Press "Enter" to skip to content

Sejarah Perkembangan Ilmu Hadis: Dari abad ke-4 sampai Abad ke-20

Waktu Baca:3 Menit, 27 Detik

Imam al-Ramahurmuzy (wafat 369 H) atau disbut juga dengan bapak Ilmu Hadis yang hidup pada abad ke-4. Apakah sebelum Imam al-Ramahurmuzy hidup, ilmu hadis belum ada? Jawabnnya, sudah ada. Namun, istilah-istilah ilmu hadis belum teradministrasikan dalam bentuk buku tersendiri yang membahas tentang ilmu hadis. Beliau paham pentingnya ilmu hadis dan kemudian berijtihad untuk membuat suatu kitap yang bisa dijadikan rujukan untuk menvalidasi suatu hadis.

Istilah-istilah ilmu hadis kemudian disatukan dan dikodifikasikan dalam kitab bernama, “al-Muhaddis wal Fasil baina al-Rawi wa al-Wa’iy” oleh Imam al-Ramahurmuzy. Kitab ini berjumlah 1 jilid dan kitab ini juga merupakan buku pertama yang membahas tentang ilmu hadis pertama dalam sejarah Islam. Meskipun begitu, sebagaimana ada umunya ilmu di awal penemuannya sangat terbatas, sehingga belum selengkap seperti buku ilmu hadis di zaman sekarang.

Pada abad ke-5, hidup seorang muhaddis bernama al-Hakim an-Naysaburi (wafat 405 H). Beliau menulis kitab berjudul “Ma’rifatu fi Ulumil Hadis” yang juga membahas tentang ilmu mustalah al-hadis. Menurut Ibnu Hajar, tidak jauh berbeda dengan kitap Imam al-Ramahurmuzy, kitap inipun juga masih belum komprehensif, belum mencakup banyak kajian-kajian ilmu hadis secara luas.



Masih pada abad yang sama, terdapat ahli hadis bernama al-Khatib al-Baghdadi (wafat 463 H). Beliau menulis buku berjudul “al-Kifayah fi al-Ilmi al-Riwayah”. Tidak hanya mencakup ilmu hadis saja, beliau merupakan ulama yang produktif dan memiliki banyak kitab lain termasuk kitab hadis.

Kemudian di abad ke-7 lagir seorang alim dan ahli hadis bernama Ibnu Shalah (wafat 643 H), pengarang kitap “Mukaddimah fi Ulumi al-Hadis” atau dikenal dengan Muqaddimah Ibnu Shalah. Kitab ini terdiri dari satu jilid tebal yang cukup komprehensif membahas kajian ilmu hadis. Karya beliau ini merupakan salah satu karya yang menjadi rujukan ulama hadis kontemporer dan terus dikembangkan hingga saat ini.

Dan masih dalam masa yang sama, pengarang kitab Arbain al-Nawawi  juga menulus kitab berjudul “al-Taqrib” atau dikenal juga dengan kitab “al-Taqrib Imam al-Nawawi”. Kitap takrib ini merupakan kitap ringkasan dari kitap Muqaddimah Ibnu al-Shalah. Kitap ini terdiri dari 1 jilid saja dan tidak terlalu tebal.

Pada abad ke-9, Imam al-Iraqi (wafat 806 H) menulis kitab berjudul “Nadhmu al-Alfiyah” yang berisikan bait-bait syair tentang ilmu hadis. Kitab ini ditulis karena terinspirasi dari kitab Imam Ibnu Shalah. Kitab ini juga bisa disebut sebagai ringkasan Ibnu Shalah dalam bentuk bait-bait. Beliau juga menulis syarah dari kitap nadhamnya sendiri dengan judul “Fathu al-Mughits”. Dua kitap ini sangat populer di kalangan ulama hadis.



Masih pada abad yang sama terdapat muhaddis bernama Ibnu Hajar al-Asqalany (wafat 852 H). Ia merupakan ulama populer yang disebut sebagai al-hafiz (hafal lebih dari 100 ribu hadis). Beliau adalah ulama yang produktif menulis kitap. Karya tulis beliau tentang hadis, ilmu hadis dan syarah hadis cukup banyak. Salah satu kitap beliau bernama “Nuhbatul Fikir”, kitabnya ringkas dan tipis yang membahas masalah Ilmu Hadis yang kemudian beliau syarah lagi menjadi kitap “Nuzhatu al-Nazhor”. Salah satu kitab beliau yang populer dan masih dikaji di pesantren di Indonesia hingga saat ini adalah kitab “Bulughu al-Maram”.

Pada abad ke-10 hijriyah, terdapat muhaddis kharismatik bernama Imam al-Suyuti (wafat 911 H). Beliau menulis kitab bernama “Tadribu al-Rawi” yang merupakan syarah dari kitab “Takribu al-Nawawi”. Kitabnya tebal yang terdiri dari 2 jilid. Beliau memiliki banyak karya, baik dalam hadis, ilmu hadis dan diluar kedua kajian ini juga.

Selain muhaddis di atas, ada juga muhaddis mutaqaddimin asal Indonesia dalam bidang ilmu hadis. Salah satunya adalah Syaikh Mahmud at-Tirmasi. Adapun muhaddis yang paling banyak dipakai higga saat ini di Indonesia adalah kitab “Taisir al-Mustalah al-Hadis” karya Mahmud Thahhan (wafat 1935 M). Ada juga kitab “al-Manzumah al-Baiquniyah” yang berisikan 34 nazom istilah hadis. Untuk muhaddis kotemporer dari Indonesia sendiri bernama Dr. Lukmanul Hakim di Mesir. Beliau memiliki karya berjudul Imdadul “Mughits Bi tashili Ulumil Hadis” yang diterbitkan di Mesir. Beliau juga menulis kitap “Bulughul Ummiyah” yang merupakan syarah dari “al-Manzumah al-Baiquniyah” yang diterbitkan di Indonesia. Beliau masih hidup hingga saat ini.



Facebook Comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *