyak ulama, sahabat dan tabiin inilah beliau menginstruksikan kepada gubernur di seluruh wilayah Islam untuk menghimpun dan membukukan hadits.

Aktifitas penghimpunan dan pengkodifikasian hadis tersebar di berbagai negeri Islam pada abad ke 2 H di antranya ialah Abdullah bin Abdul Azis bin Jurajj (w. 150 H) di Mekkah, Ibnu Ishak (w. 151 H) di Mekkah, Abdurrahman Abu Amr Al-Auzai (w. 156 H) di Syiria, Sufyan Ats-Tsauri (w. 161 H) di Kufah, Imam Malik bin Anas (w. 179 H) di Madinah, Ar-Rabi’i bin Shabih (w. 160 H) di Bashrah dan lain-lain.

Umar bin Abdul Aziz hidup dalam suasana ilmiah, sebagai amirul mukminin ia tidak jauh dari ulama, ia menulis sebagian hadis serta memotivasi para ulama agar mereka berani melakukan hal yang sama.

Pada masa Tabi’ Tabi’in kejayaan kodifikasi hadis, periode ini masa yang paling sukses dalam pembukuan hadis, sebab pada masa ini ulama hadis telah berhasil memisahkan hadis Nabi dari yang bukan hadis nabi, dan juga berhasil menyaring dan mengklasifikasikan perkataan Nabi.

Hadis shahih dan tidak shahih dapat dikodifikasi dan ditata dengan rapih. Karena pada masa sebelumnya hadis telah dikumpulkan dan ditulis, sehingga dapat memudahkan para Tabi’ Tabi’in dalam memisahkannya. Ini terbukti dari yang pertama kali membukukan hadis shahih saja adalah al-Bukhari kemudian disusul Imam Muslim.

Pada masa setelah Thabi’ Thabi’in adalah masa dimana penghimpunan dan penertiban hadis dilakukan secara sistematik. Dimana penulisannya bereferensi pada buku-buku sebelumnya akan tetapi lebih sistematik, baik dari segi matan dan sanadnya untuk memudahkan bagi umat islam dalam mempelajarinya.

Dalam kegiatan pengkodifikasian hadis pada masa ini adalah dalam bentuk Mu’jam (ensiklopedi), shahih (himpunan shahih saja), mustadrak ( susulan shahih). Sunan, Al-jam’u (gabungan dua atau beberapa kitab hadits), ikhtishar (resume), istikhraj, dan syarah (ulasan).

Facebook Comments
Latest posts by Hamzia Marie (see all)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *