Urgensi Pemahaman Hadis Menggunakan Ilmu Sosial

Hadis merupakan salah satu peninggalan rekam jejak Nabi Muhammad saw. berupa perkataan, perbuatan dan ketetapan. Nabi menyampaikan hadis kepada sahabat mengenai beberapa permasalahan dalam al-Quran yang tidak bisa dipahami oleh beberapa dari mereka. Oleh karena itu, hadis juga disebut sebagai penjelas atas al-Quran sehingga ia dapat dikatakan sebagai hukum kedua setelah al-Quran.

Ilmu tentang hadis berkembang dengan sangat pesat sejak masa sahabat hingga saat ini. Pada awalnya, hadis hanya diketahui oleh beberapa orang saja sehingga sulit untuk mengetahui hukum sebuah permasalahan yang tidak ada di dalam al-Quran. Namun belakangan ini hadis sudah dibukukan sehingga lebih mudah mengetahui sebuah hukum yang kita cari. Seiring perkembangan zaman, agar hadis tidak hanya menjadi arkeolog pasif dan berhenti pada kritik matan dan sanadnya saja, penulis menganggap perlu adanya upaya pembongkaran makna di balik suatu hadis yang dikolaborasikan dengan pendekatan sosial historis.

Hal ini dianggap perlu oleh penulis karena Nabi Muhammad sebagai pusat hadis, pada saat itu tidak hanya berperan sebagai seorang Nabi, tetapi juga bersentuhan dengan aktivitas-aktivitas sosial. Itu artinya tidak menutup kemungkinan Nabi mengeluarkan hadis tidak hanya sebagai penjelas firman Allah yang tidak bisa dipahami oleh beberapa sahabat, melainkan sebagai jawaban atas permasalahan sosial pada saat itu yang tidak ada di dalam al-Quran. Selain itu, pendekatan sosial historis sanagat diperlukan dalam pemahaman suatu hadis lantaran kondisi sosial historis masa Nabi sangatlah berbeda jauh dengan kondisi sosial historis masa sekarang.

Alasan pendekatan ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi dan sejarah sangat penting dalam penggalian makna suatu hadis adalah karena kajian sosial atau sosiologi merupakan kajian yang terkait dengan semua aktivitas masyarakat, serta mencoba mengungkap hubungan agama dengan gejala sosial dan non sosial seperti ekonomi, politik, kondisi geografis, dan sebagainya. Sedangkan pendekatan sejarah merupakan kajian mengenai sejarah nabi atau Sirah Nabawiyah. Melalui kedua keilmuan ini, barulah bisa diketahui kondisi sosial pada masa Nabi Muhammad yang kemudian akan dibandingkan dengan kondisi sosial era sekarang. Tujuannya adalah agar bisa mengetahui latar belakang munculnya suatu hadis serta bisa memahami dan menerapkannya di era sekarang.

Contoh konkret dari penjelasan di atas adalah hadis dalam al-Jami’ Shahih nomor 386 tentang sikap Rasulullah yang melepaskan sandal ketika ada najis di sandalnya dan sahabat mengikuti tindakan beliau. Namun setelah shalat, Rasulullah malah menegur sahabat dengan tindakan mereka yang mengikuti Rasulullah. Rasulullah menyuruh kepada sahabat untuk tetap memakai sandal asal tidak ada najis. Dengan kata lain, hadis tersebut menjelaskan tentang diperbolehkannya memakai sandal ketika sholat di masjid dengan syarat tidak ada najis di sandal. Disinilah peran ilmu sosial berperan dalam pembongkaran makna diblaik hadis tersebut. Setelah diteliti ternyata masjid pada zaman Nabi berbeda jauh dengan masjid era sekarang. Masjid zaman Nabi sangatlah sederhana, yakni masih belum tertutup atau belum berbentuk bangunan. Jika dimisalkan dengan zaman sekarang, masjid zaman Nabi bentuknya seperti lapangan yang hanya terdiri dari tanah yang lapang dan masih banyak orang yang berlalu lalang.Bahkan lantainya pun masih belum dikramik seperti sekarang. Hal tersebut sangatlah berbeda dengan masjid zaman sekarang yang memiliki penampilan dan kesan yang mewah dan tanahnya pun sudah dikeramik sehingga sandal harus taruh di luar masjid atau rak sandal yang disediakan masjid.

Itulah salah contoh hadis serta pembongkaran makna dibaliknya dengan menggunakan ilmu sosial. Dan contoh di atas merupakan hasil dari pemaknaan hadis secara kontekstual. Pemaknaan hadis secara kontekstual bukan berarti menolak hadis seacara tekstual atau melenceng dari isi hadis, akan tetapi pemahaman dengan cara menafsirkan kembali suatu hadis akibat adanya perbedaan baik dari segi sosial, kebiasaan, ataupun geografis masa Nabi pada saat itu dengan era sekarang. Karenanya Ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi, antropologi, sejarah, dan geografi memiliki peran penting dalam merealisasikan hal tersebut. Itulah mengapa Ilmu-Ilmu sosial sangat urgen dalam pemaknaan, namun tak lupa dengan didahului dengan pemahaman teks hadis secara tekstual terlebih dahulu.

Kesimpulannya, diperlukan adanya pemaknaan hadis secara kontekstual dengan mengintegrasikannya dengan ilmu-ilmu sosial agar hadis bisa tetap relevan dengan perkembagan zaman. Namun tidak lupa harus didahului dengan pemahaman secara tekstual terlebih dahulu.

Laula Wardatus Sholehah

Penulis adalah mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Artikel Menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *