Press "Enter" to skip to content

Time and Space dalam Dimensi Pemahaman Keagamaan

Salah satu kupasan menarik dalam upaya praktik dan pemahaman keagamaan adalah mengenai ruang dan waktu (time and space). Teori ini diperkenalkan oleh Anthony Giddens dalam bukunya The Constitution of Society. Dalam teori ini disebutkan bahwa ruang dan waktu merupakan dua unsur yang mempengaruhi bagaimana suatu praktik sosial terbentuk dan dilaksanakan. Giddens mengatakan (Zuhri dan Imron, 2015: 155):

space is not empty dimension along which social groups become structured, but has to be considered in terms of its involvement in the constitution of system of interaction (ruang bukanlah dimensi kosong di mana kelompok-kelompok sosial menjadi terstruktur, tetapi harus dipertimbangkan dalam hal keterlibatannya dalam konstitusi sistem interaksi)”.



Di sini, suatu praktik dilakukan oleh para aktor dengan dipengaruhi oleh ruang dan waktu ia hidup, yang mana praktik ini kemungkinan akan dilakukan secara berbeda oleh aktor yang berbeda ruang atau waktu. Banyak contoh dalam terkait teori ini, kita dapat melihatnya dari suatu praktik yang dilandasi oleh teks yang sama namun dipahami dan dikerjakan secara berbeda dalam sejarah perjalanan hidup manusia dari waktu ke waktu.

Atau kita bisa melihatnya dari contoh perilaku yang berbeda mengenai suatu praktik di tempat yang berbeda meski berada di waktu yang sama. Contohnya adalah mengenai minum atau makan dalam keadaan berdiri. Terdapat beberapa hadis dalam masalah ini yang dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu larangan makan dan minum berdiri dan kebolehan makan dan minum berdiri. Hadis-hadis mengenai larangan makan berdiri mendapatkan tempatnya dalam praktik keagamaan masyarakat, khususnya di daerah Jawa.  

Di daerah Jawa, makan dan minum dalam kondisi sedang berdiri dianggap sebagai suatu perilaku yang pamali. Sehingga, hadis yang lebih dikenal dan kemudian dipraktikan oleh masyarakat adalah hadis yang melarang makan atau minum berdiri. Di sisi lain, dengan anggapan bahwa perilaku tersebut adalah pamali, maka hadis yang menceritakan Nabi pernah makan dan minum ketika sedang berdiri menjadi tidak dikenal oleh masyarakat, atau bahkan banyak masyarakat yang tidak mengetahui keberadaan.

Di saat yang bersamaan, barangkali hadis-hadis mengenai makan berdiri dikenal juga oleh suatu masyarakat di daerah lain, sehingga apa yang disebut pamali oleh masyarakat Jawa, dianggap sebagai hal yang biasa dan bukan suatu masalah. Maka tak mengherankan jika kemudian terdapat suatu daerah yang menganggap minum berdiri adalah hal yang wajar. Ini menunjukkan bahwa suatu space (ruang) turut andil dalam pemahaman dan praktik keagamaan masyarakat.



Tak bisa kita pungkiri bahwa teks-teks normatif, al-Qur’an dan hadis dalam Islam misalnya, menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan individu. Teks-teks menjadi landasan bagi sebagian besar praktik yang dilakukan manusia, baik dalam ibadah mau pun dalam praktik sosial. Teks-teks tersebut adakalanya dipahami secara tekstualis, sehingga apa yang ada dalam teks, itulah yang dipraktikkan. 

Ini kemudian menjadi suatu masalah, bagi sebagian orang, tatkala pemahaman tekstualis tersebut tidak sesuai dengan tradisi masyarakat. Karena itu, banyak orang yang mencoba mencari sesuatu yang dapat melampaui (beyond) apa yang tertulis secara tekstual. Hasilnya mereka menemukan atau menyatakan bahwa apa yang seharusnya diambil daripada sekedar teks adalah nilai di balik suatu teks. 

Nilai-nilai itu kemudian menghasilkan pemahaman keagamaan yang berbeda dengan paham tekstualis. Sebagai contoh adalah masalah celana cingkrang dalam hadis. Bagi orang-orang tekstualis, celana atau sarung yang panjangnya melewati mata kaki adalah sesuatu yang tidak diperbolehkan. Hal ini berdasarkan pada sebuah hadis riwayat Ibnu Umar bahwa Rasulullah bersabda, “Allah tidak akan melihat orang yang memanjangkan pakaiannya karena sombong.” (HR. Muslim no. 3887).

Dalam hadis tersebut, yang menjadi titik tekan dan perhatian kaum tekstualis adalah frasa memanjangkan pakaian, sehingga, bagi mereka, berpakaian yang benar adalah dengan mengenakan pakaian yang panjannya tidak melewati mata kaki (karena dijelaskan di dalam hadis lainnya bahwa batas panjang yang dimaksud adalah kedua mata kaki). Sedangkan bagi mereka yang melihat nilai kandungan hadis, larangan tersebut disebabkan karena sombong. Sehingga, tidak mengapa mengenakan pakaian yang melewati mata kaki selama tidak bersikap sombong. 

Berbagai macam kelompok pemahaman inilah yang ada di masyarakat, khususnya di Indonesia. Banyak ormas yang ada di Indonesia berdiri karena ingin membedakan paham keagamaan mereka dengan yang lainnya. Salah satu ormas yang berpaham tekstualis adalah MMI (Majelis Mujahidin Indonesia). Di sisi lain, model pemahaman keagamaan yang menekankan nilai dari satu teks dapat kita lihat dari ormas NU di Indonesia.



Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *