Titik Peradaban Islam Pertama di Tanah Jawa Berada di Kota Wali, Demak

Terdapat banyak sekali teori yang menjelaskan tentang masuknya agama Islam pertama kali ke Indonesia. Teori-teori tersebut menjelaskan tentang masuknya Islam ke Indonesia melalui beberapa negara seperti teori Gujarat, teori yang berpendapat bahwa agama Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13 dan pembawanya berasal dari Gujarat, Cambay, India.

Teori kedua adalah teori Mekah, teori yang berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7 dengan pembawanya yang berasal dari Arab. Sedangkan teori Persia adalah teori yang berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13 dan dibawa oleh orang-orang Persia.

Dari sumber literatur Cina, Cheng Ho mencatat kerajaan yang bercorak Islam atau kesultanan pertama di Indonesia antara lain, Samudra Pasai dan Malaka yang tumbuh dan berkembang sejak abad ke-13 sampai abad ke-15. Berdasarkan catatan Tome Pires dalam Suma Oriental (1512-1515)dikatakan bahwa di Sumatra, terutama di sepanjang pesisir Selat Malaka dan pesisir Barat Sumatra terdapat banyak kerajaan lslam baik besar maupun kecil.

Islam sudah masuk ke Pulau Jawa, jauh sebelum bangsa Barat menjejakan kaki di Pulau Jawa. Banyak bukti sejarah yang mendukung pendapat ini. Bukti sejarah tentang awal mula kedatangan Islam di Pulau Jawa antara lain ialah ditemukannya makam Fatimah binti Maimun bin Hibatullah yang wafat tahun 475 H atau 1082 M di Desa Leran, Kecamatan Manyar, Gresik.

Para Ahli memperkirakan kerajaan Islam pertama di Jawa adalah Kerajaan Demak yang berdiri pada tahun 1500. Menjelang akhir abad ke-15 seiring dengan kemunduran Majapahit  beberapa daerah bawahan Majapahit memilih untuk memisahkan diri. Keruntuhan Majapahit terjadi pada tahun 1478. Hal ini ditandai dengan candrasengkala, Sirna Hilang Kertaning Bumi yang berarti memiliki angka 1400 Saka.

Baca juga: Ilusi Kebaruan dalam Wacana New Normal

Demak yang sebelumnya merupakan Kabupaten bawahan Majapahit muncul sebagai kekuatan baru yang mewarisi legitimasi kebesaran kerajaan Majapahit. Demak didirikan oleh keturunan Majapahit yang memeluk agama Islam bernama Raden Fatah yang dinobatkan oleh Wali Songo sebagai Sultan pertama di Pulau Jawa yaitu pada tahun 1478 M. Raden Fatah merupakan keturunan dari Majapahit ke 11 yaitu Raden Kerthabumi atau Prabu Brawijaya V. Raden Fattah bergelar Panembahan Jin Bun. Ia adalah keturunan raja terakhir Majapahit. Berdasarkan Babat Tanah Jawa, Raden Fattah lahir di Palembang ia kemudian hijrah ke tanah Jawa untuk menyebarkan agama Islam.

Raden Fatah kemudian membuka hutan Glagah Wangi untuk dijadikan pesantren  dan akhirnya berkembang menjadi Kerajaan Demak dengan dibantu dukungan oleh Para Wali. Beliau membentuk sebuah angkatan perang untuk menyerang Kerajaan Majapahit yang saat itu dipimpin oleh Raden Girindrawardhana. Raden Girindrawardhana adalah sesosok raja yang arogan dan sombong oleh karena itu untuk menyelamatkan umat dari kekejamannya, Raden Fatah akhirnya menyerang beliau.

Demak berasal dari bahasa Arab yang artinya rawa hal ini bisa jadi berkaitan dengan lokasi Kerajaan Demak yang konon merupakan tanah bekas rawa. Demak akhirnya menjadi kerajaan Islam pertama dan terbesar di Pulau Jawa . Serta tercatat sebagai pelopor penyebaran agama Islam khususnya di Pulau Jawa. Pada awal abad ke-16 Demak menjadi kerajaan terkuat di Pulau Jawa, tak ada satupun kerajaan di Pulau Jawa yang dapat menandingi kekuasaan Kerajaan Demak. Demak juga tumbuh menjadi kerajaan maritim-agraris karena letaknya dijalur perdagangan antara Malaka dan Maluku.

Demak dimasa Raden Fattah adalah pusat penyebaran Islam di Pulau Jawa, buktinya masih bisa dilihat pada bangunan sejarah yang hingga kini masih lestari yaitu Masjid Agung Demak. Masjid Agung Demak merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia. Didirikan Raden Fattah bersama Dewan Wali yang bentuknya menyerupai hewan bulus. Penggambaran hewan bulus menyiratkan angka tahun Sarira Sunyi Kiblating Gusti yang bermakna tahun 1401 Saka. Pada masa pemerintahan Raden Fatah, wilayah kekuasaan Kerajaan Demak cukup luas, meliputi Jepara, Sedayu, Palembang, dan beberapa daerah di Kalimantan. 

Raja kedua Demak adalah Pati Unus, beliau adalah sosok yang bercita-cita menjadikan Demak sebagai kerajaan  maritim yang besar. Pada masa kepemimpinannya ia beberapa kali mengirimkan armada Demak untuk menyerang Portugis di Malaka.

Pemimpin Demak selanjutnya adalah Sultan Trenggana. Pada masa kepempinannya Demak sukses merebut Pelabuhan Sunda Kelapa. Sayang, tak lama setelah wafatnya Sultan Trenggana kejayaan Demak kian memudar akibat konflik keluarga karena perebutan tahta. Kraton Demak akhirnya hancur, sisa-sisa reruntuhannya kemudian di hancurkan kembali oleh pemerintah Belanda untuk dimanfaatkan sebagai landasan antara Anyer-Panarukan.

Keberasilan Raden Fattah tak bisa dipisahkan oleh campur tangan Para Wali.  Salah satunya yaitu Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga lahir pada tahun 1450 dengan nama Raden Said. Ia adalah putra Adipati Tuban yang bergelar Tumenggung Wilatikta. Pada masa kecil Raden Said menjadi perampok dengan membagi-bagikan hasil rampokannya kepada orang miskin.

Perjumpaan Raden Said dengan Sunan Bonang merubah jalan hidupnya, ia kemudian dikenal sebagai Sunan Kalijaga. Dalam berdakwah Sunan Kalijaga sangat toleran kepada budaya lokal. Ia memilih kesenian dan budaya sebagai sarana dalam menyebarkan agama Islam. Menurut Sunan Kalijaga, rakyat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Mereka harus didekati secara bertahap untuk mengikuti sambil mempengaruhi. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, seni suara yang disebut suluk sebagai sarana dakwah.

Masjid Agung Demak memiliki bangunan induk dan serambi. Bangunan induk memiliki empat tiang utama yang disebut Saka Guru. Saka Guru terbuat dari kayu jati dengan tinggi 17 meter. Konon katanya tiang utama dan atap sirab masjid adalah hasil karya Para Wali yaitu Sunan Ampel, Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga.

Bangunan serambi dibuat terbuka, atapnya berbentuk limas ditopang 8 tiang yang disebut Saka Majapahit, delapan saka ukir ini merupakan hasil kemenangan Raden Fatah pada saat memerangi Raden Girindrawardhana yang dulu merupakan penopang Kerajaan Majapahit. Atap limas masjid terdiri dari tiga bagian yang menggambarkan Iman, Islam, Ikhsan.

Avatar

Vera Dewi Nazarina

Penulis adalah pelajar SMA N 1 Demak

Artikel Menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *