Press "Enter" to skip to content

Wanita Tidak Boleh Menjadi Pemimpin: Kajian Sosio-Antropologi

Waktu Baca:3 Menit, 44 Detik

Hadis merupakan sumber rujukan ke dua setelah Quran dalam Islam. Hadis berisi perkataan, perbuatan atau ketetapan Nabi Muhammad yang membahas beberapa petunjuk dan ajaran Islam. Hadis juga merupakan penjelas dari Quran yang masih bersifat global. Maka dengan adanya Hadis, kita dapat memahami kandungan yang ada di dalamnya secara komprehensif. Isi dari Hadis Nabi biasanya ada yang berupa perintah atau larangan mengenai suatu hal. Contohnya seperti Larangan menjadikan seorang wanita sebagai pemimpin.

Tentu bukan tanpa alasan kenapa Nabi melarang wanita menjadi pemimpin. Oleh karena itu, sebagai akademisi kita perlu kiranya membahas hal ini. Karena dalam pandangan sebagian orang pada saat ini, terutama oleh para pejuang keseteraan gender, hadis ini dianggap tidak adil seolah-olah mendiskriminasi kaum wanita. Maka dalam tulisan ini penulis akan membahas masalah ini menggunakan perspektif sosio-antropologi.

Menggunakan perspektif sosio-antropologi dalam memahami hadits tentang kepemimpinan perempuan berarti kita  mencoba mengetahui adakah hal yang melatar belakangi hadis ini muncul. Di samping itu, kita juga perlu menelisik kondisi masyarakat seperti apa yang mengakibatkan hadis ini ada sehingga kita dapat mengatahui apa yang dikehendaki Nabi. Dan untuk mengatahui latar belakang hadis tersebut perlu dilihat asbabul wurud atau sebab hadis itu, serta perlu juga untuk ditelaah mengenai sejarah hadis tentang Larangan Kepemimpinan Wanita.

Hadis tersebut memiliki arti sebagai berikut:”Suatu kaum itu tidak akan bahagia apabila menyerahkan kepemimpinan mereka kepada wanita”. Apabila kita memahami hadis ini secara tekstual maka kita langsung dapat menyimpulkan bahwa hadis ini jelas melarang kaum wanita menjadi pemimpin. Namun bagi sebagian orang hadist ini dianggap tidak adil apabila dipahami dengan pemahaman seperti itu. Asbabul wurud dari hadis ini adalah bahwa ada seorang sahabat Nabi yang baru pulang dari wilayah kerajaan Kisra dan di Kerajaan tersebut sedang terjadi kekecauan sehingga keadaan ketika itu menuntut  untuk menjadikan anak perempuan raja satu-satunya sebagai pemimpin kerajaan. Apalagi usia anak perempuannya saat itu masih 9 tahun.

Dari kondisi ini kita dapat mengetahui alasan Nabi mengatakan hal tersebut dalam hadisnya. Secara logika pun suatu kerajaan yang dipimpin oleh seorang wanita berusia 9 tahun tentunya tidak akan beruntung karena dipimipin oleh seorang anak-anak ditambah lagi kondisi kebudayaan masyarakat Arab ketika itu tentang  peran perempuan sangatlah domestik, dimana perempuan dituntut untuk bekerja di rumah dan urusan kepemimpinan serta urusan luar rumah diserahkan kepada laki-laki. Dengan demikian dapat disimpulkan hadis tersebut ada karena berkaitan dengan kondisi kebudayaan masyarakat ketika itu.

Namun apakah kondisi kebudayaan Masyarakat pada saat ini sama dengan kondisi kebudayaan ketika itu? Tentu jawabannya tidak. Sekarang ini sudah tidak ada lagi penghalang antara laki-laki dan wanita untuk bersaing terutama dalam masalah kepemimpinan. Karena pada realitanya ada wanita yang berhasil dalam memimpin. Kita bisa lihat kondisi kebudayaan masyarakat di Indonesia yang sangat memperhatikan kesetaraan dimana antara laki-laki dan perempuan tidak begitu dibatasi dalam urusan sosial dan politik sehingga wanita pun bisa dan berhak menjadi seorang pemimpin karena yang dilihat itu adalah kualitas dari individu tersebut bukan laki-laki atau perempuan.

Indonesia memiliki pemimpin wanita yang dapat dikatakan bagus kualitasnya. Contohnya ialah Walikota Surabaya, Ibu Tri Rismaharini yang sukses memimpin Surabaya sebagai Ibukota dari Provinsi Jawa Timur. Beliau merupakan walikota yang dapat dikatan sangat berprestasi karena dapat mengatur masyarakat Surabaya dengan tertib. Beliau juga dikenal sebagai walikota perempuan paling tegas yang tidak segan menegur secara langsung rakyatnya yang melakukan kesalahan. Di samping itu, beliau terkadang melakukan sidak dadakan ke beberapa instansi pemerintahan di wilayahnya. Bahkan beliau juga pernah diundang ke Turki untuk menghadiri penyerahan penghargaan dari Presiden Turki Recep Tayyib Erdogan. Hal ini jelas menunjukan kaum wanita mampu menjadi pemimpin

Maka alasan Nabi melarang wanita menjadi pemimpin adalah disebabkan karena kondisi  masyarakat Arab ketika itu yang tidak memungkinkan seorang perempuan menjadi pemimpin, sehingga pada saat ini kita bisa memahami hadist tersebut sesuai dengan kondisi masayarakat di era modern. Sebab saat ini sudah tidak ada alasan bagi wanita dan laki-laki untuk tidak bersaing dalam masalah sosil atapun politik. Karena pada prinsipnya yang penting dalam kepemimpinan adalah masalah kualitas, bukan jenis kelamin ataupun sebagainya. Karena realita yang terjadi pada saat ini adalah wanita mampu untuk memimpin.

Dengan demikian maka penting sekali bagi kita semua untuk bisa memahami hadis dengan baik dan benar dengan selalu memperhatikan aspek-aspek yang terkait dengan hadis tersebut dan juga harus mencoba menggunakan perspektif lain dalam memahami hadis Nabi. Diantaranya ialah dengan menggunakan perspektif sosiologi-antropologi yang dapat memudahkan kita memahami hadis secara komprehensif. Kita juga bisa mengamalkan hadis Nabi tersebut dengan selalu melihat dan menyesuaikan dengan kondisi pada saat ini sehingga Islam bisa berjalan beriringan dengan adanya perubahan zaman.

Facebook Comments
Latest posts by Muhammad Ibrahim Al Faqih (see all)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *