Wujud Akulturasi Budaya dan Keagamaan di Kota Kudus

Masyarakat Indonesia memiliki kultur ramah-tamah yang membuat berbagai kebudayaan asing begitu mudah masuk dan berkembang di Indonesia. Hal ini bisa kita lihat dari misalnya model bangunan, tari-tarian, adat istiadat sampai perilaku manusia yang ada didalamnya. Dari bangunan dan budaya yang ditinggalkan oleh orang terdahulu, dapat diketahui bahwa orang-orang pada zaman dahulu sering melakukan difusi baik berupa kebudayaan maupun yang lain, yang selanjutnya menimbulkan akulturasi di berbagai daerah yang ada di Indonesia. Kunci dari adanya kebudayaan baru di Indonesia adalah komunikasi yang berlangsung terus menerus di berbagai urusan seperti berdagang, berdakwah sampai menjajah.

Berbicara mengenai adat budaya dan keagamaan di Indonesia, kita harus mengetahui latarbelakang tentang kebudayaan tersebut. Dalam cerita masyarakat tak jarang kita ketahui tentang suatu budaya yang lahir dari penggabungan budaya satu dan budaya lain tanpa menghilangkan unsur kebudayaan lama, atau biasanya disebut dengan akulturasi. Akulturasi ini sendiri biasanya terjadi karena adanya kontak sosial, baik itu individu atau kelompok yang dimana masing-masing dari individu atau kelompok ini membawa suatu kebudayaan. Dampak yang diakibatkan dari bertemunya kedua kebudayaan ini biasanya menimbulkan sedikit perubahan terhadap individu atau kelompok tertentu,  bisa berupa perubahan sikap dan perilaku masyarakat yang lambat laun perilaku tersebut menjadi kebiasaan.

Akulturasi kebudayaan di Indonesia bertahan dengan kuat semenjak kemunculannya hingga saat ini. Hal tersebut memakan waktu yang cukup lama, karena secara sadar atau tidaknya budaya asing yang datang atau budaya asli yang ada saling menyesuaikan atau beradaptasi antara satu dengan yang lainnya. Dalam kehidupan nyata, kontak sosial antara kedua kebudayaan ini pastilah terjadi. Sebab manusia sendiri adalah makhluk sosial yang membutuhkan satu sama lain. Apalagi sekarang adalah zaman dengan penuh teknologi. Jadi, mustahil apabila manusia tidak mendapat info atau kabar tertentu dari daerah lain.

Kontak sosial inilah biasanya yang melatarbelakangi timbulnya akulturasi budaya di berbagai tempat. Apalagi konteksnya di Indonesia yang dikenal dengan budayanya yang beragam, tak jarang juga budaya yang lahir di Indonesia tercipta dari perpaduan antara budaya satu dan budaya lainnya. Terlahirnya hal ini tak dapat dipisahkan dengan proses penyebaran kebudayaan tertentu atau sering disebut dengan istilah difusi. Setiap orang atau kelompok tertentu memiliki kebiasaan sendiri-sendiri. Pertemuan inilah yang biasanya akan menimbulkan suatu hal yang berakibat kepada perilaku individu atau kelompok tertentu, bisa saja hal yang ditimbulkan bisa juga berupa kesenian atau hal hal lain.

Baca juga: Pancasila dan Islam dalam Kacamata Sejarah

Kudus adalah salah satu kota kecil yang mengalami berbagai akulturasi budaya, hal ini bisa dilihat dari segi bangunan keagamaan, seni berpakaian adat istiadat dan bahkan cara hidup dari orang kudus. Ditambah dengan cerita masyarakat sekitar dan beberapa peninggalan yang ada, hal ini semakin memperkuat akan adanya transformasi kebudayaan. Dulu orang kudus yang notabennya adalah orang-orang Hindu yang suka berdagang, tak menutup kemungkinan bahwa orang-orang kudus bersosial dengan berbagai elemen masyarakat.

Di sinilah terjadi yang namanya proses difusi atau penyebaran kebudayaan atau hal lain. Contohnya adalah ikon Kota Kudus, yaitu sebuah bangunan menara kudus yang lahir dari perpadauan antara agama Islam dan agama Hindu. Desainnya memiliki corak agama Hindu tapi tetap mempunyai karakteristik Islam. Hal menarik lainnya yaitu pelarangan penyembelihan sapi di daerah kudus karena saat itu dakwah Islam sangat menghargai agama Hindu yang mengagungkan sapi sebagai hewan yang suci. dan terjadilah kebiasaan yang menjadi budaya sampai sekarang untuk tidak menyembelih sapi pada saat hari raya idul adha.

Dari perpaduan antara hindu yang merupakan agama pribumi dan Islam sebagai agama asing yang datang mengakibatkan berbagai perubahan yang signifikan terhadap keduanya. Akulturasi ini tak dapat dipungkiri dan mustahil untuk dihindari apabila kedua agama yang saling hidup berdampingan tidak melakukan kontak sosial. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi adalah salah satu sebab yang melatarbelakangi terjadinya akulturasi budaya. Proses difusi yang tak bisa dihindari tak hanya berpengaruh kepada perilaku sosial, namun juga berpengaruh terhadap praktek keagamaan. Contohnya adalah kemenyan yang masih digunakan hingga saat ini untuk wewangian dalam acara tertentu dalam Islam seperti pembacaan maulid Nabi, tahlilan dan praktek keagamaan lainnya.

Hal ini melekat pada  masyarakat kudus dan sekitarnya, kepercayaan terhadap animisme dan dinamisme juga mempengaruhi dalam praktek keagamaan. Dalam realitanya hal ini memang masih dipercayai masyarakat sekitar terutama orang jawa asli, akulturasi budaya yang dihasilkan pun beragam. Faktor lain yang menjadi sebab terlahirnya budaya baru adalah adanya sunan kudus pada waktu itu yang sering berdakwah dengan menggunakan pendekatan sosial. Hal ini dapat dilihat dari situs-situs peninggalan yang ada di kudus.

Dari keterangan di atas dapat diketahui bahwa cukup banyak peninggalan-peninggalan budaya di Kota Kudus yang merupakan hasil dari akulturasi terhadap berbagai budaya asing, yang tentnya memberi keunikan tersendiri bagi tradisi keislaman masyarakat yang hidup di dalamnya.

Buka Chat
1
Assalamualaikum. Ada yang bisa kami bantu? silahkan chat melalui whatsapp ini. Terima Kasih.