Press "Enter" to skip to content

Zikir Saman: Tradisi Unik Santri Pondok Pesantren Qomaruddin dan Masyarakat di Desa Bungah

Kemunculan pondok pesantren tidak dapat dilepaskan dari peran masyarakat yang hidup di sekitarnya. Pondok pesantren yang memiliki ciri khas dan tradisi tersendiri ini tumbuh dan berkembang di dalam kehidupan bermasyarakat. Masyarakat Desa Bungah, Kabupaten Gresik, Jawa Timur bisa dibilang merupakan masyarakat tradisional yang memiliki budaya dan tradisi yang sangat kental, terutama dalam keyakinan dan praktik-praktik keagamaan. Hal ini dikarenakan banyaknya pesantren yang tumbuh dan berkembang di Desa Bungah, sehingga dapat mempengaruhi gaya hidup religius masyarakat di sana.

Sebagai sebuah lembaga keagamaan, pondok pesantren memiliki peranan yang sangat penting. Namun, pondok pesantren tidak hanya bersifat keagamaan belaka, tetapi juga bersifat kultural dan bersifat sosial ekonomis (Wahid, 2001). Oleh karena itu tata nilai yang dikembangkan dan dipraktikkan dalam lingkungan luar pesantren menjadikan masyarakat secara luas mendapat pengaruh kuat dari pesantren.

Tradisi merupakan warisan dari kehidupan penduduk asli yang meliputi nilai-nilai budaya, norma-norma, hukum dan aturan yang saling berkaitan. Tradisi sebagai sistem kepercayaan yang bersifat turun menurun ini selalu dijaga dan dilestarikan, sehingga dapat memperkuat ikatan sosial dimana tradisi itu tumbuh dan berkembang. Selain itu, tradisi juga mengandung nilai budaya dan agama yang berguna bagi pelaku tradisi maupun bagi masyarakat luas. Tradisi, adat istiadat, budaya dan ritual keagamaan memiliki bentuk yang berbeda-beda. Di Desa Bungah, berbagai kegiatan adat atau tradisi keagamaan rutin diadakan setiap tahunnya seperti Haul Akbar, Maulid Nabi dan Ziarah ke makam-makam wali di desa setempat setiap hari tertentu.



Fokus tradisi ritual dalam penelitian ini menekankan kepada tradisi yang sangat menarik untuk dikaji lebih dalam, yaitu tradisi Zikir Saman yang diadakan rutin setiap tahunnya di Pondok Pesantren Qomaruddin Sampurnan Bungah Gresik. Tradisi Zikir Saman yang biasa diselenggarakan pada malam ke-29 Ramadhan atau pada akhir bulan Ramadhan, bertepatan dengan diadakannya malam kontes bandeng di kota Gresik.

Zikir Samanini diprakarsai oleh KH. Ismail dan besan beliau, KH. Musthofa (pengasuh PP. Tarbiyatut Tholabah Kranji). Konon, mereka memperoleh sanad amalan Zikir Saman dari Syaikhona Kholil, pada saat menimba ilmu di Pondok Pesantren Kademangan Bangkalan Madura. Latar belakang dari diadakannya Zikir Saman yaitu untuk mengisi waktu senggang pada sepertiga bulan suci Ramadhan, yaitu pada malam 21 Ramadhan. Namun, pada zaman KH. Sholeh terjadi perubahan waktu pelaksanaan Zikir Saman yaitu pada malam sebelum Hari Raya Idul Fitri, dengan tujuan ingin mengakhiri bulan suci Ramadhan dengan memperbanyak zikir dan mendekatkan diri kepada Allah. Menurut KH. Nawawi Sholih, tujuan diadakannya Zikir Saman pada malam akhir bulan Ramadhan yaitu sebagai upaya agar semangat Ramadhan tidak hilang hanya karena ikut terseret dengan euphoria malam Pasar Bandeng Gresik. Oleh karena itu, akan lebih bermanfaat jika bulan yang penuh berkah ini diakhiri dengan mengikuti majelis zikir secara khidmat.

Menurut KH. Abdul Kholiq, tradisi Zikir Samandi Pondok Pesantren Qomaruddin bermula sejak tahun 1902 (sekitar awal abad ke 20-an) pada awal masa kepengasuhan KH. Ismail. Pada saat itu Zikir Saman dibawa oleh Mbah Ismail dan Mbah Musthofa Kranji. Hingga kini Zikir Samandi Sampurnan menjadi suatu tradisi turun menurun dari para pendahulu yang harus dijaga dan dilestarikan keberadaannya. Tradisi Zikir Samanini bukan semata-mata ritual saja, tetapi tradisi ini juga memiliki keterikatan antara sistem kepercayaan, sistem pengetahuan dan praktik-praktik nilai kehidupan sebagai ekspresi dari masyarakat Desa Bungah dalam memaknai dan menghargai arti lingkungan bagi kelangsungan hidup bersama.



Zikir Saman juga disebut “ذكر بالتغني” (zikir dengan lagu-lagu atau nasyid) dan termasuk zikir Tarekat Mu’tabaroh, yang mana merupakan salah satu dari 50 tarekat dalam NU. Ada pendapat lain bahwa asal usul dari nama Zikir Saman itu adalah karena jumlah zikirnya ada delapan (Arab : tsamaniyah). Disebut zikir Saman juga karena zikirnya yang serba samar/rahasia. Disini “Saman”  tidak ada hubungannya dengan Aceh yang terkenal dengan budaya tarian Samannya.

Adapun bacaan yang dibaca dalam Zikir Saman ini berbeda dengan bacaan zikir-zikir pada umumnya. Pelafalannya pun dilakukan dengan kompak dan beraturan sesuai dengan dinamika arahan pemimpin zikir Saman, serta pembacaannya pun dilakukan dengan posisi berdiri. Zikir Samandi Sampurnan ini berbeda dengan Zikir Saman di daerah lainnya yang disertai dengan adanya tarian-tarian khusus. Di Sampurnan, Zikir Saman berlangsung tanpa ada tarian-tarian. Namun, Zikir Samandi Sampurnan ini memiliki keunikan tersendiri yaitu ketika prosesi zikir berlangsung, seluruh cahaya yang berada disekitar area pondok pesantren baik di luar maupun di dalam ruangan harus dimatikan secara total sehingga tidak ada penerangan sedikitpun dengan tujuan agar seseorang senantiasa berzikir secara khidmat, khusyu’, dan mendapatkan faedah ketenangan hati.

Untuk menambah keberkahan Zikir Saman,biasanya diawali dengan sedikit ceramah agama yang disampaikan sebelum pelaksanaan zikir. Seusai zikir, biasanya diedarkan ‘ambengan’. Tidak ada perbedaan yang terlihat antara kalangan santri, kiai, alumni, maupun masyarakat setempat. Semua terlihat guyub, rukun dan gotong royong. Di sini terdapat sebuah simbol ikatan sosial antara keluarga ndalem dan masyarakat kampung sekitar.

Menurut Quraish Shihab, Majelis zikir sendiri merupakan tempat yang paling bersih, mulia, bermanfaat dan tinggi derajatnya, merupakan tempat yang paling bernilai dan agung menurut Allah (Shihab, 2005). Zikir sendiri adalah bentuk wujud kegiatan keagamaan yang diyakini banyak masyarakat muslim, yang pada akhirnya menjadi sebuah rutinitas ritual yang dipadukan dengan tradisi-tradisi setempat pada momen-momen tertentu. Hal inilah yang terlihat pada kegiatan-kegiatan religius desa Bungah terutama pada tradisi Zikir Saman, yang sampai saat ini masih dijaga kelestariannya di Pondok Pesantren Qomaruddin Sampurnan Bungah Gresik.

Dalam perwujudannya, tradisi ini mengandung berbagai unsur yang memiliki kaitan erat dengan tata kehidupan masyarakat seperti dalam suatu sistem nilai, pengetahuan, sejarah, hukum, adat istiadat, kedudukan sosial, serta sistem kepercayaan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa masyarakat menjadi sebuah sistem sosial yang memiliki tatanan yang saling bergantung satu dengan lainnya. Dengan adanya saling ketergantungan anatara bagian-bagian ini dapat saling mendukung satu dengan yang lain sehingga tercipta suatu sistem tatanan yang utuh.



(foto: https://www.qomaruddin.com/artikel/dzikir-saman-sampurnan.html)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *