Tranformasi Perbankan Syariah di Era New Normal

Pemerintah sudah mulai menerapkan sistem new normal akibat pandemi Covid-19 yang menimpa Indonesia. Era new normal telah membuat pola kehidupan sosial, masyarakat, dan ekonomi mengalami perubahan dengan semakin meningkatnya kewaspadaan yang mengharuskan menjaga jarak fisik dalam berinteraksi. Namun, di sisi lain, kepedulian dalam membantu sesama semakin meningkat terutama dalam permasalahan ekonomi.

Perkembangan Bank Syariah merupakan salah satu sektor yang termasuk terkena dampak adanya pandemi kondisi ini berdampak pada restrukturisasi pembiayaan, pertumbuhan pembiayaan yang menurun hingga masalah likuiditas. Adanya masalah yang serius jika hal-hal tersebut tidak ditangani serius oleh sektor Perbankan khususnya Perbankan Syariah. Pertumbuhan aset perbankan syariah saat ini sebesar 14,32% yang ditopang oleh pertumbuhan Pembiayaan Yang Disalurkan (PYD) dan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang masing-masing mengalami pertumbuhan sebesar 8,68% dan 15,58%. Dengan demikian PYD dan DPK perbankan syariah masing-masing mencapai Rp384,65 triliun dan Rp460,51 triliun pada September 2020. 

Perbankan syariah harus memiliki daya saing yang tinggi dan berperan lebih nyata pada perekonomian nasional dan pembangunan sosial di Indonesia. Perbankan syariah Indonesia diharapkan menjadi perbankan yang terdepan dalam menjalankan layanan keuangan yang berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) dan juga menerapkan prinsip Creating Shared Value (CSV) yang sejatinya merupakan esensi dasar dari penerapan Maqashid Syariah dalam ekonomi syariah.



Proses merger bank syariah di Indonesia yang dilakukan saat pandemi ini melibatkan merger 3 bank syariah BUMN yakni Bank Syariah Mandiri, Bank BRI Syariah dan BNI Syariah. Dengan Aset Rp 214,6 triliun dan modal inti Rp 20,4 triliun. BSI ditargetkan akan menjadi bank syariah nomor 10 terbesar di dunia. Jumlah tersebut menempatkan bank hasil merger tersebut masuk dalam daftar 10 besar bank terbesar di tanah air dari sisi aset sekaligus menjadi Top 10 bank syariah terbesar di dunia dari sisi kapitalisasi pasar. Selain itu, Bank Syariah Indonesia memiliki 1.200 kantor cabang yang tersebar di seluruh Indonesia. Kantor cabang ketiga bank syariah indonesia diharapkan bisa mendorong pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) serta ditargetkan pengumpulan DPK harus bisa melampaui pencapaian dari bank konvensional. 

Merger tersebut bertujuan agar Indonesia memiliki bank syariah yang kuat, professional, efisien dan bisa memenuhi kebutuhan industri halal di Indonesia. Selain itu, merger juga diharapkan bisa meningkatkan kapasitas lembaga keuangan Syariah, diantaranya efisiensi melalui digitalisasi, diferensiasi produk keuangan sesuai dengan keunikan yang dimilikinya, dan peningkatan service excellent kepada nasabah dan pada akhirnya adalah penguatan permodalan nasabah konsumer dan UMKM. Tantangan dari merger nya BSI yaitu dari segi integrasi budaya, keselarasan integritas operasional, SOP serta harus mampu menggabungkan antara jaringan, sumber daya manusia dan sistem teknologi yang lebih unggul demi mencapai tujuan terbentuknya BSI tersebut.

Menurut Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah, Erick Thohir 4 strategi utama untuk mewujudkan masyarakat ekonomi Syariah di Indonesia yakni melalui penguatan rantai nilai halal, penguatan keuangan Syariah, penguatan UKM dan penguatan digital. Dengan hadirnya bank syariah Indonesia diharapkan menjadi pelopor pergerakan ekonomi syariah di Indonesia melihat peluang potensi industri halal mencapai Rp 4.800 triluin yang belum diselesaikan dengan optimal oleh perbankan syariah.

Menurut OJK upaya untuk melakukan transformasi perbankan syariah juga dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: memiliki keunikan model bisnis/produk yang berdaya saing tinggi, mengoptimalkan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah, mengintegrasikan fungsi keuangan komersial dan sosial, SDM berkualitas dan TI yang mutakhir. dalam masa pandemi Covid-19, Bank Syariah masih memiliki peluang untuk tumbuh. Hal tersebut terlihat dari daya tahan industri keuangan syariah yang masih bisa tumbuh dua digit di akhir 2020 lalu. Pada pertumbuhan ekonomi pada akhir tahun 2020 lalu, potensi bank syariah bertahan di masa pandemi masih tergolong besar. Sehingga memungkinkan pada 2021 bank syariah masih mampu melalui kendala pandemi yang sedang terjadi. 

Menerapkan prinsip syariah tidak hanya berdampak pada bank syariah secara individual tetapi juga risiko reputasi perbankan syariah secara industri. Kebijakan pengawasan yang lebih memperhatikan risiko kepatuhan syariah perlu ditingkatkan agar risiko reputasi industri perbankan syariah tetap terjaga dengan baik.

OJK akan mendorong perbankan syariah untuk terus menciptakan produk baru yang memiliki ke-khas-an syariah sebagai bentuk diferensiasi model bisnis perbankan syariah di industri perbankan. Produk perbankan syariah yang unik, unggul, dan tidak dapat diterapkan pada perbankan konvensional merupakan suatu keunggulan yang harus dimanfaatkan oleh perbankan syariah. Paradigma pengembangan produk yang inovatif dan kreatif merupakan salah satu faktor penting yang harus dimiliki oleh pelaku industri maupun regulator untuk menciptakan produk yang unik sehingga dapat menjadi pilihan utama masyarakat. Mendorong Pengembangan Produk yang dapat Memberikan Nilai Tambah kepada Nasabah Dengan mendorong pengembangan kelengkapan fitur produk bank syariah agar dapat berorientasi kepada kebutuhan dan life cycle nasabah, diharapkan perbankan syariah dapat menjadi pilihan bagi semua nasabah untuk berbagai kebutuhan.

Pada era digitalisasi dan dominansi milenial, dibutuhkan ide baru yang kreatif. Diharapkan bank syariah bisa menjaring ide-ide tersebut melalui kompetisi inovasi berbasis aplikasi maupun business matching dengan start-up berbasis teknologi.



Angeliya Mega Melisa

Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Ekonomi Islam Universitas Gadjah Mada

Artikel Menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *