Toleransi Sebagai Solusi Menghindari Konflik

Dalam film India yang berjudul “Bajrangi Bhaijaan”, dikisahkan seorang pemuda India hendak menemani seorang anak kecil, perempuan berumur enam tahun yang berasal dari Pakistan pulang ke negaranya. Sebagaimana diketahui dalam film tersebut menceritakan konflik antara India dan Pakistan yang diangkat dari kisah nyata. Bahkan, konflik tersebut masih terjadi sampai sekarang di daerah Kashmir, wilayah perbatasan India dan Pakistan.

Tulisan sederhana ini tidak hendak membahas penyebab konflik tersebut. Justru aksi kemanusiaan yang dilakukan oleh pemuda India patut diapresiasi. Ia seorang Hindu dengan terbuka menolong anak kecil yang notabene seorang Muslim. Hal ini menunjukkan bahwa terlepas dari perbedaan keyakinan mereka, pemuda tersebut dengan tulus mengulurkan bantuan tanpa pandang bulu.

Perjalanan yang mereka tempuh hingga sampai pada orang tua anak kecil tersebut, tidak semudah yang dibayangkan. Walaupun aksi kemanusian yang dilakukan oleh pemuda itu merupakan suatu kebajikan. Mereka ditolak di Kedutaan Pakistan karena anak tersebut tidak memiliki paspor. Sehingga pemuda itu mengambil inisiatif untuk melalui jalur tersembunyi di padang pasir. Bahkan, mereka harus menempuh perjalanan puluhan kilometer untuk sampai di pagar perbatasan antara India dan Pakistan.

Setelah berhasil melewati pagar yang dilapisi listrik, mereka dihadang petugas penjaga yang mengira mereka mata-mata India. Meskipun akhirnya mereka dilepaskan untuk pergi mencari orang tua anak kecil tersebut, namun disini kita bisa melihat bahwa tidak selalu kebaikan yang kita lakukan tampak seperti kebaikan di mata orang lain. Hal ini disebabkan karena konflik yang sedang terjadi antara kedua negara tersebut. Konflik menghadirkan rasa kecurigaan antar warga negara.

Satu sisi memilih jalur gelap melewati pagar listrik merupakan suatu kesalahan, namun di sisi lain pemerintah juga tidak peduli terhadap mereka karena anak kecil tersebut tidak memiliki paspor sebagai tanda warga Pakistan. Sebelum melewati pagar listrik, mereka telah menemui pemerintah India terlebih dahulu, menjelaskan masalah yang mereka hadapi, mendiskusikan kedala yang mereka dapatkan, namun pemerintah tetap bersikeras tidak mengizinkan. Di sini kita tidak bisa menyalahkan salah satu pihak saja, mereka atau pemerintah. Tapi jikalau harus membenarkan, maka kedua-keduanya sama-sama benar. Sekiranya tidak berlebihan jikalau dikatakan bahwa perdamaian adalah solusi untuk sebuah konflik. Solusi untuk saling mengerti dan saling memahami antara warga negara.

Perdamaian akan dapat dicapai melalui toleransi. Toleransi yang menghargai satu sama lain dan saling menerima perbedaan pendapat. Kita tidak bisa berbicara tentang toleransi selama konflik masih saja terjadi. Kita tidak bisa berbicara tentang ketenangan dan keamanan warga negara selama kecurigaan masih saja merajalela.

Kita bisa berkaca pada beberapa tokoh bangsa di antaranya, K. H. Ahmad Dahlan, pendiri organisasi Islam Muhammadiyah. Beliau merupakan sosok yang toleransi, terbuka, saling menerima perbedaan pendapat, dan juga menghargai antar umat beragama. Selain itu kita juga bias berkaca pada  K. H. Hasyim Asy’ari, pendiri organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU). Beliau juga merupakan sosok yang sangat toleransi terhadap sesama umat beragama maupun antar umat beragama.  Nurcholis Madjid berpendapat bahwa pemikiran K. H. Hasyim Asy’ari lebih menunjukkan kepada sebuah kesadaran di antara masyarakat Muslim untuk menghormati eksistensi masyarakat lain. Bahkan Howard M. Federspiel, guru besar di McGill University Montreal Kanada, menilai Kiyai Hasyim bukan merupakan sosok ulama yang menolak perubahan (Mukani, 2019: 122-123).

Di kota kelahiran saya, Sungai Penuh, Provinsi Jambi. Minoritas Kristen adalah orang-orang yang beruntung. Mengapa tidak, karena bisa hidup rukun dengan mayoritas penganut agama Islam. Sampai sekarang tidak ada data yang menyebutkan bahwa di Sungai Penuh pernah terjadi konflik antar umat beragama. Meskipun Sungai Penuh tidak masuk dalam kategori 10 besar, Indeks Kota Toleran (IKT) yang dilansir oleh Setara Institute. Namun dalam hal kerukunan kota ini juga patut menjadi contoh.

Buktinya, ketika natalan, umat Kristen datang ke Panti Muslim untuk berbagi dalam momentum perayaan hari raya mereka. Tentunya menerima hadiah dari orang berbeda agama tidak dilarang dalam Islam. Hal senada juga pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW ketika menerima hadiah dari wanita Yahudi. Bahkan dalam perayaan natalan mereka, berlangsung dengan aman dan tidak ada gangguan dari agama lain.

Begitu juga dengan dialog yang diadakan oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FUKB) yang bertempat di kawasan umat Islam. Penganut agama Kristen juga datang menghadirinya. Di mana dialog antar agama ini bukan bertujuan untuk berdebat atau beradu argumentasi antar umat beragama, hingga ada yang menang dan kalah. Dialog ini bukan juga suatu bentuk meminta pertanggungjawaban kepada penganut agama dalam menjalankan ibadah kepada Tuhannya. Tapi untuk menghilangkan berbagai kecurigaan, kesalahpahaman dan mengupayakan adanya keterbukaan antar umat beragama yang terdapat di Sungai Penuh.

Mayoritas Islam di Sungai Penuh bisa dijadikan contoh yang menarik, karena menurut sensus Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan, 99% masyarakat Kota Sungai Penuh memeluk agama Islam, namun dalam praktek kehidupan sehari-hari penganut agama Islam tidak pernah merasa paling berkuasa karena paling banyak jumlahnya.

Maka tidak berlebihan jika mengajarkan masyarakat Sungai Penuh tentang tolerasi, seperti mengajarkan itik berenang, atau bak menggarami air laut. Toleransi di kota ini memang sudah lama dipraktikkan. Maka tidak heran konflik antar umat beragama tidak pernah terjadi. Hal ini tentunya dapat menjadi bantahan bagi faham yang mengatakan kalau Islam yang mayoritas, maka umat Islam akan menjadi Islam radikal, tentunya tidak seperti itu. Mindset yang demikian itu, tidak lain hanya dimiliki bagi mereka yang ingin memecah belah dan juga untuk menciptakan konflik antar umat beragama.

Melalui tulisan ini, saya tidak mengatakan bahwa mayoritas sudah pasti toleran. Minoritas pun bisa juga toleran, mayoritas juga sangat mungkin intoleran. Disini saya menyarankan sekiranya mayoritas tidak merasa paling berkuasa sehingga memaksakan kehendak dan juga minoritas harus tahu diri supaya selalu menghormati. Dengan begitu diharapakan dapat terciptanya kedamaian dan kerukuranan antar umat beragama serta terhindar dari konflik. Semoga. Karena mencegah lebih baik dari pada mengatasi.

"Wala tamutunna illa wa antum katibun" - Janganlah engkau mati sebelum menjadi seorang penulis.

Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub
Buka WhatsApp
1
Assalamualaikum. Ada yang bisa kami bantu? silahkan chat melalui whatsapp ini. Terima Kasih.