Press "Enter" to skip to content

Tahap Evolusi Literatur Hadis dalam Keilmuan Islam

Waktu Baca:3 Menit, 1 Detik

Intensitas hadis nabawi sebagai pedoman pokok kedua bagi umat Islam sepertinya tidak begitu mujur untuk diterima secara mutlak. Banyak ilmuwan kontemporer yang terus menangguhkan kritik terhadap autentisitas hadis. Tak pelik, para ilmuwan ini mempunyai background yang variatif, kebanyakan mereka yang mempermasalahkan keberadaan hadis adalah dari kaum orientalis. Sebut saja, Ignaz Goldziher (1850-1921), Joseph Scacht (1902-1969), GHA. Juynboll (1935-2010), dan lain-lain.

Keberadaan argumentasi para orientalis tentu amat meresahkan apabila tidak segera diluruskan atau dibantah, dan untungnya banyak pula ilmuwan yang peduli dengan realita ini. Mereka selain mempunyai misi untuk membela keberadaan hadis sebagai pijakan teologis, juga secara tidak langsung mengungkap fakta-fakta menarik dalam keilmuan Islam itu sendiri. Diantaranya adalah mengenai fase evolusi literatur hadis (di masa awal).

Fuat Sezgin (1924-2018), professor muslim berkebangsaan Turki yang fokus pada disiplin ilmu sejarah sains Arab-Islam, mengkaji lebih dalam mengenai historisitas kitab-kitab hadis klasik. Ia memfokuskan kritiknya pada klaim historis Goldziher tentang rekam jejak transmisi hadis di masa awal Islam.

Sezgin mengemukakan bahwa sejak abad pertama hijriah, para sahabat selain melakukan moda periwayatan secara lisan (sebagaimana banyak pendapat para ulama), meeka juga mantap dengan argumen bahwa periwayatan secara tulisan telah eksis saat itu. Kenyataan ini dibuktikan dengan temuan lembaran-lembaran hadis (shahifah)yang ditulis oleh generasi Islam awal. Shahifah ini kemudian direkonstruksi pada masa selanjutnya (abad ke-3 hijriah) menjadi kitab-kitab hadis masyhur (Shahih dan Musnad).

Pernyataan yang dilayangkan oleh Sezgin tidak terlepas dari pendapat Goldziher tentang pengakuannya terhadap shahifah Hadis. Goldziher memang membenarkan adanya lembaran hadis tersebut, namun ia bersikukuh bahwa shahifah tersebut hanyalah produk generasi Islam belakangan yang diciptakan untuk memberikan pembenaran terhadap fakta shahifah yang ada di masa awal. Goldziher memperjelas bahwa program tersebut hanya untuk melawan pihak-pihak yang menentang kepenulisan hadis seperti dirinya dan kebanyakan orientalis yang lain.

Akan tetapi, Fuat Sezgin kembali menguatkan pendapatnya bahwa terdapat rekonstruksi yang dibangun secara bertahap dalam perekaman jejak literatur hadis di masa awal. Ia mendasarkan argumentasinya pada laporan-laporan sumber seperti ‘Ilal (Ahmad bin Hanbal); Thabaqat (Ibn Sa’ad, 230 H); Tarikh (al-Bukhari, 256 H); Taqdimah (Ibn Abi Hatim, 327 H); Taqyid al Ilm (Khatib al-Baghdadi, 403 H); Jami’ al-Bayan (Ibn ‘Abd al-Barr, 463 H); dan lain-lain.

Secara spesifik Fuat Sezgin membagi masa evolusi literatur hadis menjadi tiga fase. Pertama, kitabah al-hadis. Selain hadis ditransmisikan dengan lisan, ia juga sangat yakin bahwa hadis juga sudah diabadikan dalam tulisan, yang disebut dengan shahifah. Kedua, tadwin al-hadis. Masa pengumpulan hadis yang masih berantakan pada kwartal terakhir abad pertama dan kwartal pertama abad kedua. Masa ini dimulai pada kekhalifahan ‘Umayyah (utamanya saat Khalifah Umar bin Abdul Aziz, 101 H) yang mengutus seperti Ibn Hazm (120 H) dan Ibn Syihab al-Zuhri (124 H). Era Tadwin menjadi sangat penting karena dianggap sebagai fase yang sudah matang dalam evolusi sanad dan penelitian jalur periwayatan hadis.

Ketiga, tashnif al-hadis. Adalah masa dimulainya penyusunan hadis secara sistematis menurut muatannya pada seperempat awal abad kedua (125 H). Proses historiografis pada era ini bercorak pada penyusunan kitab berdasar nama para sahabat (musnad) di tahun-tahun terakhir abad kedua hijriah. Sedangkan pada abad ketiga, kitab-kitab tersebut diedit dan ditulis oleh generasi selanjutnya, yangmana produk masa ini dikenal dengan canonical collection (koleksi kanonik).

Fuat Sezgin yakin bahwa ketiga masa tersebut saling terkoneksi secara progresif. Yakni masa kitabah al-hadis sebagai periode perekaman historis Nabi. Masa tadwin al-hadis sebagai era pengumpulan hadis-hadis yang dikhawatirkan hilang karena berserakan keberadaannya, sekaligus menjadi era pemantapan. Dan masa tashnif al-hadis yang menjadi masa strukturalisasi hadis pada tema maupun bahasan tertentu yang dimotori oleh para muhadditsun kala itu.



Facebook Comments

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *